CEO Arfadia Sebut 77% Bisnis yang Disurvei Belum Punya Strategi GEO

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Arfadia Digital Indonesia, agensi pemasaran digital melakukan survei dan menemukan bahwa sebanyak 77% bisnis di Indonesia yang disurvei belum memiliki strategi formal untuk meningkatkan visibilitas merek di mesin pencari berbasis kecerdasan buatan (AI). Padahal, 73% responden mengaku meningkatkan anggaran optimasi mesin pencari atau search engine optimization (SEO) pada 2025-2026.

Founder dan CEO PT Arfadia Digital Indonesia Tessar Napitupulu menjelaskan bahwa temuan tersebut berasal dari survei terhadap 127 bisnis pada Januari-Februari 2026.

"Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan antara investasi SEO dan kesiapan perusahaan menghadapi perubahan cara konsumen mencari informasi melalui layanan AI," jelas dia dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (23/10/2026).

Di sisi lain, dalam laporan State of SEO in Indonesia 2026, Arfadia mencatat hanya 23% responden yang memiliki strategi formal Generative Engine Optimization (GEO). GEO merupakan upaya meningkatkan peluang sebuah merek ditemukan, dikutip, atau direkomendasikan oleh layanan AI seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan Claude.

Arfadia juga melaporkan responden dengan strategi GEO formal mencatat rata-rata kutipan AI bulanan 3,4 kali lebih banyak dibandingkan responden yang belum memiliki strategi tersebut. Namun, angka itu berasal dari survei dan pengukuran internal perusahaan sehingga belum dapat dijadikan bukti penerapan GEO secara langsung menyebabkan peningkatan kutipan AI.

Perubahan strategi pencarian digital berlangsung seiring dengan masuknya fitur AI ke layanan yang digunakan masyarakat. Pada 9 September 2025, Google memperkenalkan AI Mode dalam bahasa Indonesia dengan dukungan Gemini 2.5 untuk membantu pengguna memperoleh jawaban komprehensif atas pertanyaan kompleks, disertai tautan ke sumber web.

Riset yang dipublikasikan dalam konferensi ACM SIGKDD 2024 oleh peneliti Princeton dan rekan-rekannya juga menemukan bahwa teknik optimasi tertentu dapat meningkatkan visibilitas konten hingga 40% dalam jawaban mesin generatif pada kondisi pengujian mereka.

Hasil tersebut tidak menjamin peningkatan serupa pada setiap situs, tetapi menunjukkan bahwa penyajian informasi dapat memengaruhi peluang konten ditemukan dan dikutip oleh sistem AI. Persaingan di platform AI juga memiliki karakteristik berbeda dari pencarian konvensional. Jawaban yang dihasilkan dapat berubah meskipun pengguna mengajukan pertanyaan yang sama.

Studi Rand Fishkin dari SparkToro dan Patrick O'Donnell dari Gumshoe.ai pada awal 2026 melibatkan 600 relawan yang menjalankan 12 perintah identik di ChatGPT, Claude, dan Google AI hampir 3.000 kali. Studi tersebut melaporkan bahwa peluang mendapatkan daftar merek yang sama dalam dua jawaban kurang dari satu banding 100, sedangkan peluang memperoleh daftar dengan urutan identik sekitar satu banding 1.000.

Meski demikian, sejumlah merek tetap muncul dalam 60-90% jawaban untuk maksud pertanyaan tertentu. Temuan ini menunjukkan bahwa posisi merek dapat berubah, tetapi frekuensi kemunculannya masih bisa digunakan sebagai salah satu indikator visibilitas AI.

Strategi GEO Perlu Menyesuaikan Perbedaan Platform AI

Frekuensi kemunculan merek menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan bisnis untuk memantau visibilitas di layanan AI. Perusahaan perlu menguji pertanyaan yang sama secara berulang dan mencatat merek serta sumber informasi yang muncul, bukan hanya mengandalkan satu hasil pencarian.

Perbedaan juga terlihat pada distribusi rujukan antarplatform. Data Statcounter yang dikutip dalam bahan riset Arfadia untuk September 2026 mencatat pangsa rujukan chatbot AI di Indonesia sebesar 84,91 persen untuk ChatGPT, 8,08 persen untuk Perplexity, 6,13 persen untuk Gemini, dan 0,61 persen untuk Claude.

