Melindungi Pelaku UMKM Difabel Lansia dari Jebakan Pinjaman Ilegal di Pelosok NTT

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Dengan bantuan tongkat, Viktor Sanak (72) berjalan sambil menenteng dua buah kelapa. Dalam balutan suhu sejuk pegunungan, kakek yang salah satu kakinya buntung itu berjalan menuju rumah produksi minyak kelapa murni di sebuah perkampungan terpencil di pelosok Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.

Rumah produksi itu bernama Nekmese. Lokasinya di Desa Faenake, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara. Dari Kota Kupang, lokasi itu berjarak sekitar 210 kilometer. Adapun dari garis batas negara Indonesia-Timor Leste, rumah produksi itu berjarak lebih kurang 8 kilometer.

Sabtu (10/10/2026) pagi itu, Viktor dan semua anggota kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tersebut datang menyetor kelapa sebagai bahan baku. Masing-masing orang wajib membawa paling sedikit dua buah kelapa tua untuk diolah menjadi minyak kelapa murni (VCO).

"Au bua ulael noaheben, me feka mape'o," ujar Viktor dalam bahasa Dawan, bahasa daerah yang digunakan masyarakat Suku Timor. Artinya, dua buah kelapa itu sudah dikupas tempurungnya. Kelapa sudah bersih, tinggal dibelah, lalu diparut.

Dari tangan 40 orang, terkumpul 100 buah kelapa. Mereka lalu berbagi peran. Sebagian memarut kelapa menggunakan mesin, sebagian menyiapkan wadah, dan ada yang menjerang air. Parutan kelapa kemudian dicampur air panas sebanyak 20 liter, lalu didiamkan selama lebih kurang 30 menit.

Sambil menunggu pemisahan air dan minyak, dengan dipimpin Albina Suni (43), beberapa ibu menyiapkan wadah penampung dan tisu penyaring di dalam ruangan produksi. Mereka menggunakan celemek dan tudung penutup kepala. "Ini giliran kami ibu-ibu. Bapak-bapak sudah kupas dan parut kelapa," kata Albina.

Baca JugaUMKM Sulit Naik Kelas

Proses penyaringan berlangsung selama hampir satu minggu. Sebanyak 100 buah kelapa itu dapat menghasilkan hingga 50 botol VCO dalam kemasan 100 milimeter. Setelah dikemas dan diberi label, VCO Nekmese siap dipasarkan.

Lebih dari separuh anggota kelompok UMKM Nekmese adalah perempuan. Banyak di antara mereka tergolong lanjut usia dan masuk kategori difabel dengan berbagai keterbatasan. Hampir semua masuk daftar penerima bantuan sosial dari pemerintah sebagai keluarga miskin.

Menurut Albina, pengolahan VCO membawa kelapa petani lokal naik kelas dan bernilai ekonomi lebih tinggi. Kelapa tua biasanya dijual dengan harga Rp 1.000 kepada sesama warga kampung atau pengepul. Artinya, jika dijual, harga 100 buah kelapa untuk bahan baku VCO itu hanya Rp 100.000.

Kini, setelah diolah, diperoleh 100 botol VCO. Harga satu botol VCO Rp 35.000. Dengan demikian, total harga 100 botol VCO adalah Rp 3.500.000. Jika dihitung, terjadi kenaikan nilai tambah hingga 35 kali lipat. "Nilai tambah yang sebelumnya tidak pernah kami pahami," ujar Albina.

Literasi keuangan

Hasil penjualan VCO itu dimasukkan ke kas kelompok dan selebihnya dikelola bersama untuk pengembangan usaha. Mereka membuat pembukuan untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan. Tata kelola keuangan dipelajari pada awal pembentukan kelompok tahun lalu. Kini, modal kelompok itu sekitar Rp 10 juta.

Pengolahan VCO oleh UMKM Nekmese hadir berkat pendampingan dari Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri, sebuah lembaga nonpemerintah yang berbasis di Timor Barat. John Mangu Ladjar, direktur lembaga tersebut, mengatakan, VCO menjadi jembatan kesejahteraan.

