Atlet asal Jawa Timur menyumbangkan 13 catatan medali individual bagi Kontingen Indonesia dalam ajang Asian Para Games 2026 di Aichi–Nagoya, Jepang. Hingga Sabtu (24/10/2026) pagi pukul 08.00 WIB, enam atlet Jatim mengoleksi dua medali emas, lima perak, dan enam perunggu.
Dua atlet yang mencuri perhatian adalah Maulana Rifky Yavianda dari cabang para renang dan Ken Swagumilang dari para panahan. Maulana mencatatkan dua rekor Asia, sedangkan Ken meraih dua medali perak yang menandai pencapaian bersejarah bagi Indonesia di nomor beregu compound.
Imam Kuncoro Ketua Komite Paralimpiade Indonesia (NPCI) Provinsi Jawa Timur mengapresiasi perjuangan para atlet yang telah berkontribusi bagi Indonesia di tingkat Asia.
“Prestasi ini merupakan hasil kerja panjang para atlet, pelatih, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan. Kami bersyukur atlet-atlet asal Jawa Timur dapat memberikan kontribusi bagi Indonesia. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana hasil ini menjadi pijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi pada ajang internasional berikutnya,” ujar Imam dari Jepang.
Maulana menjadi salah satu penyumbang medali emas Indonesia melalui cabang para renang. Perenang asal Jatim itu meraih emas nomor 100 meter gaya bebas putra S12 pada Senin (19/10/2026), dengan catatan waktu 55,34 detik.
Sehari kemudian, Maulana kembali meraih emas pada nomor 100 meter gaya punggung putra S12 dengan waktu 1 menit 3,07 detik.
Dalam perlombaan tersebut, ia dilaporkan membukukan dua rekor Asia, yakni 30,31 detik pada jarak 50 meter dan 1 menit 3,07 detik pada jarak 100 meter.
Catatan waktu 100 meter gaya punggung itu sekaligus memperbaiki rekor sebelumnya, yakni 1 menit 3,55 detik yang dibukukan pada Asian Para Games Hangzhou 2023.
Selain dua emas, Maulana meraih dua perak dari nomor 50 meter gaya bebas putra S13 dan 100 meter gaya kupu-kupu putra S12. Dengan demikian, ia mengakhiri perlombaannya dengan total empat medali.
Dari cabang para panahan, Ken Swagumilang meraih dua medali perak pada nomor beregu compound. Perak pertama diperoleh bersama Arif Firmansyah pada nomor ganda putra compound, Rabu (21/10/2026).
Pasangan Indonesia mencapai final sebelum kalah dari wakil Thailand, Teerasak Phiarthanee dan Comsan Singpirom, dengan skor 147–150.
Hasil tersebut menjadi medali perak pertama Indonesia dari cabang para panahan sepanjang keikutsertaan dalam Asian Para Games, sekaligus menandai penampilan pertama Indonesia pada nomor ganda putra compound di ajang tersebut.
Sehari berikutnya, Ken kembali meraih perak bersama Teodora Audi Ayudia Ferelly pada nomor beregu campuran compound. Pasangan Indonesia kalah dari wakil India, Sheetal Devi dan Toman Kumar, dengan skor 148–151 pada partai final, Kamis (22/10/2026).
Roy Agustinus Soselisa Wakil Sekretaris NPCI Provinsi Jawa Timur mengatakan, pencapaian Maulana dan Ken perlu menjadi pijakan untuk memperkuat pembinaan olahraga prestasi bagi penyandang disabilitas di Jawa Timur.
“Rekor Maulana dan pencapaian bersejarah Ken harus menjadi pijakan pembinaan olahraga prestasi di Jawa Timur. Prestasi tidak cukup dibangun melalui intensitas latihan semata, tetapi membutuhkan penerapan ilmu keolahragaan secara konsisten agar proses pembinaan lebih terukur, potensi atlet berkembang optimal, dan prestasi yang diraih dapat terus berkelanjutan,” kata Roy.
Selain Maulana dan Ken, empat atlet Jatim lainnya turut menyumbangkan medali dari cabang para renang, para atletik, dan para bulu tangkis.