Angka itu mengacu pada metrik rujukan chatbot yang digunakan sumber, bukan keseluruhan penggunaan AI oleh masyarakat Indonesia. Perbedaan ini penting karena tingginya rujukan pada satu platform tidak otomatis menunjukkan bahwa platform tersebut mendominasi seluruh aktivitas pencarian berbasis AI.

Data kasus Arfadia turut memperlihatkan bahwa sitasi merek dapat tersebar tidak merata di berbagai layanan. Sebuah perusahaan pemasok peralatan makanan dan minuman untuk pasar bisnis ke bisnis (B2B) tercatat memiliki 334 sitasi AI ketika studi kasusnya dipublikasikan, terdiri atas 219 sitasi di Google AI Overviews, 67 di ChatGPT, 39 di Perplexity, dan sembilan di Copilot.

Per 22 Oktober 2026, dengan ukuran yang berbeda, yakni kemunculan merek dalam jawaban AI, Ahrefs mencatat 991 respons untuk situs perusahaan tersebut di berbagai platform, termasuk 33 di Gemini. Arfadia mencontohkan produsen baja yang sebelumnya belum muncul dalam jawaban AI pada Desember 2024, tetapi tercatat dalam 680 respons AI di enam platform, dengan 97 kata kunci berada di posisi pertama AI Overview.

Bahasa yang digunakan dalam pertanyaan juga dapat memengaruhi asisten AI. Dalam pengujian tim riset Arfadia yang dipimpin CMO & Head of International Growth Arfadia, Nicolas Magor, delapan asisten AI menghasilkan 320 jawaban dari pertanyaan pembeli dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dengan rata-rata hanya sekitar seperlima nama perusahaan muncul pada kedua versi bahasa.

 


Dari 160 jawaban untuk pertanyaan berbahasa Inggris, hanya satu jawaban yang seluruh sumbernya berasal dari halaman berbahasa Indonesia. Temuan tersebut menjadi pertimbangan bagi eksportir untuk menyediakan informasi dalam bahasa calon pembeli, alih-alih hanya mengandalkan situs dan publikasi berbahasa Indonesia.

Selain bahasa, aksesibilitas teknis situs dan konsistensi informasi perusahaan juga perlu diperhatikan. Konten harus dapat diakses dan diproses oleh sistem terkait sebelum berpeluang muncul dalam jawaban AI, sementara informasi produk atau identitas bisnis yang tidak konsisten dapat menyulitkan sistem memahami suatu perusahaan.

Untuk mengevaluasi visibilitas, bisnis dapat memulai dengan menguji sekitar 10 pertanyaan yang biasa diajukan calon pelanggan melalui ChatGPT, Gemini, dan Perplexity. Pengujian perlu diulang beberapa kali, disertai pemeriksaan kemampuan perayapan situs, konsistensi informasi produk, penggunaan data terstruktur, serta penerbitan data orisinal yang dapat diverifikasi.

Temuan dalam artikel ini diolah dari tiga laporan riset terbuka Arfadia dengan DOI terdaftar di Zenodo: State of SEO in Indonesia 2026, AI Citation Rate Report 2026, dan Indonesia Digital Marketing Benchmark 2026. Laporan-laporan tersebut diterbitkan pada kuartal pertama 2026. Penelitian itu menggunakan data survei bisnis Indonesia, kinerja klien Arfadia, serta sumber sekunder.

Tessar Napitupulu adalah pendiri dan CEO Arfadia (PT Arfadia Digital Indonesia), agensi pemasaran digital yang beroperasi sejak 2008 dan pelopor GEO di Indonesia sejak 2023. Sebagian kerangka praktis dalam artikel ini diolah dari dua buku karyanya, Found Before They Search dan Cited or Silent.

Baca: Website Pemerintah Tiba-Tiba Tutup Serentak, Intelijen Turun Tangan

 

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Permintaan Emas Meningkat, GoPay Luncurkan Fitur Investasi
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dua Celah Kritis PHP Bikin Situs Pemerintah hingga RS di Eropa Offline
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Viral Pedagang Marah-marah karena Diusir OB Apotek dari Ruang Tunggu, Netizen: Kamu Dagang di Luar, Nunggu di Luar
• 16 menit lalutvonenews.com
thumb
IFRC 2026 Siap Digelar, Mimika Sambut Tim Rescue Terbaik Indonesia
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Studi Ungkap Remaja Perempuan Lebih Banyak Ngevape daripada Laki-laki
• 7 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.