jpnn.com - Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak para santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor untuk memiliki cita-cita besar, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, menjaga akhlak.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Edhie Baskoro Yudhoyono saat memberikan kuliah umum bertajuk “Tantangan Global Kepemimpinan Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045” di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1, Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Jumat (30/10).
BACA JUGA: Ibas Sebut Agrowisata Melon Penggerak Ekonomi di Magetan
Menurut Ibas, memasuki era perkembangan teknologi generasi muda harus mampu beradaptasi dengan kemajuan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
“Perkembangan informasi yang begitu cepat juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam membedakan fakta dan berita bohong, informasi yang benar dan keliru,” kata Ibas.
BACA JUGA: Langen Tayub Pacitan Cetak Rekor MURI, Ibas Dorong Pelestarian Seni Budaya Tradisional
Oleh karena itu, Ibas mengajak para santriwati tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta gagasan dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
“Pertanyaannya, apakah hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau mampu menjadi pencipta gagasan dan menghadirkan solusi?” kata EBY.
Dia menuturkan penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan kekuatan iman dan akhlak.
Santriwati harus mengambil peran nyata dalam membangun masa depan Indonesia.
“Zaman boleh terus berubah, teknologi boleh semakin maju, tetapi iman dan akhlak harus tetap menjadi kompas kehidupan. Jangan sampai kecerdasan membuat kita kehilangan kerendahan hati, kejujuran, dan amanah,” pesannya.
Pendidikan Pesantren dan Disrupsi Teknologi
Ibas menilai pendidikan pesantren memiliki peran penting dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan masa depan, mulai dari kemiskinan, pengangguran, terbatasnya lapangan pekerjaan, meningkatnya biaya hidup, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, menguasai bahasa, memahami teknologi, menghargai perbedaan, serta terus mengembangkan keterampilan dan kreativitas.
Sebelum memberikan kuliah umum, Ibas terlebih dahulu bersilaturahmi dengan jajaran pimpinan dan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan sekaligus membahas peran pendidikan pesantren dalam membentuk karakter dan menyiapkan generasi penerus bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Ibas menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor, para pimpinan pondok, pimpinan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, para kiai, ustaz, ustazah, serta seluruh tenaga pendidik yang telah mendedikasikan diri dalam dunia pendidikan.
Dr. EBY juga mengajak seluruh hadirin untuk mengenang jasa para pendiri Gontor, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi.
Menurutnya, cita-cita besar para pendiri dalam membangun pendidikan yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan pengabdian harus terus dilanjutkan oleh generasi penerus.
“100 tahun Gontor bukan hanya tentang perjalanan sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai perjuangan, ilmu, akhlak, dan pengabdian,” ujar EBY.(era/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




