YOGYAKARTA – Kemampuan melakukan penelitian dan berpikir kritis dinilai semakin penting bagi siswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI). Pendidikan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga perlu mengembangkan kemampuan menguji informasi, menganalisis bukti, dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Teknologi Pendidikan Muhamad Abduh mengatakan, penguatan budaya riset sejak jenjang pendidikan menengah dapat membantu siswa mengembangkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah. Menurut dia, kegiatan penelitian juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menguji gagasan dan mempertanggungjawabkan hasil pemikirannya secara ilmiah.
- Riset Perguruan Tinggi Perlu Jawab Tantangan Iklim hingga Kecerdasan Buatan
- Cyber University dan APJIKOM Jalin Kerja Sama Riset Ilmiah
- Budaya Riset Perlu Dibangun Sejak Bangku Sekolah
Abduh menyampaikan hal tersebut dalam penutupan Kompetisi Riset dan Inovasi Siswa Indonesia (KREASI) 2026 jenjang SMA/MA sederajat di Yogyakarta. Kompetisi yang berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 itu diikuti 388 kelompok riset dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk siswa Sekolah Indonesia Makkah.
Sebanyak 388 kelompok tersebut merupakan bagian dari 650 tim yang telah mengirimkan laporan akhir penelitian. Para peserta mengembangkan karya ilmiah dalam berbagai bidang, termasuk matematika, sains, teknologi, dan lingkungan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Abduh menekankan bahwa perkembangan kecerdasan artifisial membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. “Siswa perlu memiliki kemampuan menilai kualitas informasi, menguji kebenaran berdasarkan bukti, serta mempertimbangkan aspek etika dan dampak sosial dari penggunaan teknologi,” kata Abduh dalam siaran pers, Jumat (23/10/2026).
Menurut dia, teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat proses pembelajaran dan membantu menghasilkan solusi atas berbagai persoalan. Pemanfaatannya tidak boleh menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Penguatan keterampilan riset tersebut sejalan dengan program Pendidikan Bermutu untuk Semua yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kegiatan ini juga mendukung pembelajaran sains, teknologi, teknik, dan matematika atau science, technology, engineering, and mathematics (STEM) melalui semangat “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta”.
KREASI 2026 diselenggarakan Abak Academy dengan dukungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya menyediakan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan penelitian di luar kegiatan pembelajaran reguler.
Abduh mengapresiasi keterlibatan lembaga nonpemerintah, perguruan tinggi, peneliti, guru, dan orang tua dalam mendukung kegiatan riset pelajar. Menurut dia, kerja sama berbagai pihak diperlukan untuk memperluas kesempatan belajar dan membantu siswa mengembangkan potensi ilmiahnya.
Direktur Abak Academy sekaligus inisiator KREASI, Munasprianto Ramli, mengatakan, kompetisi penelitian seharusnya menjadi awal perjalanan siswa dalam mengembangkan kemampuan riset. “Proses penelitian perlu terus dilanjutkan melalui kegiatan belajar, mencoba, mengevaluasi, dan menyempurnakan hasil karya ilmiah,” katanya.
Munasprianto juga mengingatkan pentingnya menjaga jejaring antarpeserta yang terbentuk selama kompetisi. Pertemuan siswa dari berbagai daerah dinilai dapat membuka kesempatan untuk bertukar gagasan, berbagi pengalaman, dan membangun kolaborasi penelitian pada masa mendatang.
Sementara itu, Wakil Dekan FMIPA UGM Bidang Alumni, Kerja Sama, dan Inovasi Fajar Adi Kusumo menekankan bahwa keberhasilan penelitian tidak hanya ditentukan oleh perolehan medali. Keberlanjutan penelitian serta manfaat hasil karya bagi masyarakat dinilai lebih penting daripada pencapaian dalam kompetisi.
Menurut Fajar, para siswa perlu terus mengembangkan penelitian agar dapat menjawab persoalan di lingkungan sekitar. Pengalaman mengikuti kompetisi diharapkan menjadi bekal untuk menghasilkan karya ilmiah yang semakin matang dan bermanfaat.
KREASI 2026 digelar melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengajuan proposal penelitian, pendampingan secara daring, hingga penyelesaian dan pengumpulan laporan akhir. Melalui proses tersebut, siswa memperoleh pengalaman merancang penelitian, mengembangkan gagasan, mengolah temuan, serta mempertanggungjawabkan hasil karya berdasarkan kaidah ilmiah.
Penilaian kompetisi melibatkan peneliti BRIN, dosen dan peneliti FMIPA UGM, serta akademisi dari sejumlah perguruan tinggi. Di antaranya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Raden Mas Said Surakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Artificial Intelligence Center Indonesia (AICI) Universitas Indonesia.
Pada pengumuman hasil akhir, MAN 4 Jakarta meraih juara umum pertama dengan dua medali emas dan dua medali perak. Posisi kedua ditempati MAN 2 Kudus dengan dua medali emas dan satu medali perak, sedangkan SMA Sabilillah Malang berada di posisi ketiga dengan satu medali emas dan dua medali perak.
Penyelenggaraan kompetisi riset diharapkan dapat mendorong tumbuhnya budaya penelitian di kalangan pelajar. Dukungan pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan keluarga diperlukan agar kemampuan berpikir kritis serta inovasi siswa terus berkembang setelah kompetisi berakhir.