Melihat potensi kelapa di kampung itu, John dan tim membuat pelatihan pengolahan VCO. Tak hanya itu, mereka mendirikan rumah produksi, mendatangkan peralatan, serta membuka akses pasar. VCO dijual hingga ke Timor Leste lewat pasar di Pos Lintas Batas Negara Napan.

John mengatakan, setelah produksi dan akses pasar dibuka, tantangan berikutnya adalah menajemen keuangan. Oleh karena itu, anggota kelompok dilatih untuk mencatat keuangan secara disiplin. Tahap selanjutnya adalah mendorong akses modal dari lembaga keuangan resmi. Mereka pun belajar dari petunjuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca JugaUKM Mencoba Peruntungan Ekspor di Tengah Tekanan Harga Domestik

Dari sana juga mereka memahami cara memilih pinjaman legal yang diakui OJK. Saat ini, di daerah itu banyak pelaku UMKM yang terjebak pinjaman ilegal. Mereka diperdayai oleh pemberi pinjaman dengan bunga pinjaman yang mencapai 20 persen. Kebanyakan korban adalah lansia difabel.

"Kelompok lansia difabel terbatas informasi. Jadi penting sekali literasi keuangan bagi mereka di pedalaman. Banyak orang miskin jadi korban. Mereka sampai jual tanah dan harta benda mereka untuk menembus pinjaman," kata John yang selama lebih dari 30 tahun terlibat program pemberdayaan di Pulau Timor.

John pun meyakini, kelompok UMKM Nekmese akan melahirkan pelaku UMKM yang tangguh dan memahami literasi keuangan. Ke depan, mereka juga diharapkan bisa mendirikan usaha sendiri. Modal dapat diakses lewat jalur kredit usaha rakyat (KUR). Dengan begitu, mereka bisa mendapat pinjaman Rp 10 juta tanpa harus menyerahkan agunan.

Kepala OJK Provinsi NTT Yan Jimmy Hendrik Simarmata mengatakan, pihaknya gencar melakukan sosialisasi mengenai literasi keuangan bagi UMKM sejak awal tahun ini. Salah satu wilayah yang didatangi adalah Timor Tengah Utara, tempat UMKM Nekmese berada.

Baca JugaEkonomi Lesu, UMKM Sei Om Bai di Kupang Tetap Ngepul

Menurut Yan, kesejahteraan UMKM juga ditentukan oleh literasi keuangan. "Jangan sampai keuntungan digunakan untuk pengeluaran seperti pesta. Keuntungan itu untuk memperbesar modal usaha," katanya.

Ia juga mengingatkan tentang pinjaman ilegal berbunga tinggi dan investasi bodong. Banyak masyarakat tergiur dan pada akhirnya menjadi korban. Kendati kasus semacam itu sudah sering terjadi, masih saja ada yang tertipu. Tak ada data resmi jumlah korban penipuan di NTT, namun kasus semacam itu sering mencuat ke publik.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan, peluang bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha sangat terbuka lebar. Dia pun mendorong UMKM untuk memanfaatkan KUR. Pada tahun ini, target penyerapan KUR di NTT mencapai Rp 3 triliun.

"Saya sudah bicara dengan pemerintah pusat, kalau alokasi KUR kurang, bisa ditambah lagi. Silahkan pinjam dan majukan usaha, kelola uang dengan bijak," kata Melkiades.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi NTT, jumlah pelaku UMKM di provinsi itu mendekati 370.000 orang. Tak ada data resmi jumlah pelaku UMKM dari kalangan lansia difabel. Namun, mereka harus terus didorong untuk produktif dan paham terhadap literasi keuangan seperti kelompok UMKM Nekmese di pedalaman Timor.

Kelompok lansia difabel terbatas informasi. Jadi penting sekali literasi keuangan bagi mereka di pedalaman


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Saya Hanya Katakan Kepada MSCI, Bangsa Indonesia Tidak Takut
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Bidik 2 Prajurit TNI Aktif di Kasus Korupsi BNPB
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Nama FF Spasi Kosong Pendek 2026, Bisa Copy Paste dan Cara Membuatnya
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
2 Mobil dan Puluhan Ternak di Jakbar Hangus Terbakar
• 3 menit laludetik.com
thumb
DJP Jatim I Perkuat Ekosistem UMKM, Dorong Legalitas hingga Sertifikasi Halal
• 2 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.