SpaceX menilai kombinasi teknologi akal imitasi (AI) dan layanan internet satelit Starlink dapat memperkuat layanan kesehatan di wilayah terpencil Indonesia. Teknologi ini memungkinkan tenaga kesehatan mengakses konektivitas internet sekaligus memanfaatkan kemampuan AI untuk mendukung analisis kondisi pasien.
Regional Vice President, Solutions Architecture, Asia-Pacific & Japan (APJ), SpaceX AI, Chris Walker, mengatakan konektivitas menjadi tantangan penting bagi Indonesia yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau. Menurut dia, akses internet dapat membantu masyarakat di wilayah terpencil terhubung dengan perekonomian modern dan memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi.
Walker menyebutkan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 745 dari 10 ribu puskesmas di Indonesia belum memiliki koneksi internet pada 2024. Sementara itu, sebanyak 1.475 puskesmas lainnya memiliki akses internet terbatas.
"Untuk banyak orang di daerah terpencil, konektivitas sangat penting agar mereka dapat terlibat dan terhubung dengan ekonomi modern," ujar Walker.
Ia menjelaskan, teknologi roket yang dapat digunakan kembali memungkinkan peluncuran satelit dengan biaya lebih rendah. Hal ini mendukung pengembangan konstelasi satelit di orbit rendah Bumi yang dapat menjangkau wilayah yang sulit dilayani oleh jaringan kabel.
Walker membandingkan biaya peluncuran muatan ke orbit rendah Bumi menggunakan pesawat ulang-alik atau space shuttle dengan roket Falcon 9 milik SpaceX.
Mengutip makalah NASA pada 2018, ia menyebut biaya peluncuran menggunakan space shuttle mencapai sekitar US$ 54.500 per kilogram. Sementara itu, biaya menggunakan Falcon 9 turun menjadi sekitar US$ 2.700 per kilogram.
Menurut Walker, penurunan biaya tersebut memungkinkan peluncuran satelit dalam jumlah lebih besar. Satelit Starlink yang beroperasi sekitar 600 kilometer di atas permukaan Bumi, misalnya, dapat mendukung konektivitas untuk panggilan video.
Starlink untuk Puskesmas di Daerah TerpencilWalker mengatakan Kementerian Kesehatan mulai menguji coba layanan Starlink di puskesmas yang sebelumnya belum memiliki akses internet pada Mei 2024.
Menurut dia, konektivitas tersebut memungkinkan tenaga kesehatan mengirimkan laporan, catatan imunisasi, hasil skrining kesehatan, dan pemeriksaan pertumbuhan anak secara langsung atau real time.
Sebelumnya, informasi tersebut harus dikumpulkan terlebih dahulu dan dibawa ke lokasi yang memiliki akses internet agar dapat dimasukkan ke dalam sistem.
Walker menilai manfaat konektivitas tidak berhenti pada kemampuan mengirimkan data. Setelah akses internet tersedia, tenaga kesehatan juga dapat memanfaatkan teknologi AI untuk memperoleh informasi tambahan dalam mendukung pelayanan kepada pasien.
Ia menjelaskan, model AI canggih atau frontier AI models dapat diakses dari berbagai lokasi selama tersedia koneksi internet. Dengan demikian, kemampuan AI yang dapat digunakan oleh tenaga profesional di kota besar juga berpotensi dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah terpencil.
Dalam layanan kesehatan misalnya, catatan pasien dapat disimpan secara terpusat dan dianalisis menggunakan AI untuk memberikan informasi tambahan kepada dokter dan perawat.
Teknologi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan memahami kondisi pasien berdasarkan informasi yang tersedia. Namun, Walker menegaskan bahwa AI tidak dimaksudkan untuk mengambil alih keputusan tenaga medis.
"AI tidak akan mengambil alih pengambilan keputusan dokter atau perawat. Teknologi ini hanya memberikan informasi tambahan mengenai pasien," kata Walker.
Ia menambahkan, analisis AI yang memanfaatkan informasi dari banyak dokter di seluruh dunia berpotensi memberikan nilai tambah bagi tenaga kesehatan, terutama di daerah terpencil.
Dengan dukungan tersebut, dokter dan perawat dapat memperoleh informasi tambahan untuk membantu mereka memberikan pelayanan kepada masyarakat.
AI Perlu Memperhatikan Keamanan dan Konteks LokalMeski menyoroti potensi AI, Walker mengatakan penerapannya membutuhkan sejumlah prasyarat agar teknologi tersebut dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Pertama, sistem AI harus memiliki batas otonomi yang jelas. Agen AI dapat menjalankan pekerjaan dengan cepat, tetapi manusia tetap perlu menetapkan aturan, menyetujui tindakan penting, dan memiliki kemampuan untuk menghentikan sistem kapan saja.
Kedua, sistem harus dirancang agar tetap tangguh ketika koneksi internet terputus. Menurut Walker, pekerjaan yang sedang berjalan perlu masuk dalam antrean sehingga dapat dilanjutkan setelah koneksi kembali tersedia.
Ketiga, keamanan dan kepercayaan harus menjadi perhatian. Pengembang perlu memastikan adanya pengaturan izin akses, enkripsi, serta pemahaman yang jelas mengenai tindakan yang dilakukan setiap agen AI.
Keempat, pengembangan AI perlu memperhatikan konteks lokal dan kedaulatan. Walker menekankan pentingnya mempertimbangkan budaya, bahasa, hukum, dan cara kerja masyarakat Indonesia dalam merancang sistem AI.
Kelima, masyarakat perlu memperoleh pendidikan dan pelatihan yang memadai agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal.
Walker menilai konektivitas dan kemampuan AI sebaiknya dipandang sebagai satu kesatuan investasi, bukan dua hal yang terpisah.
Selain membangun konektivitas hingga wilayah terpencil, Indonesia perlu mendukung pengembang lokal yang dapat menciptakan aplikasi AI untuk sektor kesehatan, pendidikan, dan layanan publik lainnya.
Menurut dia, keberhasilan pengembangan teknologi tidak cukup diukur dari kecepatan atau kapasitas internet yang tersedia. Ukuran keberhasilan juga perlu mencakup perangkat lunak yang dihasilkan, bisnis yang dilayani, serta masyarakat yang dapat merasakan manfaat teknologi.
Petinggi SpaceX itu menilai konektivitas dapat membawa akses informasi ke wilayah terpencil Indonesia. Sementara itu, kemampuan AI berpotensi membantu masyarakat dan pelaku usaha di daerah memanfaatkan konektivitas tersebut untuk menghasilkan solusi yang lebih luas.




