Rupiah Dibuka Melemah, Sentuh Rp 18.070 per Dolar AS

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (23/10). Melansir data spot Bloomberg, kurs pagi ini dibuka Rp 18.070 per US$. 

Posisi itu menunjukkan pelemahan rupiah sebesar 10 poin atau 0,06% dari penutupan Kamis (22/10) sore. Pada akhir perdagangan kemarin, nilai tukar mata uang nasional berada di level Rp 18.060 per US$. 

Analis Doo Financial, Lukman Leong menilai tertahannya nilai tukar rupiah ini masih disebabkan oleh sentimen di pasar ekuitas domestik. “Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya sentimen risk off global oleh kekhawatiran AI, eskalasi geopolitik di Timur Tengah, dan memburuknya kondisi fiskal di Prancis,” kata Lukman, saat dihubungi, Jumat (23/10). 

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, sebelumnya mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah. Selain karena eskalasi ketegangan geopolitik yang belum surut serta arah kebijakan moneter AS, sentimen investor asing di pasar modal indonesia yang sempat bergejolak juga disebutnya jadi penyebab rupiah keok. 

“Perkembangan ini dipengaruhi serta oleh sentimen investor asing di pasar saham,” kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Jakarta, Rabu (21/10).

Dia menuturkan, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang nasional dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter. Upaya di dalamnya termasuk memperkuat kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas atau puva. 

“Insentif tersebut tidak hanya diberikan untuk instrumen swap dan DNDF beli lindung nilai konvensional kepada Bank Indonesia, tapi juga untuk transaksi local currency transaction dengan negara mitra, sehingga imbal hasil aset rupiah menjadi tetap menarik,” katanya.

Dia menuturkan, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang nasional dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter, termasuk memperkuat kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas atau puva. 

“Insentif tersebut tidak hanya diberikan untuk instrumen swap dan DNDF beli lindung nilai konvensional kepada Bank Indonesia, tapi juga untuk transaksi local currency transaction dengan negara mitra, sehingga imbal hasil aset rupiah menjadi tetap menarik,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Ungkap 5 IUP Tambang Punya Cadangan Rp5.400 Triliun
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Green SM Buka-bukaan soal Pendapatan Driver, Sehari Bisa Rp 400 Ribu
• 27 menit laluviva.co.id
thumb
Hasil French Open 2026: Amri/Nita Amankan Tiket Perempat Final usai Menang Straight Game dari Wakil Chinese Taipei
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Kuasa Hukum Dokter Tifa Sebut JPU Tak Berencana Hadirkan Jokowi, Bakal Lapor ke Komisi Kejaksaan
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Menkes sebut kasus ISPA harian imbas karhutla turun ke sekitar 3.000
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.