Dari para renang, Mutiara Cantik Harsanto meraih perak nomor 100 meter gaya dada putri SB9 serta perunggu nomor estafet campuran 4 x 100 meter gaya ganti 34 poin. Pada nomor estafet yang sama, Zahra Nur Azizah juga menjadi bagian dari tim Indonesia yang meraih perunggu.
Sementara itu, Nanda Mei Sholihah menyumbangkan dua perunggu dari para atletik melalui nomor 200 meter putri T47 dan 100 meter putri T47.
Dari para bulu tangkis, Khalimatus Sa’diyah meraih dua perunggu pada nomor ganda putri SL3–SU5 dan tunggal putri SL4.
NPCI Jawa Timur menghitung medali berdasarkan perolehan masing-masing atlet. Pada nomor beregu, setiap atlet yang memperoleh medali turut dicatat secara individual.
Karena itu, 13 catatan medali tersebut tidak menunjukkan jumlah nomor perlombaan berbeda yang menghasilkan medali.
Selain enam atlet peraih medali, tiga atlet Jatim lainnya turut memperkuat Kontingen Indonesia, yakni Firza Faturrahman Listianto dari para atletik, Ubaidillah Amsyar Juba dari para renang, serta Ria Yuliati dari para taekwondo. Ketiganya belum meraih medali dalam ajang tersebut.
Imam menegaskan, penghargaan terhadap atlet tidak semestinya hanya didasarkan pada keberhasilan meraih medali. Menurutnya, kesempatan bertanding di tingkat Asia juga menjadi bagian penting dari proses pembinaan dan pengalaman atlet.
“Medali memang menjadi ukuran prestasi, tetapi bukan satu-satunya ukuran pengabdian seorang atlet. Mereka yang belum naik podium tetap telah melewati proses panjang untuk memperoleh kepercayaan mengenakan seragam Indonesia dan bersaing dengan atlet terbaik Asia. Hasil perlombaan boleh berbeda, tetapi kehormatan mewakili Merah Putih tidak pernah berbeda,” ujar Imam.
Kontribusi Jawa Timur juga hadir melalui kepelatihan. Imam Kuncoro yang tergabung dalam tim para judo Indonesia turut mendampingi atlet pada penyelenggaraan tersebut.
Atlet binaannya mencatatkan satu medali perak dan dua perunggu. Perolehan itu merupakan kontribusi kepelatihan dan tidak dimasukkan dalam penghitungan 13 catatan medali individual atlet Jatim.
NPCI Jawa Timur menjadikan hasil Asian Para Games 2026 sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat pembinaan berkelanjutan.
Upaya tersebut mencakup pengembangan atlet usia muda, peningkatan kualitas pelatih, kesinambungan kompetisi, serta penyediaan sarana dan prasarana latihan yang aksesibel.
Roy mengatakan, keberhasilan atlet Jatim bersaing di tingkat internasional harus diikuti regenerasi agar prestasi Indonesia dapat dipertahankan.
“Kontribusi atlet Jawa Timur di Asian Para Games membuktikan bahwa daerah memiliki potensi untuk bersaing di tingkat internasional. Tantangannya bukan sekadar mempertahankan prestasi, tetapi memastikan regenerasi melalui talent scouting yang sistematis, pembinaan berjenjang, dan kompetisi yang berkesinambungan. Jawa Timur tidak boleh hanya mengandalkan atlet yang sudah berprestasi, tetapi harus terus menyiapkan atlet berikutnya untuk memperkuat Indonesia,” kata Roy.
Roy juga menekankan pentingnya memberikan penghargaan yang setara bagi atlet penyandang disabilitas. Menurutnya, prestasi di Asian Para Games memiliki nilai dan kehormatan yang sama dengan pencapaian atlet pada ajang olahraga internasional lainnya.
“Asian Para Games dan Asian Games, sebagaimana Peparnas dan PON di tingkat nasional, merupakan ajang olahraga prestasi yang memiliki martabat setara. Tidak semestinya ada perbedaan penghargaan hanya karena atletnya merupakan penyandang disabilitas. Mereka menjalani proses latihan, bersaing, dan berjuang membawa nama daerah maupun bangsa,” tegas Roy. (saf/faz)




