AI dan Masa Depan Ketahanan Pangan Indonesia

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Dunia sedang menghadapi tantangan serius bagi ketahanan pangan. El Niño diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember 2026, meningkatkan risiko perubahan pola hujan, kekeringan, dan banjir di berbagai wilayah. Pada saat yang sama, konflik geopolitik mengganggu jalur perdagangan pangan, energi, dan pupuk, sehingga meningkatkan ketidakpastian biaya produksi dan distribusi pangan.

Situasi di atas memperlihatkan paradoks pangan global. Di satu wilayah, produksi melimpah, tetapi di wilayah lain masyarakat kesulitan memperoleh pangan bergizi dengan harga terjangkau. Persoalannya bukan hanya seberapa banyak pangan diproduksi, melainkan seberapa baik dunia memprediksi risiko dan menghubungkan pasokan dengan masyarakat yang membutuhkan.

Momentum Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2026, dengan tema “Innovate today. Nourish tomorrow”, menjadi kesempatan untuk mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Ada dua agenda strategis yang perlu dikembangkan: 1) menggunakan AI untuk memprediksi pangan sebelum krisis terjadi; dan 2) memanfaatkan AI untuk menghubungkan sistem pangan secara lebih efektif.

Memprediksi Krisis Sebelum Terjadi

AI dapat menganalisis data cuaca, citra satelit, kondisi tanaman, produksi, stok, dan harga pangan. Tujuannya, untuk memperkirakan hasil panen serta mendeteksi potensi kelangkaan. Informasi tersebut dapat membantu pemerintah merencanakan cadangan pangan, menentukan pengadaan, dan menyiapkan distribusi atau bantuan bagi masyarakat rentan. 

Dengan peringatan lebih awal, pemerintah memiliki kesempatan lebih besar untuk bertindak sebelum masalah berubah menjadi krisis.

Penerapan AI juga telah berkembang. Tahun 2026, Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (World Food Programme/WFP) melaporkan, bahwa pembelajaran mesin (machine learning) memungkinkan terjadinya peringatan risiko ketahanan pangan hingga 60 hari sebelumnya di lebih dari 90 negara.

WFP juga menggunakan perangkat bernama SCOUT—yang mentransformasi rantai pasok WFP dan berbasis AI—untuk membantu menentukan lokasi pembelian, penyimpanan, dan pengiriman bantuan pangan. Sejak 2024, perangkat itu telah menghasilkan penghematan lebih dari US$6 juta dan diproyeksikan menghemat US$25 juta per tahun jika diterapkan dalam skala penuh (WFP, 2026)

Namun, prediksi akurat tidak otomatis menyelesaikan masalah. Peringatan kekeringan perlu diikuti dukungan nyata bagi petani. Sementara itu, prediksi kenaikan harga perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang melindungi masyarakat rentan.

Tujuan AI bukan sekadar memprediksi krisis, melainkan memberikan waktu untuk mencegah atau mengurangi dampaknya, melalui konektivitas pangan yang lebih baik.

Memperkuat Konektivitas Pangan

Peluang kedua ialah memperkuat konektivitas pangan. Informasi mengenai produksi, permintaan, harga, penyimpanan, dan distribusi sering kali tersebar di berbagai lembaga dan pelaku usaha. Akibatnya, petani kesulitan menemukan pembeli, pangan terbuang selama distribusi, dan wilayah yang kekurangan pangan tidak selalu terhubung secara efisien dengan wilayah yang surplus.

AI dapat mempertemukan petani dengan pembeli, mencocokkan perkiraan panen dengan kebutuhan pasar, serta membantu mengoptimalkan penyimpanan dan transportasi. Dalam perdagangan internasional, teknologi ini berpotensi membantu mengidentifikasi pemasok atau jalur alternatif ketika distribusi terganggu.

Bank Dunia juga mengidentifikasi potensi AI dalam perkiraan harga, ketertelusuran produk, transparansi pasar, serta optimalisasi logistik pertanian dan pangan (Krishnakumari & Shah, 2025).

Konektivitas pangan seharusnya tidak hanya memperlancar transaksi komersial. AI juga perlu menghubungkan informasi, pengetahuan, produsen, pasar, pemerintah, dan lembaga kemanusiaan; agar respons terhadap ancaman pangan global lebih cepat dan terkoordinasi. Namun, manfaat tersebut memerlukan data yang andal, sistem yang kompatibel, infrastruktur yang memadai, dan aturan yang melindungi privasi serta kepentingan produsen.

Konektivitas itu juga dapat memperkuat kerja sama antarnegara melalui pertukaran prakiraan produksi, stok, harga, dan risiko pasokan. Pertukaran informasi tidak berarti seluruh data harus dibuka tanpa batas; setiap negara perlu menyepakati standar, hak akses, dan tanggung jawab yang jelas.

Sehingga, AI dapat mendukung koordinasi lintas batas tanpa mengabaikan kedaulatan data, kondisi lokal, dan kebutuhan masyarakat.

Indonesia Harus Mengambil Peluang

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, AI berpotensi meningkatkan prakiraan produksi beras, hortikultura, perikanan, dan akuakultur, sekaligus membantu mengidentifikasi gangguan pasokan, dan tekanan harga. Jika diintegrasikan dengan data transportasi, kapasitas penyimpanan, dan kebutuhan daerah, teknologi ini dapat mendukung distribusi pangan antarpulau yang lebih efisien.

AI dapat menghubungkan petani, nelayan, pembudidaya ikan, pengolah pangan, dan pembeli institusional—termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Perencanaan pengadaan yang lebih baik dapat menciptakan peluang pasar bagi produsen lokal, sekaligus memperkuat pasokan pangan bergizi. Itu sesuai dengan Rencana Strategis WFP untuk Indonesia 2026-2030.

Karena itu, pemerintah perlu mengembangkan sistem pangan nasional berbasis AI, yang mengintegrasikan data cuaca, produksi, stok, harga, logistik, dan kebutuhan gizi. Sistem ini dapat membantu pemerintah mengantisipasi risiko sekaligus mempertemukan pasokan dan kebutuhan daerah. Pelaksanaannya memerlukan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, perguruan tinggi dan dunia usaha, dengan tetap melindungi data serta memastikan petani dan nelayan kecil memperoleh manfaat.

AI bukan solusi tunggal. Manfaat AI tergantung pada infrastruktur, pendanaan, kelembagaan, dan kebijakan yang menerjemahkan prediksi menjadi tindakan. Keberhasilan AI diukur dari dampak nyata, antara lain: pangan lebih terjangkau, kehilangan pangan berkurang, produsen lokal semakin kuat, dan masyarakat lebih terlindungi dari krisis.

Hari Pangan Sedunia 2026 menjadi momentum untuk membangun sistem pangan yang bukan hanya mampu memproduksi, tetapi juga memprediksi dan menghubungkan. AI akan bermakna ketika dapat membantu memastikan pangan bergizi sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Prediksi lebih baik, koneksi pangan lebih kuat, pangan bergizi untuk semua.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Teknologi Biochemical Chamber Diklaim Pangkas Massa Sampah Organik hingga 80%
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Industri Gim Tertekan Kenaikan Harga Cip, Kementerian Ekraf Siapkan Insentif
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Perkuat Daya Saing Global, FMIPA UNM Perkuat Kolaborasi Akademik Bersama Empat Universitas Terkemuka di Asia
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Target Rampung 2028, Menteri PU Kebut Penanganan Jalan Perbatasan Kalimantan
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PEVS 2026 Digelar 29 Oktober, Hadirkan Lebih dari 38 Merek Kendaraan Listrik
• 4 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.