Sepak bola wanita masih kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Permainannya dianggap kurang cepat, minim kontak fisik, dan kurang menarik dibandingkan sepak bola pria. Komentar lain juga tak jarang bilang, “Sepak bola wanita lembek.”
Tentu saja, anggapan tersebut muncul dikarenakan banyak hal. Perkembangan sepak bola wanita yang terlambat (dan dihambat) selama puluhan tahun jadi salah satu alasan.
Celakanya, alasan tersebut memunculkan faktor-faktor lain yang mengurangi popularitas sepak bola wanita. Misal, perkembangan permainan sepak bola wanita yang rata-rata kualitasnya bisa jadi tak sekompleks pria; sampai perkembangan industri dan monetisasinya yang belum sebesar sepak bola pria.
Meski begitu, membandingkan dengan sepak bola pria dan menyederhanakan sepak bola wanita sebagai “lembek” agaknya perlu dipikirkan ulang.
Justru, menurut penelitian, pesepak bola wanita secara statistik tak sesering pria saat berpura-pura cedera. Selain itu, pesepak bola wanita juga tak mengulur-ngulur waktu, bangun lebih cepat seusai dilanggar—tak selama pesepak bola pria.
Tak Sesering Pria Memalsukan InsidenPerdebatan mengenai diving dalam sepak bola wanita pernah diteliti oleh Wake Forest Baptist Medical Center, Amerika Serikat lewat sebuah artikel berjudul “Women less likely than men to fake soccer injuries” di jurnal Research in Sports Medicine pada 2011.
Penelitian tersebut menganalisis 47 pertandingan dari Piala Dunia Wanita 2003 dan 2007. Para peneliti mencatat insiden ketika pemain menunjukkan perilaku seolah mengalami cedera, yang dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu cedera yang dinilai “pasti” dan “meragukan”.
Dalam penelitian tersebut, suatu insiden dikategorikan sebagai “cedera pasti” apabila pemain harus meninggalkan pertandingan dalam waktu lima menit setelah insiden atau terlihat mengalami pendarahan.
Hasilnya, dari 47 pertandingan yang diteliti, tercatat 270 insiden cedera, atau rata-rata 5,7 insiden per pertandingan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13,7% memenuhi kriteria “cedera pasti”.
Angka tersebut kemudian dibandingkan dengan penelitian terdahulu terhadap sepak bola pria. Penelitian serupa dilakukan oleh tim yang sama pada Copa America 2007, Piala Asia 2007, Euro 2008, dan Piala Afrika 2010.
Dari penelitian tersebut, tercatat rata-rata 11,26 insiden cedera per pertandingan. Setelah disaring dengan kriteria yang sama, hanya 7,2% insiden yang memenuhi kriteria cedera pasti.
Komparasi dua penelitian tersebut mencuatkan satu kesimpulan: proporsi “cedera pasti” dalam penelitian sepak bola wanita hampir dua kali lipat dibandingkan penelitian sepak bola pria. Sederhananya, pesepak bola lebih sering pura-pura aja.
Play on: Pesepak Bola Wanita Bangkit Lebih CepatDalam laporan lain berjudul “Study on football: Women get up faster” (2011) oleh Martin Lames dan Malte Siegle, ilmuwan olahraga Technical University of Munich, Jerman, terlihat adanya perbedaan durasi jeda permainan antara sepak bola pria dan wanita. Jeda dalam pertandingan pria cenderung berlangsung lebih lama.
Tim peneliti menganalisis 56 pertandingan sepak bola dengan mencatat lokasi, waktu, serta durasi setiap penghentian permainan. Mereka mengamati berbagai penyebab jeda, termasuk pergantian pemain, selebrasi gol, dan insiden cedera.
Salah satu temuan yang menonjol terkait dengan insiden cedera. Menurut laporan tersebut, pemain pria rata-rata tersungkur/menerima perawatan sekitar 30 detik lebih lama setelah insiden cedera dibandingkan pemain wanita sebelum akhirnya melanjutkan permainan.
Tak cuma cedera, penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa pesepak bola pria menghabiskan waktu rata-rata hampir satu menit untuk selebrasi gol, dua kali lipat rerata pesepak bola wanita. Selain itu, pergantian pemain dalam pertandingan pria rata-rata memakan waktu 45 detik, hampir 10 detik lebih lama dibandingkan pertandingan wanita.
Mengenai temuannya ini, Prof. Martin Lames menjelaskan bahwa secara umum, perbedaan waktu ini berarti pemain pria lebih menampilkan dirinya lebih menonjol dibandingkan pria.
“Alasannya bisa jadi karena sepak bola pria biasanya menarik lebih banyak penonton dan mendapatkan perhatian lebih dari media,” ujar Lames.
Pada akhirnya, menilai sepak bola wanita sebagai “lembek” karena kurang agresif atau mudah terjatuh tak bisa digeneralisasi. Dua penelitian tadi membuktikan, pesepak bola wanita justru lebih bersikap ksatria dan tampil tangguh dalam menghadapi pelanggaran ataupun cedera.
Di sisi lain, bisa jadi karena industri sepak bola pria sudah berkembang sedemikian besar, sehingga dorongan untuk menang, dengan cara apa pun termasuk usaha-usaha mengelabui wasit, lebih banyak dilakukan.
Bisa jadi, seiring perkembangan industri sepak bola wanita, cara-cara cerdik-licik seperti diving dan pura-pura cedera untuk mendorong wasit menghukum pemain lawan bakal lebih prevalen di sepak bola wanita.
Sebab, pada akhirnya, kontak fisik, adu taktik, hingga risiko cedera merupakan bagian dari sepak bola, baik yang dimainkan oleh pria maupun wanita.
Jadi, sudah waktunya melihat permainan mereka lebih dekat, bukan sekadar menilainya dari stereotip yang selama ini melekat.





