Petani Terdampak Kemarau, Industri Jamu Andalkan Stok Simplisia Kering

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Cuaca panas dan relatif kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia hingga kini berdampak pada petani tanaman obat. Berdasarkan prakiraan curah hujan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikapada periode dasarian III Oktober hingga dasarian II November 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah.

Dampak kemarau dirasakan para petani yang menanam bahan baku jamu seperti kapulaga dari Desa Sambirata, Banyumas, Jawa Tengah, Sodirin. Sejak enam bulan terakhir, petani sudah menyetop pengiriman pasokan bahan baku jamu ke perusahaan jamu seperti Sido Muncul karena tidak ada panenan. “Untuk pasokan kami setop karena tidak ada panen. Sudah 6 bulan,” ujar Sodirin dihubungi dari Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Sebagian besar masyarakat Desa Sambirata bekerja sebagai buruh tani dan petani. Sebelum adanya Kapulaga, komoditas pertanian utama yang dikembangkan adalah padi. Bekerja sama dengan petani lainnya, Sodirin mulai mengembangkan tanaman obat khususnya Kapulaga dan daun nilam sejak 2009. “Untuk musim kemarau saat ini petani di daerah kami sudah tidak bisa menanam dan tananam yang sudah ada akibat kurangnya air sehingga ikut layu mati sejak Agustus. Pohon kapulaga juga sudah mulai pada kering,” tambah Sodirin.

Baca JugaIndustri Jamu Terdampak Tekanan Ekonomi


Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Irwan Hidayat menyebut bahwa kemarau memang berdampak pada produksi bahan baku jamu. Namun, dampak tersebut ditegaskan bisa disiasati karena sebagian bahan baku atau simplisia bisa disimpan dalam kondisi kering. Perusahaan juga sudah membangun kontrak jangka panjang dengan petani untuk menjaga kontinuitas pasokan bahan baku. “Karena kita stok banyak,” ucapnya.

Mayoritas bahan baku produk Sido Muncul berasal dari tanaman herbal seperti temulawak, kunyit, jahe, dan kapulaga. Emiten dengan kode saham Sido yang memproduksi jamu dan obat herbal modern ini bekerja sama dengan sekitar 40 kelompok tani yang mayoritas berlokasi di Pulau Jawa. Kerja sama dan proses pembinaan petani ini sudah dilakukan selama lebih kurang 40 tahun. Kunyit, misalnya ditanam petani di Tawangmangu, Karanganyar sedangkan kapulaga di Cilacap dan Purwokerto.

Saat ini, hampir semua bahan baku Sido Muncul diperoleh dari pasar lokal. Hanya sekitar 5 persen bahan baku yang diimpor seperti plastik untuk kebutuhan pengemasan. Perusahaan juga memiliki Pusat Pengembangan Herbal Sido Muncul yang antara lain mengembangkan bibit berkualitas. “Kalau soal yang menyangkut masalah kesehatan dan pangan, marketnya itu stabil,” tambah Irwan.

Menghadapi kemarau panjang yang diprediksi masih akan berlanjut hingga awal 2027, Irwan berharap pemerintah memberi jaminan pasokan air bagi petani, seperti melalui pemeliharan dan perbaikan bendungan. Irwan lantas mencontohkan kondisi Danau Rawapening di Ambarawa, Kabupaten Semarang yang lokasinya berdekatan dengan pabrik Sido Muncul.

Danau seluas 2.800 hektare itu dipenuhi tanaman eceng gondok dan mengalami sedimentasi sehingga kedalamannya hanya tersisa 3 meter. Irwan mendorong agar pemerintah membersihkan enceng gondok sehingga aliran air dari 16 mata sungai yang bermuara ke Rawapening bisa dimanfatkan untuk irigasi maupun wisata. Irwan pun mengaku siap menjadi offtaker untuk mengolah eceng gondok menjadi bahan bakar alternatif.

Ketua Umum GP Jamu Jony Yuwono yang juga pemilik PT Sinde Budi Sentosa, membenarkan bahwa kemarau panjang cukup berdampak bagi industri jamu. Hal ini terutama karena kegagalan panen atau panen dengan kualitas yang tidak ideal akan mempengaruhi kualitas dari produk jadi.

Mencari bahan baku

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber, industri jamu mencoba untuk mendapatkan beberapa sumber bahan baku dari beberapa daerah atau beragam petani. "Untuk mengantisipasi musim hujan, beberapa industri jamu mengeringkan bahan jamu dan menyimpannya dalam bentuk simplisia kering agar bisa bertahan lebih lama," tambah Jony.

