IHSG Berakhir Positif Walau Volatilitas Tinggi

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Bursa saham Indonesia menguat tipis pada perdagangan Senin (2/11/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.096,83 atau menguat 0,79 persen (39,78 poin) dibandingkan penutupan sebelumnya.

Meski menguat, dinamika ini belum tentu menandakan perubahan tren mengingat evaluasi MSCI dan kondisi ekonomi yang masih membayangi pasar.

IHSG dibuka di zona merah di level 5.039,54. Setelah itu, IHSG terus menanjak. Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG bertengger di level 5.105,20. Nilai transaksi diperkirakan mencapai 6,96 triliun, dengan volume sebanyak 20,89 miliar saham. Frekuensi tercatat sebanyak 939.399 kali.

Pada perdagangan sesi II, IHSG cukup lama bertahan di level 5.100. Namun, IHSG akhirnya ditutup di level 5.096,83 atau menguat tipis dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Nilai transaksi diperkirakan sekitar 10,16 triliun dengan volume perdagangan sekitar 28,77 miliar saham. 

Penguatan IHSG, Senin ini, antara lain didorong oleh saham di sektor bahan material dasar, energi, dan industri yang masing-masing menguat 2,12 persen, 1,53 persen, dan 0,76 persen.

Sementara saham yang lunglai berasal dari sektor kesehatan, properti, dan teknologi masing-masing 0,64 persen, 0,22 persen, dan 0,16 persen.

Ketidakpastian yang tinggi

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai, penguatan itu sebagai technical rebound. Penurunan harga yang cukup besar membuat sejumlah saham kembali menarik bagi investor sehingga mendorong pembelian secara selektif.

Namun, menurut Budi, kekhawatiran terhadap evaluasi MSCI, pergerakan dana asing, dan kondisi ekonomi masih membayangi pasar. Oleh karena itu, kenaikan indeks belum cukup untuk memastikan perubahan arah pasar dari tren melemah menjadi menguat.

Perhatian terutama tertuju pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya perbankan, seperti BBCA, BBRI,

Baca JugaPerhitungan IHSG setelah BEI Depak 80 Saham HSC

Budi menjelaskan, setelah saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dikeluarkan dari perhitungan IHSG, bobot relatif saham lainnya meningkat. Pergerakan saham-saham tersebut pun semakin menentukan arah indeks.

Meski demikian, saham yang menjadi penyumbang terbesar penguatan IHSG tetap perlu dipastikan melalui data perdagangan terbaru. Besarnya bobot suatu saham tidak serta-merta menjadikannya penggerak utama kenaikan pada setiap sesi perdagangan.

Peluang penguatan lanjutan, lanjut Budi, masih terbuka tetapi pasar berpotensi tetap berfluktuasi. Level 5.000 menjadi area psikologis penting, sementara keberlanjutan pemulihan bergantung pada arus dana asing, stabilitas nilai tukar rupiah, perkembangan reformasi pasar modal, dan respons investor terhadap kebijakan Bursa Efek Indonesia.

Tanpa dukungan pembelian yang berkelanjutan, penguatan tersebut berpotensi berlangsung sementara.

Secara terpisah, Investment consultant sekaligus Founder Indonesia Investment Education, Rita Efendy menilai, sektor yang memberikan kontribusi pada penguatan indeks saham terutama dipimpin oleh dua sektor, yakni material dasar dan energi. Namun, penguatan belum merata karena sejumlah saham perbankan besar masih mengalami tekanan jual.

Ia menilai, IHSG ditutup dengan akhir yang positif, meskipun volatilitas tetap tinggi. Support di 5.000–5.050 dan resistance di 5.125–5.150. Selama IHSG bertahan di atas 5.050, peluang rebound masih terbuka. Namun, penguatan ini masih bersifat teknikal dan belum mengonfirmasi pembalikan tren.

Sebelumnya, BEI memberlakukan evaluasi IHSG. Sebanyak 80 saham yang teridentifikasi memiliki konsentrasi kepemilikan sangat tinggi secara resmi dikeluarkan dari perhitungan IHSG. 

Diterbitkannya saham yang masuk dalam daftar konsentrasi kepemilikan sangat tinggi (high shareholding concentration/HSC) menjadi salah satu kebijakan yang dikeluarkan BEI setelah lembaga penyedia indeks global MSCI mengancam, mereklasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market pada 15 Oktober 2026. (Kompas.id, 1/11/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penggeledahan Ponpes di Sukoharjo: Kemenag Kawal Pemulihan Kondisi Santri
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Sidang Eks Jampidsus Febrie Berlanjut Hari Ini, Berikut Agendanya
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Lansia di Sleman Ditemukan Tewas di Sawah dengan Luka Bakar di Tubuh
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Boikot Mbappe Berlanjut, China Tolak Tayangkan Real Madrid
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pramono Lantik Duta Antihoaks Jakarta 2026, Libatkan 356 Pelajar SMA
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.