jpnn.com - JAKARTA - Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, dilaporkan mengalami dua kali letusan beruntun pada Senin pagi. Salah satu letusan bahkan memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi kurang lebih 950 meter di atas puncak.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan bahwa erupsi pertama terjadi pada pukul 09:11 WIT. Tinggi kolom abu teramati mencapai 950 meter di atas puncak atau berada pada ketinggian 2.037 m di atas permukaan laut.
BACA JUGA: NHM Kerahkan Tim Darurat, Seluruh Korban Erupsi Gunung Dukono Berhasil Dievakuasi
"Kolom abu dari letusan tersebut teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang bergerak condong ke arah barat. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 18 mm dan durasi gempa tercatat selama 38,57 detik," kata dia di Jakarta, Senin (2/11).
Tak lama berselang, lanjut dia, aktivitas vulkanik gunung api aktif tersebut kembali bergejolak. Gunung Dukono tercatat kembali erupsi pukul 09:53 WIT. Namun, tinggi kolom abu pada letusan kedua ini tidak teramati secara visual akibat tertutup awan atau kabut.
BACA JUGA: Pangdam XV/Pattimura Terjun Langsung Bantu Korban Erupsi Gunung Dukono
Letusan kedua tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum yang lebih besar, yakni mencapai 31 mm, dengan durasi gempa selama 44,76 detik.
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Dukono masih berada pada Status Level II atau Waspada.
BACA JUGA: Gunung Anak Krakatau Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Tertinggi 500 Meter
Sehubungan dengan kondisi tersebut, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat di sekitar gunung serta para pengunjung dan wisatawan tidak melakukan aktivitas, mendaki, maupun mendekati Kawah Malupang Warirang dalam radius 4 kilometer dari kawah aktif.
Selain itu, Lana mengingatkan bahwa letusan disertai sebaran abu vulkanik secara periodik kerap terjadi dan arah sebarannya sangat dipengaruhi oleh kecepatan serta arah angin.
Oleh karena itu, masyarakat di sekitar kawasan terdampak diimbau untuk senantiasa menyediakan masker atau penutup hidung dan mulut guna mengantisipasi ancaman bahaya abu vulkanik terhadap kesehatan sistem pernapasan. (antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Kusdharmadi




