ExxonMobil Corp mencatat laba di atas ekspektasi analis, ditopang oleh lonjakan harga bensin dan solar yang mendorong kinerja bisnis pengolahan minyak ke rekor tertinggi.
Kondisi ini terjadi ketika konflik di Teluk Persia dan Rusia mengguncang pasar energi global.
Mengutip Bloomberg, perusahaan yang berbasis di Texas tersebut menyampaikan dalam pernyataannya pada Jumat (30/10) bahwa laba per saham yang disesuaikan pada kuartal III mencapai USD 4,23.
Angka tersebut lebih tinggi 10 sen dibandingkan rata-rata estimasi analis. Raksasa minyak itu juga menaikkan dividen untuk tahun ke-44 berturut-turut dan berkomitmen mempertahankan program pembelian kembali (buyback) saham senilai USD 20 miliar per tahun.
Kenaikan harga bahan bakar di tingkat konsumen menjadi keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan minyak raksasa. Namun, kondisi itu juga memicu ketidakpuasan masyarakat ketika Presiden AS Donald Trump dan Partai Republik bersiap menghadapi pemilihan paruh waktu yang krusial.
Para pemilih secara konsisten menyebut biaya hidup sebagai salah satu kekhawatiran utama. Tingginya harga bahan bakar bahkan mengubah wilayah yang secara tradisional menjadi basis kuat Partai Republik, seperti Texas, Kansas, dan Alaska, menjadi medan persaingan politik pada musim kampanye kali ini.
Divisi pengolahan minyak ExxonMobil membukukan laba sebesar USD 9,05 miliar atau sekitar Rp 164,17 triliun (kurs Rp 18.147) pada kuartal III. Jumlah laba tersebut hampir lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Jumat (23/10) sebelumnya, BP Plc juga melaporkan laba tertinggi dalam 18 tahun yang ditopang oleh tingginya keuntungan dari bisnis pengolahan minyak.
Harga minyak internasional telah naik hampir 60 persen sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari. Di tengah kondisi tersebut, sektor pengolahan minyak menjadi salah satu titik hambatan tambahan dalam rantai pasok energi global.
Perang di Timur Tengah serta serangan besar-besaran Ukraina terhadap infrastruktur bahan bakar Rusia telah melumpuhkan produksi bahan bakar dari sejumlah pemasok utama.
Trump menepis kekhawatiran mengenai harga bensin dan solar yang secara rata-rata lebih tinggi selama masa jabatan keduanya dibandingkan era pendahulunya, Joe Biden. Dalam sebuah kampanye di Texas pekan ini, ia mengatakan harga bahan bakar akan turun “dalam waktu dekat”.
Beberapa hari sebelumnya, Trump memuji perusahaan-perusahaan minyak AS karena telah menghasilkan “keuntungan besar” bagi negara. Pernyataan tersebut tampak berbalik dari kritiknya pada musim panas lalu ketika ia menuding perusahaan-perusahaan minyak “menghasilkan terlalu banyak uang”.
Sebagai operator sistem kilang terbesar di luar China, ExxonMobil berada dalam posisi yang menguntungkan untuk memanfaatkan kondisi tersebut.
Chief Financial Officer ExxonMobil, Neil Hansen, mengatakan lonjakan laba tersebut bukan semata-mata keuntungan tak terduga, melainkan hasil dari peningkatan produksi yang dilakukan perusahaan pada saat pasokan sangat dibutuhkan.
Sejak 2019, ExxonMobil telah meningkatkan produksi distilat di kawasan Gulf Coast sebesar 40 persen. Peningkatan ini merupakan hasil investasi besar sejak 2020, ketika sejumlah pesaing justru menjual fasilitas produksi bahan bakar atau mengalihfungsikannya menjadi pabrik bahan bakar nabati.
“Respons paling berarti yang dapat kami berikan sebagai perusahaan terhadap kenaikan harga komoditas global tersebut adalah memanfaatkan setiap peluang yang tersedia untuk meningkatkan pasokan,” kata Hansen dalam sebuah wawancara.
Ia menambahkan, ExxonMobil saat ini memasok lebih banyak solar ke pasar di tengah kondisi yang sangat terbatas.
Secara keseluruhan, laba perusahaan tersebut menjadi yang tertinggi keempat sepanjang 156 tahun sejarah ExxonMobil. Saham perusahaan telah naik 20 persen sejak perang dimulai dan menyentuh rekor tertinggi pada pekan ini.
Memasuki bulan kesembilan konflik Iran, gangguan terhadap pasar energi global belum menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun semakin banyak kapal yang kini melintasi Selat Hormuz. Selama ini, pasar sangat bergantung pada pasokan dari cadangan strategis dan komersial. Namun, seiring menipisnya penyangga pasokan tersebut, volatilitas harga diperkirakan akan meningkat.
“Kendala utamanya masih terletak pada produk bahan bakar jadi. Ini bukan sesuatu yang bisa diatasi dalam semalam,” sebut Hansen.





