Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara mengejutkan membuka peluang untuk membiarkan lebih banyak bahan bakar diesel atau solar dari Rusia masuk ke pasar global. Keputusan pelonggaran sanksi energi ini nantinya akan sangat bergantung pada perilaku Moskow ke depannya.
Mengutip CNBC International, Rabu (28/10/2026), Menteri Energi AS Chris Wright dalam wawancaranya pada Selasa menyebut bahwa penangguhan sanksi ekspor diesel Rusia oleh pemerintahan Presiden Donald Trump pada awal bulan ini merupakan sebuah insentif agar Moskow segera mengakhiri perang di Ukraina. Ia menilai langkah strategis ini juga akan membantu pasokan bahan bakar secara marjinal di pasaran.
Berdasarkan data platform pelacakan kapal MarineTraffic, kapal tanker berbendera Rusia, Talisman, diperkirakan akan tiba di Pantai Timur AS pada 9 November mendatang. Selain itu, kapal tanker lainnya bernama Leruo juga telah berangkat dari Rusia menuju Pantai Atlantik tanpa mendeklarasikan AS secara eksplisit sebagai tujuan akhirnya.
Wright menyebut bahwa kemungkinan besar akan ada lebih banyak kapal tanker bermuatan solar Rusia yang berlayar di bawah aturan pengecualian sanksi AS ini. "Ini adalah upaya untuk memberikan umpan di depan Rusia," tuturnya.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah mencapai kesepakatan dengan Presiden Vladimir Putin agar Rusia mengekspor 800.000 metrik ton diesel pada bulan Oktober dan November, yang kemudian akan disusul oleh tambahan satu juta ton lainnya.
Kesepakatan ini dicapai saat Trump menghadapi tekanan politik yang sangat masif untuk menurunkan lonjakan harga diesel menjelang pemilihan paruh waktu AS pada Selasa pekan depan. Harga bahan bakar di seluruh negeri diketahui telah meroket tajam sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu.
Meski demikian, para analis menilai bahwa volume diesel dalam kesepakatan Trump-Putin tersebut tidak akan menurunkan harga secara material di pasaran. Hal ini lantaran angka pengirimannya sangat kecil jika dibandingkan dengan total permintaan global yang mencapai sekitar 28 juta barel per hari.
Pengiriman pertama dari Rusia sebesar 300.000 metrik ton diketahui hanya setara dengan sekitar 75.000 barel per hari jika digulirkan selama satu bulan. Sementara itu, tahap kedua sebesar 500.000 metrik ton hanya setara dengan sekitar 124.000 barel per hari.
Langkah ini sontak membuat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melontarkan kritik tajam. Sepanjang tahun ini, Kyiv tercatat terus menggempur kilang-kilang minyak Rusia dalam upaya memangkas pendapatan energi Kremlin dan membatasi kemampuan Moskow untuk mengobarkan perangnya.
Serangan bertubi-tubi tersebut sebelumnya telah memaksa Moskow untuk menerapkan larangan ekspor diesel pada bulan Juli, yang kini telah dicabut sebagian demi memenuhi kesepakatan Trump-Putin.
Kesepakatan ini tak ayal juga memicu kemarahan di dalam negeri AS. Sejumlah senator dari Partai Republik mengecam keras langkah tersebut dengan menandatangani surat bersama rekan-rekan dari Partai Demokrat untuk mengutuk perjanjian kontroversial itu.
"Hadiah bagi musuh kita dan pengkhianatan terhadap Sekutu kita," katanya.
(tps/luc)




