Indonesia telah mengumumkan pemangkasan pasokan gas ke Singapura. Namun, Singapura tidak hanya mendapatkan pasokan gas Liquid Natural Gas (LNG) dan Pipeline Natural Gas (PNG) dari Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan energinya, Singapura juga mendapatkan pasokan dari Australia, Qatar, hingga Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data World Integrated Trade Solution (WITS), nilai impor LNG Singapura dari seluruh negara mencapai sekitar USD 3,48 miliar. Australia menyumbang nilai impor terbesar, yakni USD 1,21 miliar, diikuti Qatar sebesar USD 865,47 juta, lalu Mozambik senilai USD 651,66 juta.
AS menempati posisi keempat dengan nilai impor USD 516,85 juta, disusul Trinidad dan Tobago mencapai USD 134,47 juta. Indonesia menempati posisi keenam dengan nilai impor mencapai USD 64,06 juta. Selanjutnya ada Malaysia senilai USD 38,98 juta.
Melansir Channel News Asia, gas yang disalurkan melalui pipa dari Indonesia dan Malaysia pada 2025 menyumbang 43 persen dari total impor gas Singapura, sedangkan LNG mencakup 57 persen sisanya.
Selain keenam negara tersebut, Singapura juga mengimpor LNG dari Papua Nugini, Nigeria, Korea Selatan, Prancis, dan Spanyol.
Asia Natural Gas & Energy Association mencatat gas alam menyumbang lebih dari 92 persen kebutuhan pembangkitan listrik Singapura. Dalam dua dekade terakhir, Singapura telah beralih dari pembangkit listrik berbahan bakar minyak ke pembangkit yang terutama menggunakan gas alam.
Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat, Singapura juga berencana membangun terminal penerima LNG kedua pada 2030. Singapura turut mendorong pemanfaatan energi terbarukan dan sumber energi dengan emisi karbon lebih rendah dalam beberapa dekade mendatang.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia telah mengumumkan pengurangan pasokan gas ke Singapura. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan kebijakan itu dengan alasan pemerintah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.
Total ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura mencapai 409,55 juta British thermal unit per hari (MM BBTUD), sedangkan pengurangan yang dilakukan sebesar 31 BBTUD atau sekitar 8 persen dari total ekspor.