Menurut Sekretaris Jenderal GP Jamu Muhammad Fajaruddin, sebagai langkah antisipasi, pelaku industri telah menyetok bahan baku yang disimpan dalam kondisi kering dari panenan tahun lalu. Pelaku industri jamu didukung dengan gudang yang bagus, tempat penyimpanan yang terjaga suhu dan kelembapannya sehingga potensi jamur dan lain-lain tidak bisa tumbuh.

“Industri tentunya tidak sembarangan menjalankan usaha. Mereka sudah satu tahun sebelumnya sudah memikirkan kebutuhan bahan baku. Karena bahan baku di Indonesia itu akan diperebutkan oleh setidaknya 100 industri yang sama di industri obat bahan alam. Ada UMKM sekitar 700 atau 800 UMKM,” ujar Fajaruddin.

Baca JugaKafe Jadi Etalase Revitalisasi Jamu

Ketua dan Pendiri Koperasi Jamu Indonesia Suwarsi Moertedjo membenarkan bahwa kemarau pasti berdampak pada industri jamu. “Cuma karena industri masing-masing, sebagian sudah ada stok bahan baku. Dan, (bahan baku) belum diproduksi karena masih banyak produk jadi yang belum terjual. Situasi pasar masih belum normal,” ujar Suwarsi.

Pengurus GP Jamu yang merupakan Komisaris Independen Mustika Ratu, Devita Agus, menambahkan bahwa dampak kemarau panjang antara lain dirasakan pada panenan bahan baku jamu seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kencur yang mengalami penurunan. Akibatnya, bahan baku jamu menjadi langka dan kualitas bahan baku terancam turun karena kurang air. Harga bahan baku lantas naik. Produksi jamu pun terganggu karena stok berkurang.

Sebagai langkah antisipasi kekeringan, menurut Devita, bahan baku harus ditanam di banyak daerah, tidak hanya di satu tempat. Petani harus memakai irigasi tetes, menampung air hujan agar tidak boros air, dan memilih bibit yang tahan kemarau.

"Simpan stok simplisia saat panen banyak, untuk dipakai saat paceklik. Industri kerja sama kontrak jangka panjang dengan petani," tambah Devita.

Pengurus GP Jamu yang juga pakar jamu di Martha Tilaar Group, Heru D. Wardana, menambahkan bahwa pabrik jamu besar cenderung punya gudang yang memadai. Apalagi, stok bahan baku kering dipastikan akan kuat hingga tahun depan atau ketika telah kembali memasuki musim hujan.

“Kalau pertanaman di lapangan memang saat ini pada kering, apalagi kalau sudah dipanen Juli-Agustus kemarin. Justru yang terdampak mungkin UMKM Jamu, seperti jamu gendong yang pembelian bahannya saat itu dan tidak nyetok," tambah Heru.

Menurut Peneliti di Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional Otih Rostiana, kemarau justru menjadi masa panen bagi petani bahan baku jamu, terutama untuk rimpang-rimpangan. “Justru panen dengan biomassa dan mutu terbaik diperoleh saat panen pada kondisi kering/kemarau, rimpang sudah mengalami fase penuaan sempurna,” ucapnya.

Ada beberapa jenis tanaman rimpang yang bisa disimpan di dalam tanah (tidak dipanen) tapi tetap bagus, misal kencur, kunyit, dan temulawak. Sebagian tanaman lain tidak bisa seterusnya disimpan didalam tanah seperti lengkuas (evergreen rhizome-crops).

“Itu makanya proses panen dan pascapanen, juga penyimpanan yang baik sangat direkomendasikan. Supaya bahan baku bisa disimpan lebih lama, tapi tetap baik mutunya,” tambah Otih.



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DJP Hapus Sanksi Pajak 100%, Ini Cara Pengajuannya Lewat Coretax
• 51 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Kapolda Metro Jaya Wajibkan Ada Rekaman Video Penindakan saat Operasi Patuh Jaya
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Ketika Kehidupan Modern Bergerak Lebih Cepat daripada Kemampuan Tubuh Anda
• 12 jam laluerabaru.net
thumb
Bahlil Mau ke India-China Amankan Pasokan BBM, Jamin Harga Subsidi Tak Naik
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Sinergi Kuat Sektor Properti, BTN Sulampua Gelar Developer Gathering Q4 2026 di Makassar
• 23 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.