Doktrin Tempur Baru AS: Jika Perang Meletus di Selat Taiwan, Militer AS Akan Bertempur Sejak Hari Pertama

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

Untuk menghadapi ekspansi militer Tiongkok, Angkatan Darat Amerika Serikat baru-baru ini menerbitkan doktrin tempur terbaru. Doktrin tersebut menetapkan bahwa jika perang pecah di Selat Taiwan, pasukan AS yang ditempatkan di kawasan Indo-Pasifik akan langsung terjun ke medan perang sejak “hari pertama perang” demi merebut kendali medan tempur.

EtIndonesia.com Menurut laporan surat kabar Korea Selatan Chosun Ilbo, pada 19 Oktober, Departemen Pertahanan AS mengumumkan doktrin tempur baru Angkatan Darat AS. Doktrin tersebut menetapkan bahwa sumber daya militer akan dipusatkan di kawasan Indo-Pasifik, khususnya di Rantai Pulau Pertama, untuk mengimbangi kekuatan militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang terus berkembang.

Berdasarkan informasi Pentagon, pada  7 Oktober lalu Angkatan Darat AS telah menerbitkan panduan doktrin tempur baru setebal 46 halaman berjudul How the Army Fights (Bagaimana Angkatan Darat Bertempur).

Panduan tersebut secara jelas mendefinisikan militer PKT sebagai “ancaman yang terus bergerak maju” dan menguraikan strategi penempatan pasukan untuk menghadapinya. Struktur pasukan AS akan beralih dari unit-unit kecil menuju sistem operasi bergerak berskala besar yang berpusat pada divisi dan brigade. Inti strateginya adalah mengerahkan “seluruh kekuatan militer” ke Rantai Pulau Pertama.

Menurut rencana tersebut, untuk melumpuhkan strategi PKT yang mengandalkan rudal jarak jauh dan jaringan pertahanan udara, pengerahan pasukan darat AS akan dibagi menjadi empat tahap.

Pada tahap awal perang, AS akan menggunakan kemampuan peperangan elektronik, antariksa, dan siber untuk melumpuhkan sistem komando serta radar musuh. 

Selanjutnya, serangan presisi jarak menengah dan jauh serta drone kamikaze akan digunakan untuk menyerang jalur pasokan di belakang garis depan. Setelah itu, pasukan darat bermobilitas tinggi akan dikerahkan untuk merebut titik-titik strategis.

Dengan mengambil pelajaran dari perang di Ukraina, militer AS juga akan meningkatkan secara signifikan taktik kamuflase dan penyesatan musuh.

Dalam hal penempatan kekuatan militer, AS akan mengerahkan senjata serangan presisi jarak jauh di Rantai Pulau Pertama untuk membidik posisi peluncuran rudal PKT dan sasaran maritim di Pasifik Barat. Senjata, amunisi, dan bahan bakar juga akan disimpan terlebih dahulu agar pasukan dapat segera bertempur jika konflik pecah.

Pada saat yang sama, militer AS akan memperkuat pengerahan Multi-Domain Task Force (MDTF). 

Unit bergerak ini dilengkapi senjata serangan presisi jarak jauh, sistem pertahanan udara, serta personel dengan kemampuan perang siber dan peperangan elektronik. Pasukan tersebut akan dipusatkan di sepanjang Rantai Pulau Pertama, yang membentang dari bagian selatan Kyushu, Jepang, hingga Taiwan dan Filipina.

Sementara itu, di Rantai Pulau Kedua, yang membentang dari Tokyo hingga Guam dan Palau, militer AS berencana membangun titik-titik pasokan amunisi dan bahan bakar untuk mendukung pasukan garis depan di Rantai Pulau Pertama. Kemampuan medis, teknik, dan logistik juga akan diperluas.

Mengingat luasnya wilayah operasi di Pasifik, militer AS juga akan menggunakan kendaraan permukaan laut tanpa awak dan drone untuk menjalankan misi pengiriman pasokan.

Letnan Jenderal Christopher LaNeve?

Komandan Angkatan Darat Kedelapan AS, yang bertanggung jawab memimpin pasukan darat AS di Korea Selatan, Letnan Jenderal Xavier Brunson, menyatakan bahwa militer AS harus selalu siap dikerahkan untuk menjalankan misi di luar Semenanjung Korea. Ia juga memperingatkan agar perhatian tidak hanya tertuju pada ancaman dari Korea Utara.

Pada 21 Oktober, South China Morning Post menerbitkan wawancara dengan Brunson. Ia mengatakan bahwa “hanya berfokus pada ancaman di Semenanjung Korea merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab”. Jika menerima perintah, pasukan yang berada di bawah komandonya harus siap dikerahkan ke wilayah di luar Semenanjung Korea.

Brunson berpendapat bahwa perhatian harus dipusatkan pada pemenuhan kewajiban yang ditetapkan dalam Perjanjian Pertahanan Bersama AS–Korea Selatan. Menurutnya, lokasi penempatan Angkatan Darat Kedelapan AS tidak boleh membatasi jenis misi yang dapat dijalankannya.

Departemen Perang AS di bawah pemerintahan Trump sedang mendorong Korea Selatan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam pertahanan konvensional terhadap Korea Utara. 

Sementara itu, militer AS akan lebih memusatkan perhatian pada upaya membendung pengaruh Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik. Kebijakan ini merupakan bagian dari konsep yang disebut “fleksibilitas strategis” bagi pasukan AS yang ditempatkan di Korea Selatan. (***)

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Apresiasi TPAKD, Kredit Rakyat Rp64,8 Triliun Tersalur ke 2,3 Juta Debitur
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Desak Wapres Gibran Mundur, 150 Guru Besar Kirim Surat Terbuka | KOMPAS PETANG
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Ahmad Luthfi Optimistis Investasi Jateng Tembus Rp110 triliun pada Akhir 2026
• 47 menit lalukumparan.com
thumb
Di Balik Langkah Kemenag Libatkan PBNU Perkuat Pesantren Adaptif & Kembangkan Dakwah Digital
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Indonesia Bidik Delapan Besar Asian Para Games 2026, Reda Manthovani Andalkan Empat Finalis Bulu Tangkis untuk Tambah Emas
• 11 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.