Grid.ID - Warna gigi tak melulu menjadi indikator gigi sehat. Gigi yang nampak putih tetap perlu diperhatikan kesehatan lapisannya.
Memiliki gigi putih dan bersih menjadi dambaan banyak orang. Tak heran, pasta gigi pemutih kerap menjadi pilihan untuk mendapatkan senyum yang lebih cerah.
Dokter gigi Zahrah Almira atau akrab disapa drg. Rara mengingatkan masyarakat agar lebih cermat memilih pasta gigi pemutih. Pasalnya, produk dengan daya abrasif tinggi berpotensi mengikis permukaan gigi jika digunakan secara tidak tepat.
Menurut drg. Rara, keinginan untuk mendapatkan gigi putih secara instan terkadang membuat seseorang mengabaikan kesehatan enamel atau lapisan terluar gigi.
“Banyak pasta gigi yang klaimnya bisa memutihkan gigi secara instan. Ya iya instan putih langsung, karena lapisan giginya langsung dikikis, langsung bagian yang keduanya nih misalnya, jadi cokelat-cokelatnya, bintik hitamnya langsung hilang tapi bersama lapisan giginya, menyebabkan giginya menjadi tipis dan sensitif,” papar drg. Rara dalam konferensi pers Usmile bersama Raditya Dika di kawasan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2026).
Ia menjelaskan, sebagian pasta gigi pemutih bekerja dengan membantu mengangkat noda pada permukaan gigi. Namun, konsumen perlu memperhatikan formulasi produk yang digunakan.
Dibanding terobsesi pada warna gigi putih yang instan, Drg. Rara menekankan pentingnya kebersihan gigi dan mulut.
“Lebih putih belum tentu lebih sehat. Warna gigi masing-masing unik. Tapi yang paling penting adalah gigi itu harus bersih dulu,” ungkapnya.
Menurut drg. Rara, perkembangan teknologi perawatan gigi memungkinkan produk pemutih dikembangkan dengan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan bahan abrasif. Salah satu bahan yang ia sebutkan adalah hydroxyapatite (HAP), membantu mencerahkan gigi tanpa mengikis enamel.
“Kandungan untuk whitening terus dikembangin dan diteliti juga. Ternyata tidak harus yang mengandung bahan abrasif itu sudah bisa mencerahkan gigi, contohnya seperti HAP (hydroxyapatite). HAP selain bisa mengangkat noda itu dia bikin giginya cerah dari dalam,” jelas drg. Rara.
Untuk membantu gigi tampak lebih putih secara instan, usmile juga memiliki pasta gigi Optical White yang menggunakan Natural Purple Corrector melalui koreksi warna optik, disertai papain untuk mendukung perawatan noda. Teknologi ini bekerja pada tampilanwarna gigi, dengan mekanisme yang berbeda dari pemutihan melaluibleaching. Sementara itu, pasta gigi Strength White berfokus pada perawatan noda permukaan akibat kopi dan teh, sekaligus melindungienamel.
Belajar dari Kebiasaan Raditya Dika Merawat Gigi, Tak Cuma Disikat
Pentingnya perawatan gigi juga disadari oleh Raditya Dika. Ia mengaku rutinitas merawat giginya semakin lengkap seiring bertambahnya pengetahuan mengenai kebersihan mulut.
Raditya mengatakan, sejak kecil dirinya hanya terbiasa menyikat gigi tanpa mengetahui bahwa lidah dan sela-sela gigi juga perlu dibersihkan.
“Saya baru tahu soal sikat lidah itu ketika udah kuliah. Itu baru tahu ternyata lidah bisa disikat ya,” ceritanya.
Setelah mengenal sikat lidah, Raditya kemudian mulai memahami pentingnya flossing atau membersihkan sela-sela gigi menggunakan benang gigi. Sulitnya flossing ketika menggunakan kawat gigi atau behel juga jadi tantangan.
“Di tempat dokter gigi saya ada water flosser, jadi udah kebiasaan. Sekarang pakai water flosser dari Usmile udah 3 bulan. Ternyata di sela antara gigi satu dan lainnya itu suka masuk makanan kecil yang kita ga tau,” ujar Raditya Dika.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perawatan gigi membutuhkan perhatian lebih dari sekadar menyikat gigi. Membersihkan sela-sela gigi dan lidah juga menjadi bagian dari rutinitas kebersihan mulut yang perlu diperhatikan.
Jangan hanya berfokus pada keinginan mendapatkan gigi yang putih dalam waktu singkat. Sebab, senyum yang sehat bukan semata-mata ditentukan oleh warna gigi, melainkan juga oleh bagaimana gigi dan mulut dirawat setiap hari. (*)
Artikel Asli




