SEOUL, KOMPAS.TV - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengunjungi China pada Sabtu (24/10/2026) untuk meresmikan jembatan baru yang menghubungkan kedua negara.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Pyongyang memperkuat hubungan dengan Beijing, yang selama ini menjadi sekutu utama sekaligus penopang ekonomi Korea Utara.
Kim tiba di Kota Dandong, China, setelah melintasi jembatan baru di Sungai Yalu, menurut Kementerian Unifikasi Korea Selatan dan kantor berita resmi China, Xinhua.
Dalam kunjungan tersebut, Kim bertemu dengan Wang Huning, anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis China. Keduanya juga mengunjungi sebuah pabrik mobil dan berjanji memperkuat hubungan bilateral.
Menurut Xinhua, Kim menyatakan Korea Utara siap bekerja sama dengan China untuk melanjutkan persahabatan historis kedua negara dan memperluas kerja sama praktis demi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.
Baca Juga: Korea Selatan Ajak Korea Utara Berunding, Cegah Bentrokan Perbatasan
Wang kemudian mengantar Kim kembali ke jembatan tersebut sebelum pemimpin Korea Utara itu meninggalkan China.
Jembatan Baru Diharapkan Dongkrak PerdaganganJembatan Sungai Yalu Baru mulai dibuka pada Oktober 2026. Infrastruktur ini dipandang sebagai simbol penguatan hubungan kedua negara sekaligus upaya meningkatkan perdagangan lintas perbatasan.
Jembatan tersebut diperkirakan dapat melayani lalu lintas dua arah sepanjang waktu, termasuk pengiriman kontainer dan kendaraan pengangkut barang berat.
China merupakan sekutu tradisional sekaligus sumber penting dukungan ekonomi bagi Korea Utara.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kim juga berupaya memperkuat hubungan dengan Rusia, termasuk dengan mengirimkan ribuan tentara dan persenjataan konvensional untuk mendukung perang Moskow di Ukraina.
Dukungan tersebut diperkirakan berkaitan dengan upaya Pyongyang memperoleh bantuan militer dan ekonomi dari Rusia.
Kunjungan terbaru Kim ke China menunjukkan upaya Pyongyang menjaga hubungan dengan Beijing di tengah kebijakan luar negeri yang semakin aktif dan persaingan dengan Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Korea Utara Klaim Uji Coba Torpedo Baru Berteknologi AI
Jelang Peringatan Perang KoreaKunjungan Kim Jong Un juga berlangsung menjelang peringatan 25 Oktober, yang menandai kemenangan besar pertama pasukan China dalam Perang Korea.
Peristiwa tersebut terjadi beberapa hari setelah pasukan China menyeberangi Sungai Yalu untuk membantu Korea Utara pada Oktober 1950.
Perang Korea bermula pada Juni 1950 ketika Korea Utara menyerang Korea Selatan. Koalisi pimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipimpin AS kemudian turun tangan dan memukul mundur serangan tersebut.
China mengirimkan pasukan untuk mendukung Korea Utara, sementara Uni Soviet saat itu turut membantu melalui kekuatan udaranya.
Pertempuran berakhir dengan gencatan senjata pada 1953, tetapi kedua Korea secara teknis masih berada dalam keadaan perang karena belum menandatangani perjanjian damai.
Menurut Xinhua, Kim juga menyebut kunjungannya sebagai kesempatan untuk mengenang mereka yang gugur dalam perang tersebut.
Baca Juga: Kim Jong Un Muncul Usai Dirumorkan Meninggal, Kunjungi Pameran Industri Ringan
Presiden China Xi Jinping sebelumnya mengunjungi Pyongyang pada Juni 2026 dan bertemu dengan Kim.
Dalam pertemuan itu, Xi menyatakan kesiapan Beijing memperluas kerja sama di bidang perdagangan, pertanian, konstruksi, dan teknologi. Kim menyebut hubungan dengan China sebagai prioritas strategis utama.
Kim terakhir mengunjungi Beijing pada September 2025 untuk bertemu dengan Xi dan menghadiri parade militer bersama Presiden Rusia Vladimir Putin serta sejumlah pemimpin asing lainnya.
Peluang Dialog dengan ASDi tengah penguatan hubungan dengan China dan Rusia, Kim Jong Un tetap mempertahankan sikap keras terhadap Korea Selatan dan belum menerima tawaran Presiden AS Donald Trump untuk menghidupkan kembali diplomasi yang terhenti sejak 2019.
Pemerintah Korea Utara meminta Washington menghentikan kebijakan yang disebutnya bermusuhan dan mencabut tuntutan denuklirisasi sebagai prasyarat dimulainya kembali perundingan.
Sementara itu, pemerintah Korea Selatan berharap dialog antara Washington dan Pyongyang dapat kembali dibuka untuk memperbaiki hubungan antar-Korea. Seoul juga meminta China berperan konstruktif dalam meredakan ketegangan.
Baca Juga: Adik Kim Jong-un Tinjau Perbatasan, Ancam Korea Selatan: Kami Siap Menembak
Badan intelijen Korea Selatan sebelumnya memperkirakan peluang pertemuan Trump dan Kim mencapai 50 persen di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) bulan depan di Shenzhen, China.
Leif-Eric Easley, profesor di Universitas Ewha di Seoul, mengatakan pergeseran fokus Korea Utara menuju pembangunan ekonomi dapat membawa dampak positif bagi diplomasi dan keamanan.
Namun, menurut Easley, jika Pyongyang semakin banyak memperoleh keuntungan dari China dan Rusia, insentif bagi Korea Utara untuk memperbaiki hubungan dengan Seoul dapat semakin terbatas.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Tussie Ayu Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : The Associated Press
- kim jong un
- korea utara
- china
- xi jinping
- korea selatan
- Jembatan Sungai Yalu





