Pendukung Manchester City menuduh tiga klub raksasa Liga Inggris melakukan konspirasi untuk menjatuhkan posisi klub mereka dalam regulasi keuangan. Dikutip dari laporan ESPN, perselisihan ini mencuat setelah hasil panel independen menyatakan Manchester City bersalah atas dugaan pelanggaran aturan finansial selama sembilan musim. Tuduhan ini mengarah kepada Liverpool, Manchester United, dan Arsenal yang sering disebut sebagai Red Cartel oleh para pendukung The Citizens.
Ketiga klub dengan seragam dominan merah tersebut dianggap bersekutu untuk mempertahankan dominasi sejarah mereka di sepak bola Inggris. Jika gelar juara Manchester City dicabut, delapan trofi Liga Inggris akan didistribusikan ulang kepada ketiga pesaing utama tersebut.
Pertemuan Rahasia di New York dan Sejarah Penolakan RegulasiSebuah foto makan malam di New York pada tahun 2017 menjadi bukti utama bagi suporter Manchester City terkait dugaan aliansi gelap ini. Pertemuan tersebut dihadiri oleh pemilik Manchester United, pemilik Liverpool John W. Henry, serta petinggi Arsenal Ivan Gazidis tanpa kehadiran perwakilan Manchester City. Sumber internal menyebutkan bahwa manajemen Manchester City tidak pernah menerima alasan ketidakhadiran tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk kesepakatan tertutup.
Penolakan terhadap kekuatan finansial Manchester City sebenarnya telah terlihat sejak kepemilikan Sheikh Mansour bin Zayed al Nahyan dimulai pada tahun 2008. Mantan manajer Arsenal Arsene Wenger dan mantan CEO Manchester United David Gill secara terbuka menyuarakan perlunya pembatasan finansial ketat. Langkah tersebut dinilai oleh pihak internal Manchester City sebagai upaya sistematis untuk membatasi ruang gerak mereka di pasar transfer.
Dominasi Media dan Pandangan Suporter Terhadap Aturan KeuanganSuporter Manchester City merasa tekanan terhadap klub mereka makin kuat akibat dominasi mantan pemain kelompok merah di media massa. Nama-nama besar seperti Gary Neville, Jamie Carragher, dan Thierry Henry dinilai lebih mendominasi panggung analisis ketimbang mantan pemain Manchester City. Ketimpangan opini publik ini memperkuat keyakinan suporter bahwa klub mereka sedang disudutkan dari berbagai sisi.
Pemegang tiket musiman Manchester City Phil Hardman menyampaikan kekecewaannya terhadap pengelolaan Liga Inggris yang dianggap seperti klub pribadi. Dia menegaskan bahwa “Pemilik klub kartel merah telah mendorong agenda aturan untuk melindungi status serta posisi mereka.” Suporter lain bernama Mark Gardner menambahkan bahwa Financial Fair Play sengaja diciptakan untuk menjaga status quo agar klub luar tidak bisa menembus papan atas.
Aliansi Alami Demi Kepentingan Bisnis dan Masa Depan LigaPandangan lain menilai kerja sama antara Liverpool, Manchester United, dan Arsenal merupakan hal yang alami dalam dunia bisnis olahraga. Chief Intelligence Officer dari Sportsology Chris Brady mengungkapkan bahwa “Tindakan mereka adalah melindungi kepentingan terbaik sendiri dari siapa pun yang dapat menggoyahkan stabilitas.” Menurutnya, aliansi informal tersebut bertujuan untuk menjaga kesehatan finansial Liga Inggris secara keseluruhan.
Manchester City saat ini masih terus bersaing di papan atas klasemen Liga Inggris sambil menanti kepastian hukum atas sengketa finansial ini. Seluruh pihak berharap ada resolusi yang jelas pada akhir musim 2026-2027 agar kompetisi dapat berjalan lebih kondusif. Bagaimanapun hasil akhirnya nanti, tuduhan keberadaan kartel ini telah memberi warna tersendiri dalam sejarah persaingan sepak bola Inggris.





