JAKARTA, DISWAY.ID - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dilaporkan terbawa menuju sirkulasi Topan Champi di kawasan Pasifik barat.
Pergerakan polutan ini menjadi sorotan karena partikel aerosol yang berpotensi mempengaruhi pembentukan awan dan intensitas hujan.
Meski demikian, sejauh ini dampak dari polutan yang bergerak menuju Topan Champi belum dapat dipastikan.
BACA JUGA:Anggota Wantimpres Jonan Heran Singapura-Malaysia Baru Kritik Karhutla
Polutan yang bergerak menuju Topan Champi ini terpantau melalui visual atmosfer yang memperlihatkan sebaran karbon monoksida (CO) dari wilayah Indonesia menuju ke arah utara.
Melansir dari akun X @BackpirchCrew, visual animasi pemantauan dari Widy itu memperlihatkan konsentrasi CO di kawasan Indonesia dan pergerakannya menuju sistem sirkulasi Topan Champi.
Akun tersebut mejelaskan polutan CO dari karhutla di Indonesia tertarik dalam sirkulasi badai tropis tersebut.
Unggahan tersebut kemudian mendapat respons dari ilmuwan BRIN, Prof. Erma Yulihastin, yang membahas potensi pengaruh polusi akibat karhutla terhadap proses pembentukan hujan.
"Polutan CO dari Karhutla Indonesia tersedot ke Taifun Champi. Apa efeknya? Salah satunya bisa meningkatkan intensitas hujan karena aerosol tersebut bakal jadi inti kondensasi awan" tulis keterangannya dikutip Jumat, 23 Oktober 2026.
BACA JUGA:Karhutla Tak Cukup Dipadamkan, Aktivis Minta Pelaku Diburu hingga ke Korporasi
Asap yang dihasilkan dari karhutla membawa sejumlah zat ke atmosfer, di antaranya karbon monoksida dan partikel aerosol.
Dengan bantuan pergerakan angin, kedua komponen tersebut dapat menyebar hingga ke wilayah yang jauh dari titik kebakaran.
Meski demikian, pengaruhnya terhadap kondisi atmosfer berbeda-beda.
NASA melalui artikel Aerosols: Tiny Particles, Big Impact menjelaskan bahwa aerosol dari asap kebakaran dapat berperan sebagai inti kondensasi awan.
Partikel-partikel kecil ini menjadi tempat bagi uap air untuk berkumpul dan mengembun hingga membentuk butiran air.
- 1
- 2
- »





