Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya penguatan literasi digital secara konsisten agar anak mampu mengekspresikan dan mengembangkan budaya di ruang digital secara kritis dan bertanggung jawab.
"Ruang digital memang menjadi panggung baru bagi ekspresi budaya, tetapi tanpa literasi yang kuat, anak-anak kita hanya akan menjadi konsumen konten, bukan pewaris budaya yang kritis," kata Lestari dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Menurut dia, anak perlu dibekali kemampuan menyaring, memeriksa, dan menggunakan informasi secara etis, bukan sekadar terampil mengoperasikan perangkat digital.
Penanaman literasi digital perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Keluarga, kata dia, merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk mempelajari nilai dan tanggung jawab.
Lestari yang juga anggota Komisi X DPR RI itu mengatakan penguatan literasi digital di sekolah perlu menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan, bukan sekadar program tambahan yang bersifat seremonial.
Dia merujuk pada empat pilar literasi digital nasional, yakni kecakapan digital, keamanan digital, budaya digital, dan etika digital.
Menurut dia, aspek budaya dan etika digital relevan untuk membangun kemampuan anak dalam mengekspresikan budaya di ruang digital.
"Yang kita butuhkan adalah anak yang mampu berpikir kritis sebelum memercayai, memeriksa sebelum membagikan, dan menghargai perbedaan dalam setiap interaksi. Itulah wujud literasi yang berbasis budaya," kata Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat.
Selain menjadi pengguna informasi yang kritis, anak juga perlu dibekali kemampuan memproduksi konten yang bernilai. Ekspresi budaya di ruang digital perlu diarahkan pada kegiatan produktif yang memperkuat karakter dan identitas bangsa.
"Anak-anak kita perlu dibekali kemampuan memproduksi konten yang bernilai, bukan hanya menjadi penonton," ucap Rerie.
Dia mengingatkan bahwa upaya meningkatkan literasi perlu diwujudkan melalui kebijakan dan pembiasaan yang berkelanjutan.
Untuk itu, dia mendorong fokus pembangunan sektor budaya dan pendidikan dimanfaatkan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Ruang digital diharapkan menjadi ruang budaya yang memperkuat karakter dan nilai-nilai kebangsaan.
"Kemajuan teknologi wajib diiringi kebijaksanaan. Jika literasi digital ditanamkan secara konsisten, ruang digital akan menjadi taman budaya yang subur bagi generasi penerus, bukan sekadar arus informasi tanpa arah," katanya.
"Ruang digital memang menjadi panggung baru bagi ekspresi budaya, tetapi tanpa literasi yang kuat, anak-anak kita hanya akan menjadi konsumen konten, bukan pewaris budaya yang kritis," kata Lestari dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Menurut dia, anak perlu dibekali kemampuan menyaring, memeriksa, dan menggunakan informasi secara etis, bukan sekadar terampil mengoperasikan perangkat digital.
Penanaman literasi digital perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Keluarga, kata dia, merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk mempelajari nilai dan tanggung jawab.
Lestari yang juga anggota Komisi X DPR RI itu mengatakan penguatan literasi digital di sekolah perlu menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan, bukan sekadar program tambahan yang bersifat seremonial.
Dia merujuk pada empat pilar literasi digital nasional, yakni kecakapan digital, keamanan digital, budaya digital, dan etika digital.
Menurut dia, aspek budaya dan etika digital relevan untuk membangun kemampuan anak dalam mengekspresikan budaya di ruang digital.
"Yang kita butuhkan adalah anak yang mampu berpikir kritis sebelum memercayai, memeriksa sebelum membagikan, dan menghargai perbedaan dalam setiap interaksi. Itulah wujud literasi yang berbasis budaya," kata Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat.
Selain menjadi pengguna informasi yang kritis, anak juga perlu dibekali kemampuan memproduksi konten yang bernilai. Ekspresi budaya di ruang digital perlu diarahkan pada kegiatan produktif yang memperkuat karakter dan identitas bangsa.
"Anak-anak kita perlu dibekali kemampuan memproduksi konten yang bernilai, bukan hanya menjadi penonton," ucap Rerie.
Dia mengingatkan bahwa upaya meningkatkan literasi perlu diwujudkan melalui kebijakan dan pembiasaan yang berkelanjutan.
Untuk itu, dia mendorong fokus pembangunan sektor budaya dan pendidikan dimanfaatkan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Ruang digital diharapkan menjadi ruang budaya yang memperkuat karakter dan nilai-nilai kebangsaan.
"Kemajuan teknologi wajib diiringi kebijaksanaan. Jika literasi digital ditanamkan secara konsisten, ruang digital akan menjadi taman budaya yang subur bagi generasi penerus, bukan sekadar arus informasi tanpa arah," katanya.





