Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak murid mengenal keberadaan, sifat, manfaat, dan pemanfaatan air, sekaligus memahami pentingnya menjaga kelestariannya melalui cerita dan ilustrasi menarik dalam buku Amerta karya Tama Kunkun.
Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen Supriyatno di Jakarta Pusat pada Rabu menjelaskan Amerta merupakan salah satu buku yang dihasilkan melalui program kurasi tahun 2024.
Program ini, kata dia, menyeleksi naskah-naskah potensial dari berbagai wilayah untuk kemudian dikembangkan, antara lain melalui pendampingan para maestro penulis, menjadi buku yang sesuai dengan jenjang dan kemampuan baca anak.
“Buku-buku yang kami hasilkan lewat program kurasi ini tentunya kami sesuaikan dengan tema-tema yang menjadi program Kemendikdasmen. Semoga bisa menginspirasi Bapak/Ibu untuk turut berkontribusi dalam penyediaan buku yang layak baca oleh anak-anak, untuk mengembangkan kemampuan membaca,” kata Supriyatno.
Melalui kegiatan seperti Bedah Buku SIBI: Amerta yang melibatkan penulis, guru, akademisi, praktisi, dan masyarakat, pihaknya berharap praktik baik pemanfaatan buku dapat semakin luas diterapkan.
Dengan sumber belajar yang sesuai dan menarik, ia mengatakan kegiatan membaca dapat menjadi pintu masuk bagi murid untuk memahami lingkungan sekaligus membangun kepedulian terhadap kelestarian air.
Baca juga: Kemendikdasmen: Puncak BBS momen perkuat eksistensi Bahasa Indonesia
Penulis Amerta Tama Kunkun menjelaskan buku tersebut dikembangkan dengan mengangkat tema pelestarian lingkungan.
Menurut dia, pemahaman tentang air perlu diperkenalkan sejak dini agar anak-anak mengetahui manfaat air sekaligus memahami dampak perilaku boros dan pencemaran air.
Nama Amerta, kata dia, berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna “air kehidupan”. Melalui buku ini, Tama ingin mengajak anak-anak memahami bahwa air merupakan sumber kehidupan yang perlu dijaga.
Dalam proses penyusunan, Tama mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk buku pelajaran, buku elektronik, dan internet.
Ia mengatakan tantangannya adalah menerjemahkan materi ilmiah tentang air menjadi bahasa yang mudah dipahami anak-anak.
Untuk itu, Tama menghadirkan tokoh Amerta sebagai personifikasi air yang membawakan cerita, dilengkapi ilustrasi dan fakta-fakta menarik.
Baca juga: Kemendikdasmen siap gratiskan UKBI bagi guru mulai 2027
“Kita berusaha menempatkan sebuah tokoh karakter yang biasanya anak-anak suka, seakan-akan dia yang membawakan ceritanya. Bagaimana supaya adik-adik tergugah untuk tidak boros dan mencemari air. Di bagian lain, kita juga memberikan ilustrasi tentang mitigasi bencana,” kata Tama.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari murid ketika buku digunakan dalam pembelajaran.
Guru SD Negeri 006 Kramat Pagi Mohamad Anwar Kurnaedi Saputra mengatakan murid menunjukkan antusiasme dan minat baca yang baik.
Menurut dia, Amerta menghadirkan perpaduan materi ilmiah dengan penyampaian berbentuk cerita sehingga memberikan pengalaman membaca yang berbeda bagi anak.
Ia menilai tokoh cerita, ilustrasi, dan fakta unik dalam buku menjadi unsur penting untuk menarik perhatian murid sekolah dasar.
Materi yang disampaikan melalui teks dan visual juga dapat memantik pertanyaan serta rasa ingin tahu anak. Pertanyaan tersebut kemudian dapat dikembangkan guru melalui sumber belajar lain, diskusi, dan pengamatan.
Baca juga: Kemendikdasmen ajak pemuda jaga eksistensi Bahasa Indonesia
Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen Supriyatno di Jakarta Pusat pada Rabu menjelaskan Amerta merupakan salah satu buku yang dihasilkan melalui program kurasi tahun 2024.
Program ini, kata dia, menyeleksi naskah-naskah potensial dari berbagai wilayah untuk kemudian dikembangkan, antara lain melalui pendampingan para maestro penulis, menjadi buku yang sesuai dengan jenjang dan kemampuan baca anak.
“Buku-buku yang kami hasilkan lewat program kurasi ini tentunya kami sesuaikan dengan tema-tema yang menjadi program Kemendikdasmen. Semoga bisa menginspirasi Bapak/Ibu untuk turut berkontribusi dalam penyediaan buku yang layak baca oleh anak-anak, untuk mengembangkan kemampuan membaca,” kata Supriyatno.
Melalui kegiatan seperti Bedah Buku SIBI: Amerta yang melibatkan penulis, guru, akademisi, praktisi, dan masyarakat, pihaknya berharap praktik baik pemanfaatan buku dapat semakin luas diterapkan.
Dengan sumber belajar yang sesuai dan menarik, ia mengatakan kegiatan membaca dapat menjadi pintu masuk bagi murid untuk memahami lingkungan sekaligus membangun kepedulian terhadap kelestarian air.
Baca juga: Kemendikdasmen: Puncak BBS momen perkuat eksistensi Bahasa Indonesia
Penulis Amerta Tama Kunkun menjelaskan buku tersebut dikembangkan dengan mengangkat tema pelestarian lingkungan.
Menurut dia, pemahaman tentang air perlu diperkenalkan sejak dini agar anak-anak mengetahui manfaat air sekaligus memahami dampak perilaku boros dan pencemaran air.
Nama Amerta, kata dia, berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna “air kehidupan”. Melalui buku ini, Tama ingin mengajak anak-anak memahami bahwa air merupakan sumber kehidupan yang perlu dijaga.
Dalam proses penyusunan, Tama mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk buku pelajaran, buku elektronik, dan internet.
Ia mengatakan tantangannya adalah menerjemahkan materi ilmiah tentang air menjadi bahasa yang mudah dipahami anak-anak.
Untuk itu, Tama menghadirkan tokoh Amerta sebagai personifikasi air yang membawakan cerita, dilengkapi ilustrasi dan fakta-fakta menarik.
Baca juga: Kemendikdasmen siap gratiskan UKBI bagi guru mulai 2027
“Kita berusaha menempatkan sebuah tokoh karakter yang biasanya anak-anak suka, seakan-akan dia yang membawakan ceritanya. Bagaimana supaya adik-adik tergugah untuk tidak boros dan mencemari air. Di bagian lain, kita juga memberikan ilustrasi tentang mitigasi bencana,” kata Tama.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari murid ketika buku digunakan dalam pembelajaran.
Guru SD Negeri 006 Kramat Pagi Mohamad Anwar Kurnaedi Saputra mengatakan murid menunjukkan antusiasme dan minat baca yang baik.
Menurut dia, Amerta menghadirkan perpaduan materi ilmiah dengan penyampaian berbentuk cerita sehingga memberikan pengalaman membaca yang berbeda bagi anak.
Ia menilai tokoh cerita, ilustrasi, dan fakta unik dalam buku menjadi unsur penting untuk menarik perhatian murid sekolah dasar.
Materi yang disampaikan melalui teks dan visual juga dapat memantik pertanyaan serta rasa ingin tahu anak. Pertanyaan tersebut kemudian dapat dikembangkan guru melalui sumber belajar lain, diskusi, dan pengamatan.
Baca juga: Kemendikdasmen ajak pemuda jaga eksistensi Bahasa Indonesia





