BANDUNG, KOMPAS - Bencana akibat cuaca ekstrem mulai mengancam sejumlah wilayah di Jawa Barat pada masa pancaroba atau peralihan dari musim panas ke hujan dalam dua hari terakhir. Angin kencang disertai hujan deras di Kabupaten Kuningan serta banjir menerjang Kota Bandung dan Subang mengakibatkan lebih dari 100 unit rumah warga mengalami kerusakan.
Video luapan air banjir bercampur material tanah yang menerjang pemukiman warga di Jalan Siliwangi, Kota Bandung, Jumat (30/10/2026) malam beredar luas di media sosial. "Air masuk, air masuk, " teriak seorang warga yang rumahnya terdampak.
Video ini pun viral dan beragam respon warganet. Tanggul sungai yang jebol membuat material kirmir menerjang rumah-rumah di sekitar bantaran sungai.
Peristiwa yang terjadi di Kelurahan Cipaganti itu berlangsung setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama beberapa jam. Debit air sungai yang meningkat mengakibatkan tanggul tidak kuat menahan tekanan hingga akhirnya roboh. Dampaknya, dua rumah mengalami rusak berat dan satu rumah rusak ringan. Sebanyak 34 rumah warga lainnya terdampak sedimen lumpur.
Pada hari bersamaan, berjarak 30 kilometer dari Kota Bandung, banjir menerjang Kampung Palasari, di daerah Ciater, Kabupaten Subang. 16 warga bersama delapan unit rumah dan satu fasilitas pendidikan terdampak.
Sebelum kejadian di Kota Bandung dan Subang, bencana akibat cuaca ekstrem juga melanda Kabupaten Kuningan, Kamis (29/10/2026) sore. Hujan deras disertai angin kencang menerjang sejumlah desa menyebabkan puluhan rumah rusak dan pohon tumbang.
Desa Mekarsari, Kecamatan Lebakwangi, menjadi salah satu wilayah dengan dampak kerusakan paling besar. Sebanyak 75 unit rumah dan satu badan usaha milik desa mengalami kerusakan.
Angin kencang turut merobohkan pohon setingi sekitar 30 meter hingga menutup akses jalan. Di Desa Buniasih, sebanyak 15 rumah terdampak, sedangkan 1 unit rumah masing-masing di Desa Karangtengah dan Desa Maleber serta 2 unit rumah di Desa Cineumbey juga terdampak.
Bencana di Kuningan berdampak terhadap 73 keluarga atau 281 jiwa di Desa Mekarsari. Sebanyak dua keluarga dengan total delapan warga harus mengungsi ke rumah kerabatnya.
Pranata Humas Ahli Muda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Hadi Rahmat Hardjasasmita, Minggu (1/11/2026), memaparkan, cuaca esktrem seperti hujan disertai angin kencang mulai terjadi saat masa pancaroba di sejumlah wilayah kota dan kabupaten di Jabar. Kondisi ini mengakibaktkan terjadi bencana hidrometeorologi dalam sepekan terakhir.
Ia menuturkan, bencana hidrometeorologi tak hanya memicu kerusakan rumah warga dan fasilitas umum. Keselamatan warga juga terancam dengan pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang. Data BPBD Jabar tahun 2025 lalu, lima orang tewas karena tertimpa pohon saat angin kencang.
“Kuningan, Subang dan Kota Bandung merupakan daerah-daerah yang terdampak bencana hidrometeorologi dalam dua hari terakhir. Semuanya dipicu cuaca ekstrem saat pancaroba,” papar Hadi.
Hadi menyatakan, seluruh jajaran BPBD Jawa Barat saat ini dalam posisi bersiaga penuh untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem. Diketahui fenomena alam ini rawan terjadi saat masa pancaroba hingga musim hujan tiba pada akhir tahun ini.
Ia meminta warga meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi bencana hidrometeorologi. Menurutnya, mayoritas peristiwa bencana yang memakan banyak korban karena terlambatnya upaya mitigasi mandiri, seperti evakuasi ke tempat aman saat hujan lebat terjadi selama beberapa jam.
Diketahui Jabar termasuk salah satu provinsi yang rawan terjadi bencana hidrometeorologi di Indonesia. Terjadi sekitar 1.500 kejadian bencana dengan jumlah korban jiwa 79 orang dan 750.266 warga yang terdampak sepanjang tahun 2025. 166.436 unit rumah yang mengalami kerusakan.
“Seluruh jajaran BPBD di 27 kabupaten dan kota di Jabar telah bersiaga. Warga yang bermukim dekat bantaran sungai dan lereng gunung dihimbau agar segera mencari tempat aman jika terjadi hujan deras lebih dari sejam,” tuturnya
Sementara Prakirawan Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Patria Wirayudha menuturkan, fenomena hujan pada masa pancaroba terjadi secara mendadak dan bisa disertai angin kencang. Hujan pun bisa mencapai intensitas lebat hingga ekstrem selama berjam-jam bahkan harian.
“Potensi terjadi hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem saat masa peralihan sangat. Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi terhadap bencana hidrometeorologi,” imbaunya.
Adapun BMKG memprediksi awal musim hujan mulai berlangsung dari Oktober hingga November 2026. Sebagian besar wilayah di Jabar baru memasuki musim hujan pada November.
Kepala Stasiun Klimatologi Jabar Rahkmat Prasetia mengatakan, 24 persen wilayah Jabar diprediksi memasuki awal musim hujan pada Oktober. Wilayah itu berada di sebagian kecil bagian barat, tengah, dan timur Jabar.
Ia pun memaparkan, 49 persen wilayah Jabar baru memasuki awal musim hujan pada November ini. Sebanyak 25 persen wilayah Jabar lainnya diperkirakan mengalaminya pada bulan Desember, terutama di wilayah Jabar bagian utara dan sebagian kecil di barat.
Sementara 96 persen wilayah Jabar mengalami pelambatan awal musim hujan. Durasi musim hujan juga diperkirakan pendek, sedangkan puncak hujan mayoritas terjadi pada bulan Februari 2027.
”Mayoritas awal musim hujan di Jabar diprediksi pada November sebesar 49 persen. Awal musim juga diperkirakan lebih lambat dibandingkan kondisi normal,” kata Rakhmat.





