Kenali Titik Kritis Kehalalan Produk Fashion dan Wastra

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri tekstil menyimpan proses manufaktur yang dinilai berpotensi rawan bersinggungan dengan bahan nonhalal. Penggunaan berbagai bahan kimia pembantu serta zat aditif tak kasat mata menjadi simpul kritis yang memerlukan perhatian khusus dalam sertifikasi halal barang gunaan.

Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Zya Labiba mengatakan sertifikasi halal produk fashion dan wastra juga berkaitan dengan upaya memperkuat industri kreatif dan memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). "Dalam perkembangannya, penguatan aspek halal dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, memperkuat tata kelola usaha, dan membuka peluang akses pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional," kata Zya dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (22/10/2026).

Baca Juga
  • Menengok Penyembelihan Rumah Pemotongan Hewan di Jakarta, Sudahkah Bersertifikasi Halal?
  • Ombudsman Buka Posko Pengaduan Daring untuk Awasi Penerbitan Sertifikat Halal
  • Wajib Halal Diundur Hingga 2028, Waketum MUI Minta Warga Tetap Konsumsi Produk Berlabel Halal

Kepastian halal produk fashion dan wastra harus ditelusuri sepanjang rantai nilai, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pengemasan akhir. Menurut Zya, bahan baku, bahan tambahan, dan fasilitas produksi yang bersentuhan langsung dengan produk perlu dipastikan memenuhi persyaratan kehalalan.

la mengungkapkan lima titik kritis yang perlu diperhatikan pelaku usaha. Pertama, penggunaan bahan hewani seperti kulit, bulu, dan tulang. Kedua, bahan kimia pembantu proses, antara lain kanji sizing, enzim desizing, surfaktan scouring, pelembut, dan malam batik yang berpotensi mengandung lemak hewan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

"Ketiga, penggunaan mesin atau kuas secara bersama. Keempat, proses produksi melalui pihak ketiga atau maklon. Kelima, potensi kontaminasi silang selama penyimpanan dan transportasi," kata Zya.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Modus Pengiriman Penyelundupan 73.000 Benih Lobster di Depok Terbongkar, Bedakan Packing Perjalanan Darat dan Udara
• 52 menit lalutvonenews.com
thumb
IHSG Hijau Usai Presiden RI Bilang tidak Takut Diancam MSCI
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Jakarta Naik Peringkat Kota Global, Ini Catatan di Sektor Ekonomi dan Lingkungan
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Bareskrim Bongkar Dugaan Kecurangan Beras Fortifikasi, 12 Saksi Diperiksa
• 12 jam lalujpnn.com
thumb
8 Warga Sulsel Nyaris Jadi Korban TPPO ke Malaysia, Diminta Setor Rp12 Juta dan Dijanji Gaji Tinggi
• 2 menit laluharianfajar
Berhasil disimpan.