Moncong Meriam Mengarah ke Selatan! Korut Jarang Terlihat Mengerahkan Artileri Swagerak di Perbatasan

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Pada Senin (23/10), Korea Utara secara tidak biasa memperlihatkan pengerahan tiga unit artileri swagerak di dekat perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan. Moncong meriam tersebut diarahkan langsung ke selatan, mengirimkan sinyal militer yang kuat.

Menurut konfirmasi kantor berita Korea Selatan, Yonhap, ketiga kendaraan lapis baja tersebut merupakan artileri swagerak berkaliber 122 milimeter.

Saksi mata Reuters juga mengamati bahwa selain tiga meriam yang mengarah ke selatan tersebut, terdapat sekitar 20 hingga 30 tentara Korea Utara yang sedang melakukan pekerjaan pembangunan pagar di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ).

Para pakar militer Korea Selatan menilai bahwa tindakan Korea Utara yang secara mencolok memperlihatkan artileri beratnya merupakan hal yang sangat tidak biasa. Pyongyang tampaknya ingin menunjukkan melalui tindakan nyata bahwa mereka bermaksud menjalankan kebijakan perbatasan dengan menggunakan kekuatan militer, bukan melalui dialog.

Langkah tersebut sekaligus menjadi peringatan kepada Seoul agar tidak memperuncing gesekan di perbatasan, demi mencegah terjadinya bentrokan yang tidak disengaja.

Pemicu langsung aksi intimidasi militer kali ini adalah insiden ledakan ranjau darat di Zona Demiliterisasi pada 21 September.

Pekan lalu, Korea Selatan mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menyatakan bahwa ledakan tersebut dipicu oleh tentara Korea Utara yang memasuki wilayah perbatasan untuk memasang ranjau darat. 

Seoul menilai tindakan itu sebagai pelanggaran serius terhadap Perjanjian Gencatan Senjata Korea. Penilaian tersebut juga telah dikonfirmasi oleh Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNC), yang bertanggung jawab mengawasi pelaksanaan perjanjian tersebut.

Namun, Korea Utara dengan tegas membantah tuduhan itu.

Dalam surat balasannya kepada Dewan Keamanan pada Minggu, Pyongyang justru menuduh Seoul mengarang insiden ranjau darat tersebut dan berusaha mencemarkan pembangunan pertahanan perbatasan Korea Utara yang disebutnya normal, dengan melabelinya sebagai “invasi militer”.

Korea Utara juga memperingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap kedaulatannya akan memicu serangan balasan untuk membela diri. Korea Selatan, tegas Pyongyang, harus bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang mungkin timbul.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan bahwa surat Korea Utara hanya mengulang posisi yang selama ini telah disampaikan, sekaligus berupaya membenarkan secara paksa kegiatan pembangunan di perbatasan.

Terkait tuduhan Korea Utara bahwa militer Korea Selatan melepaskan tembakan, Seoul menjelaskan bahwa tindakan tersebut hanyalah siaran peringatan dan tembakan peringatan yang dilakukan sesuai prosedur ketika tentara Korea Utara melintasi Garis Demarkasi Militer.

Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara terus membangun jalan taktis dan pagar di sepanjang perbatasan serta memasang ranjau darat. Meskipun Seoul kembali mengusulkan dialog untuk meredakan ketegangan, suasana di perbatasan Semenanjung Korea masih diselimuti ancaman konflik, di tengah sikap keras yang diperlihatkan Pyongyang.

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Respons Usul DEN, Eks Pimpinan KPK: Kerugian Negara Perlu Dibedakan dari Risiko Bisnis
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Prajurit Kopassus jadi Tersangka Kasus Lalai Menggunakan Senjata
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sambut HUT ke-70, Astra Apresiasi Pemuda Inspiratif dan Luncurkan Program Sosial
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Siap-Siap Hemat! Pemerintah Guyur Diskon Tiket Pesawat, Kereta, hingga Kapal
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Menpora Erick Thohir Ajak Generasi Muda Perkuat Persatuan Jelang 100 Tahun Sumpah Pemuda, Soroti Tantangan Lapangan Kerja
• 9 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.