Microsoft Tawarkan Program Pengunduran Diri Sukarela ke 60.000 Karyawan, Gara-gara Mau Diganti AI?

viva.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Microsoft menghadapi desakan untuk mengubah cara kerja organisasinya agar mampu bersaing dengan OpenAI dan Anthropic. Mantan manajer produk Microsoft, Merill Fernando, menilai perusahaan teknologi raksasa itu perlu mengurangi jumlah karyawan dan lebih mengandalkan agen kecerdasan buatan atau AI agents.

Pernyataan tersebut muncul ketika Microsoft menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan yang memenuhi syarat di India, Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. 

Baca Juga :
Gara-gara AI, 25.000 PNS Terancam Kehilangan Pekerjaan!
Pemilu Israel Memanas, Netanyahu Dituding Pakai AI untuk Gambarkan Antrean Pemilih Arab

Namun, Microsoft belum menyatakan bahwa program tersebut bertujuan mempercepat adopsi AI atau berkaitan dengan kritik Fernando.

Dalam unggahannya di platform X, Fernando menilai skala bisnis, infrastruktur, dan basis pelanggan Microsoft belum cukup untuk mempertahankan daya saing apabila perusahaan tidak mampu bergerak cepat. "Microsoft membutuhkan lebih sedikit orang," tulis Fernando, seraya menambahkan bahwa perusahaan perlu lebih mengandalkan pekerjaan berbasis agen AI, yakni sistem kecerdasan buatan yang dapat menjalankan tugas dan alur kerja bertahap dengan tingkat pengawasan manusia yang berbeda-beda, sebagaimana dikutip dari The Economic Times, Rabu (28/10/2026). 

"Saat ini OpenAI dan Anthropic meluncurkan produk dengan kecepatan yang tidak bisa ditandingi Microsoft," katanya. "Microsoft harus berubah untuk bertahan hidup."

Fernando mengatakan, pengalamannya bekerja di Microsoft memperlihatkan bagaimana struktur organisasi yang rumit dapat menghambat penerapan teknologi, bahkan ketika manfaatnya sudah jelas. "Saya pernah berada di dalam perusahaan. Saya melihat bagaimana berbagai hal dibuat. Banyak organisasi kecil. Lapisan demi lapisan. Sekat-sekat di mana-mana," tulisnya.

Ia mencontohkan fitur keamanan bernama managed identities yang dikembangkan tim Microsoft Entra pada 2017. Fitur ini memungkinkan aplikasi dan layanan melakukan autentikasi tanpa menanamkan rahasia konvensional secara langsung dalam kode.

Menurut Fernando, tim pengembang kesulitan meyakinkan unit lain di Microsoft untuk mengadopsi fitur tersebut. Setiap tim memiliki prioritas dan pengambil keputusan masing-masing sehingga penerapannya berjalan lambat. 

Fernando mengklaim adopsi fitur tersebut baru meningkat setelah Microsoft mengalami insiden keamanan dan meluncurkan Secure Future Initiative (SFI), sebuah upaya perusahaan untuk memperkuat keamanan.

"Microsoft harus diretas terlebih dahulu, dan Secure Future Initiative diluncurkan setelah itu, sebelum berbagai hal benar-benar bergerak. Saat ini hampir setiap aplikasi dan layanan Microsoft mendukung managed identity. Enam tahun, dan sebuah insiden keamanan besar, untuk sampai ke sana."

Baca Juga :
Steam Next Fest 2026 Ungkap 50 Demo Terpopuler, Game Co-op dan Incremental Makin Diminati
Bill Gates Beri Peringatan soal AI, 20 Tahun ke Depan Bisa Mengubah Nasib Pekerja di Seluruh Dunia
15 Juta Pekerja Terancam Kehilangan Mata Pencaharian Gara-Gara AI, Ini Skenario Terburuk Goldman Sachs

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
UU HAM Bakal Direvisi Total, Yusril: Menyesuaikan Tantangan Zaman dan AI
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Kriminal kemarin, operasi narkoba hingga tawuran di Kebon Jeruk
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Thailand pangkas pajak bahan bakar E20, B20 selama tiga bulan
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Harga Emas Hari Ini Berpotensi Terkoreksi, Ini yang Perlu Diwaspadai
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bawa 2 Tas ke KPK, Sestama BNPB Tegaskan Isinya Dokumen Bukan Uang
• 19 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.