Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai neraca perdagangan dan inflasi Indonesia masih dalam kondisi baik.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) pada Oktober 2026 menunjukkan inflasi sebesar 0,22 persen dibandingkan bulan sebelumnya (mtm). Secara tahunan (yoy), menunjukkan tingkat inflasi sebesar 3,23 persen.
Sementara itu, kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang September 2026 surplus USD 3,36 miliar.
“Neraca perdagangan 10 bulan (9 bulan), baik. Inflasi juga masih dalam kisaran 2,5 plus minus 1 persen dan secara year-to-date juga masih baik,” kata Airlangga usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Kredit Perempuan Prasejahtera (KPPS) di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2/11).
Saat ditemui di Istana Negara, Airlangga memastikan pemerintah juga tetap mendorong sektor ekspor dan impor. Kemudian, untuk meningkatkan daya beli dalam negeri bakal dimaksimalkan dengan adanya program Nataru.
"Dan juga ada program-program bantuan sosial yang senilai dengan angka sekitar Rp 30 triliun. Jadi kita gelontorkan bantuan agar daya tahan bisa terjaga," ungkap Airlangga.
Kemudian untuk inflasi, Airlangga mengatakan pemerintah mengandalkan bantuan beras sebesar 30 kg per keluarga. Menurutnya, langkah itu bisa menekan inflasi.
"Namun inflasi masih tetap dalam 2,5 plus minus 1 persen, jadi pemerintah tidak khawatir karena yang naik juga terkait dengan penghasilan dari petani, jadi kita biarkan inflasi masih dalam range dengan 2,5 plus minus 1 persen," tutur Airlangga.
Tingkat inflasi tahun kalender per Oktober 2026 mencapai 2,40 persen. Penyumbang inflasi bulanan terbesar pada bulan ini berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 0,51 persen dan andil inflasi 0,15 persen.
Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,09 persen, dengan andil inflasi 0,02 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah tarif angkutan udara.
Kemudian, komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,77 persen, dengan andil inflasi 0,13 persen. Komoditas penyumbang adalah cabai merah, cabai rawit, tomat, sawi hijau, labu siam dan sawi putih.
Komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,12 persen dengan andil inflasi sebesar 0,07 persen. Tidak ada komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan terhadap komponen inti.
Neraca Dagang RI Surplus USD 3,36 Miliar di September 2026Sepanjang September 2026, neraca perdagangan surplus USD 3,36 miliar. Nilai ekspor Indonesia pada periode September 2026 tercatat senilai USD 27,59 miliar atau naik 11,87 persen dibandingkan September 2025 sebesar USD 24,66 miliar.
Nilai ekspor nonmigas pada September 2026 mencapai USD 26,64 miliar atau naik 12,39 persen dibanding September 2025 yang senilai USD 23,70 miliar. Sementara nilai ekspor migas selama September 2026 tercatat USD 0,95 miliar, turun 0,99 persen dibandingkan September 2025 yang tercatat USD 0,96 miliar.
Secara kumulatif, total nilai ekspor sepanjang Januari-September 2026 mengalami peningkatan sebesar 5,58 persen secara tahunan. Pada Januari-September 2025, total ekspor tercatat sebesar USD 209,55 miliar, sementara pada Januari-September 2026 tercatat USD 221,23 miliar.
Sementara itu, nilai impor Indonesia pada September 2026 mencapai USD 24,23 miliar atau naik 18,41 persen dibanding September 2025 yang tercatat USD 20,47 miliar.
Nilai impor nonmigas selama September 2026 tercatat USD 20,96 miliar, naik 17,59 persen dibanding September 2025 sebesar USD 17,83 miliar. Sementara impor migas pada September 2026 senilai USD 3,27 miliar, naik 23,94 persen dibanding September 2025 yang tercatat USD 2,64 miliar.
Secara kumulatif, total nilai impor Indonesia periode Januari-September 2026 mengalami kenaikan sebesar 19,67 persen secara tahunan. Pada Januari-September 2026, impor tercatat sebesar USD 210,63 miliar, sementara pada Januari-September 2025 nilai impor tercatat USD 176,01 miliar.





