Survei terbaru HSBC menunjukkan rata-rata 70% perusahaan di sebelas negara Asia Pasifik menghadapi kesulitan dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI) ke sistem keuangan eksisting mereka. Namun, persentase ini lebih tinggi di Indonesia.
Sebanyak 80% perusahaan di Indonesia menghadapi kesulitan mengadopsi AI pada sistem keuangan eksisting mereka.
“Hal ini menunjukkan kekhawatiran nyata betapa berat tantangan yang dihadapi perusahaan (Indonesia). Sebaliknya, di Cina, hanya 40% perusahaan yang menghadapi tantangan adopsi AI pada sistem keuangan eksisting,” kata HSBC dalam laporan tersebut.
Tantangan integrasi AI pada sistem keuangan yang sudah ada ini menjadi kekhawatiran manajer keuangan perusahaan Indonesia lebih daripada persoalan lainnya seperti keterbatasan kapasitas manusia, risiko AI, bahkan biaya adopsi AI.
Menurut Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia Anne Suhandojo, hal ini sebab masih ada perusahaan-perusahaan di Indonesia yang melakukan pencatatan keuangan secara manual.
“Kalau masih pembukuan manual dengan yang menggunakan Excel, tentunya kualitas datanya sudah berbeda. Kalau datanya tidak akurat, bagaimana AI bisa membantu? Karena AI hanya tools. Tapi perusahaan yang sudah secara database bagus, rapi, terkonsolidasi, AI akan sangat membantu,” kata Anne dalam acara perilisan survei HSBC di Jakarta, Kamis (29/10).
Padahal, adopsi AI untuk sistem keuangan perusahaan di Indonesia cenderung pesat. Porsinya sudah mencapai 93% perusahaan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional yang sebesar 81%. Bahkan, sebanyak 55% perusahaan sudah menggunakan AI untuk efisiensi sistem keuangan mereka, seperti untuk pengelolaan dan validasi data, sampai untuk pengecekan tagihan pembayaran.
Sedangkan sebanyak 34% manajer keuangan di Indonesia sudah menggunakan AI agent untuk mengotomatisasi proses transaksi keuangan, dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan implementasi rata-rata negara Asia Pasifik yang sebesar 17%.
“Banyak sistem keuangan perusahaan di Indonesia masih dalam tahap awal adopsi AI. Umumnya, AI digunakan untuk alat produktivitas personal seperti menulis email atau merangkum rapat. Sedangkan penggunaan data untuk proyeksi keuangan sampai mengatur cash flows perusahaan masih manual,” kata HSBC dalam survei tersebut.
Jika dibandingkan dengan rata-rata negara Asia Pasifik lainnya, manajer keuangan perusahaan Indonesia cenderung lebih sedikit yang mengadopsi AI yang dikustomisasi untuk aktivitas keuangan spesifik. Adopsi AI dalam sistem keuangan perusahaan Indonesia cenderung lebih banyak untuk penggunaan genAI dan otomatisasi.
Untuk diketahui, survei “Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026” dilakukan terhadap lebih dari 680 manajer keuangan perusahaan-perusahaan di Australia, Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Survei dilakukan pada periode Maret sampai Juli 2026, dengan mempelajari bagaimana adopsi AI mempengaruhi pengelolaan keuangan perusahaan.




