Di Tengah Ledakan dan Desing Peluru, Para Pejuang Kembali Kuasai Surabaya

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Suara dentuman, pekik perjuangan, dan kobaran semangat arek-arek Suroboyo seolah kembali menggema di jantung Kota Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (1/11/2026). Jalanan yang sehari-hari dipenuhi deru kendaraan berubah menjadi panggung sejarah.

Dalam Parade Surabaya Juang 2026, ingatan tentang pertempuran heroik 10 November 1945 dihidupkan kembali. Melalui sebuah rekonstruksi teatrikal acara ini mengajak masyarakat menengok salah satu babak paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Bukan sekadar parade yang menampilkan barisan peserta dengan kostum pejuang tempo dulu. Rekonstruksi tersebut menjadi upaya menghadirkan kembali suasana perjuangan ketika rakyat Surabaya memilih bertahan. Pilihan itu terasa sulit karena harus menghadapi kekuatan militer Sekutu yang jauh lebih modern dan lengkap persenjataannya.

Mengusung tema ”Suroboyo Wani”, Parade Surabaya Juang 2026 menghadirkan rangkaian pertunjukan yang menggambarkan perjalanan perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan. Sekitar 2.150 peserta dari berbagai unsur terlibat, mulai dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), TNI, Polri, Paskibraka, komunitas sejarah, hingga elemen masyarakat.

Sepanjang rute parade sekitar 2,5 kilometer, dari kawasan Tugu Pahlawan hingga Balai Pemuda atau Alun-Alun Surabaya, masyarakat diajak menyaksikan potongan-potongan peristiwa sejarah yang pernah mewarnai perjuangan Kota Pahlawan.

Di Jalan Tunjungan, ribuan warga berkumpul di sepanjang rute. Beberapa adalah pelajar yang membawa bendera merah putih. Pekik ”Merdeka” terus diteriakkan oleh para peserta parade. Teriakan itu disambut dengan pekik yang sama oleh para penonton.

Pertempuran Surabaya pada November 1945 bukanlah peristiwa yang lahir begitu saja. Ketegangan bermula setelah pasukan Sekutu datang ke Surabaya dengan membawa kepentingan untuk melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang.

Situasi semakin memanas setelah insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Puncak ketegangan terjadi setelah tewasnya Brigadir Jenderal AWS Mallaby pada 30 Oktober 1945.

Menembus asap. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Tentara Inggris. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Pekik Merdeka. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Sekutu kemudian mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan. Namun, ultimatum tersebut tidak membuat semangat perjuangan rakyat surut.

Pada 10 November 1945, pertempuran besar pun pecah. Dari berbagai penjuru kota, rakyat Surabaya melakukan perlawanan. Tidak hanya tentara dan laskar perjuangan, masyarakat sipil, pemuda, hingga para pelajar turut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan.

Semangat itulah yang coba dihadirkan kembali melalui adegan rekonstruksi dalam Parade Surabaya Juang 2026. Melalui kostum, properti perjuangan, koreografi pertempuran, dan teatrikal, sejarah tidak hanya diceritakan melalui kata-kata, tetapi divisualisasikan menjadi pertunjukan yang dapat disaksikan lintas generasi.

Kegiatan-kegiatan sejenis kemudian menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang saat ini dirasakan bukanlah pemberian melainkan sebuah perjuangan para pahlawan dengan pengorbanan harta benda hingga nyawa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lionel Messi Jadi Pahlawan Inter Miami, Cetak Gol Spektakuler dan Antar Tim Lolos ke Champions Cup
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Saham AS Anjlok, Nasdaq Turun 2,9 Persen Imbas Kinerja Intel dan Amazon
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Konser BTS di SUGBK Tetap Digelar, PPKGBK Bakal Siapkan Live Viewing di Bioskop pada Hari Terakhir
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pemerintah Kaji Kuliah Gratis di PTN, Kemdiktisaintek Bahas Anggaran dan Skema Penerapan Bertahap
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Ganjar Buka Suara soal Suket Ijazah SMA Gibran Dibatalkan MA, Merasa Dicurangi?
• 23 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.