IPB University Ajak 35 Mahasiswa dari Berbagai Negara Eksplorasi Laut Wakatobi, Pelajari Terumbu Karang hingga Kehidupan Masy

pantau.com
1 jam lalu
Cover Berita

Pantau - IPB University mengajak 35 mahasiswa dari berbagai negara untuk mengeksplorasi ekosistem laut Wakatobi, Sulawesi Tenggara, melalui program Kursus Musim Panas Internasional Ke-6 tentang Ekologi Laut Tropis yang menggabungkan pembelajaran akademik, penelitian lapangan, dan pengenalan kehidupan masyarakat pesisir.

Kegiatan tersebut diselenggarakan Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, dengan melibatkan mahasiswa Indonesia dan peserta internasional.

Koordinator program Dea Fauzia Lestari mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memperdalam pemahaman peserta mengenai ekologi laut tropis dan hubungan antarekosistem pesisir.

Dalam program tersebut, mahasiswa mempelajari keterkaitan ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang di wilayah kepulauan kecil yang termasuk kawasan Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle.

Pembelajaran dilakukan melalui perpaduan teori akademik dan pengamatan langsung terhadap kondisi lingkungan laut Wakatobi.

Sebanyak 24 Mahasiswa Internasional dan 11 Mahasiswa IPB Ikuti Program

Program Kursus Musim Panas Internasional Ke-6 tentang Ekologi Laut Tropis melibatkan 35 mahasiswa yang berasal dari sejumlah negara.

Sebanyak 24 peserta merupakan mahasiswa internasional, sedangkan 11 peserta lainnya berasal dari IPB University.

Dari jumlah peserta internasional tersebut, sebanyak 15 mahasiswa berasal dari Victoria University of Wellington (VUW), Selandia Baru.

Selain itu, terdapat lima mahasiswa dari China dan empat mahasiswa internasional yang sedang menempuh pendidikan di IPB University.

Seluruh peserta mengikuti kegiatan kolaboratif untuk mempelajari karakteristik ekosistem laut tropis di kawasan Wakatobi.

Program ini juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan dan negara.

Mahasiswa Lakukan Survei Bawah Laut dan Penilaian Ekosistem Pesisir

Dea menjelaskan bahwa kegiatan lapangan menjadi bagian penting dalam pembelajaran karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengamati langsung kondisi ekosistem laut.

Peserta mengikuti survei bawah laut, penilaian kesehatan ekosistem pesisir, dan pengamatan keanekaragaman hayati di sejumlah lokasi.

"Program ini memadukan teori akademik dengan pengalaman lapangan secara langsung. Peserta mengikuti survei bawah laut, penilaian kesehatan ekosistem pesisir, serta interaksi dengan masyarakat Bajau di Sampela untuk memahami tata kelola kelautan dan keberlanjutan lingkungan,” kata Dea dalam keterangannya di Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026).

Kegiatan lapangan dipusatkan di Pulau Hoga dan wilayah sekitarnya yang memiliki beragam ekosistem pesisir dan laut.

Para mahasiswa mempraktikkan teknik pengamatan bawah laut melalui kegiatan selam permukaan atau snorkeling.

Mereka juga mempelajari metode penilaian cepat keanekaragaman hayati untuk mengenali kondisi ekosistem yang diamati.

Peserta Pelajari Kehidupan Masyarakat Bajau di Sampela

Selain melakukan penelitian ekosistem laut, mahasiswa berinteraksi dengan masyarakat Bajau di Sampela, Wakatobi.

Interaksi tersebut bertujuan memberikan pemahaman mengenai hubungan masyarakat pesisir dengan lingkungan laut yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Peserta juga mempelajari tata kelola sumber daya kelautan serta berbagai tantangan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayah kepulauan.

Kegiatan tersebut memberikan pengalaman mengenai kehidupan masyarakat yang tinggal di kawasan pulau kecil dengan kondisi sumber daya terbatas.

Selama menjalani program, mahasiswa turut mempraktikkan penghematan penggunaan air tawar sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi pulau terpencil.

Keterbatasan pasokan listrik juga menjadi bagian dari pengalaman lapangan yang dihadapi para peserta selama kegiatan berlangsung.

Pakar Internasional Dampingi Penelitian Ekosistem Laut Wakatobi

Selama kegiatan di Pulau Hoga dan kawasan sekitarnya, mahasiswa mendapatkan pendampingan dari sejumlah akademisi dan praktisi kelautan.

Para pendamping tersebut meliputi Profesor James Bell dari Victoria University of Wellington dan Mo Johnson dari Operation Wallacea.

Dari IPB University, kegiatan didampingi oleh Dr Beginer Subhan dan Dr Dondy Arafat.

Kehadiran para pakar tersebut mendukung pembelajaran mengenai teknik penelitian bawah laut, penilaian ekosistem, dan pengamatan keanekaragaman hayati.

Program ini juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman penelitian langsung dengan pendekatan akademik internasional.

IPB dan Victoria University Sepakati Program Rutin Setiap Dua Tahun

Pelaksanaan kursus musim panas internasional tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan kerja sama antara IPB University dan Victoria University of Wellington.

Salah satu kesepakatannya adalah penyelenggaraan program kursus musim panas secara rutin setiap dua tahun di Wakatobi.

Mahasiswa yang berhasil menyelesaikan seluruh kurikulum program berhak memperoleh pengakuan akademik sebanyak empat satuan kredit semester (SKS).

Jumlah tersebut setara dengan 140 jam pembelajaran yang mencakup kegiatan akademik dan praktik lapangan.

Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University Dr Syamsul Bahri Agus mengapresiasi keberhasilan penyelenggaraan program tersebut.

Ia menekankan bahwa kegiatan internasional tersebut memiliki peran dalam memperkuat posisi IPB University dalam jaringan penelitian dan pendidikan kelautan global.

Melalui keberlanjutan program setiap dua tahun, IPB University dan mitra internasional diharapkan dapat terus mengembangkan kerja sama pendidikan serta penelitian ekosistem laut tropis di Wakatobi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRI Super League: PSIM Terjebak di Zona Degradasi, Elemen Tim Sepakat Akhiri Tren Buruk di Markas Isenmulang FC
• 8 menit lalubola.com
thumb
Wakil Ketua Kadin Nilai Target Ekonomi 6% pada 2027 Terlalu Optimistis
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
Tiga Desa di Lereng Gunung Merbabu Terdampak Karhutla
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wajib Halal Diundur 2028, MUI Minta Masyarakat Tetap Beli dan Konsumsi Produk Berlabel Halal
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
KPK Sita Rp 250 Juta dari PCNU Nias, Diduga Terkait Muktamar NU
• 16 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.