Di Balik Kesembuhan Anak, Ada Orang Tua yang Diam-Diam Berjuang

herstory.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
HerStory, Jakarta —

Mendampingi anak yang menjalani pengobatan penyakit serius, terutama di rumah sakit yang jauh dari kampung halaman, bukan perkara mudah bagi orang tua. Selain menghadapi kekhawatiran terhadap kondisi anak, keluarga juga harus memikirkan biaya hidup, akomodasi, hingga tekanan emosional selama masa perawatan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keluarga pasien anak tidak hanya membutuhkan akses pengobatan, tetapi juga support system yang dapat membantu mereka bertahan menghadapi situasi sulit. Salah satunya melalui fasilitas rumah singgah yang memungkinkan orang tua tetap dekat dengan anak sekaligus bertemu keluarga lain dengan pengalaman serupa.

Selama 15 tahun beroperasi di Indonesia, Yayasan Ronald McDonald House Indonesia telah membantu lebih dari 22.500 keluarga pasien anak melalui berbagai program pendampingan. Melalui fasilitas Rumah Singgah, yayasan mencatat 78.202 malam menginap gratis bagi 3.108 keluarga dan membantu menghemat biaya akomodasi serta transportasi hingga sekitar Rp7,82 miliar.

Pentingnya dukungan tersebut terlihat dari pengalaman keluarga Keenan, anak berusia empat tahun asal Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, yang didiagnosis tumor otak. Kedua orang tuanya bahkan rela meninggalkan pekerjaan demi mendampingi pengobatan Keenan di Denpasar, Bali.

Sebelum tinggal di rumah singgah, keluarga tersebut sempat menetap di kos dan menghadapi tekanan emosional selama proses pengobatan. Namun, lingkungan yang mempertemukan mereka dengan keluarga pasien lain memberikan dukungan tersendiri.

“Di sini, saya menemukan keluarga baru. Kami semua pejuang sembuh yang saling support. Saat sebelumnya tinggal di kos, saya dan suami hanya bisa menangis berdua. Di rumah singgah, kami saling merangkul. Energi positif di sini menjadi kekuatan besar bagi keluarga kami,” cerita Dini, ibunda Keenan.

Pengalaman serupa dialami keluarga Angeline (10), pasien asal Rembang, Jawa Tengah, yang harus menjalani perawatan di RSAB Harapan Kita Jakarta setelah didiagnosis mengidap Guillain-Barré Syndrome (GBS) pada Februari 2026.

Ibunda Angeline, Ayu, mengaku perhatian dari orang-orang di rumah singgah membuat keluarganya merasa tidak sendirian selama menghadapi masa pengobatan.

“Di luar ekspektasi kami, semua stafnya sangat peduli, sampai petugas kebersihan juga sudah seperti keluarga sendiri. Tidak ada uang pun tidak apa-apa, yang penting anak bisa sehat. Kebersamaan keluarga sangatlah berharga,” tuturnya.

Saat ini, Yayasan Ronald McDonald House Indonesia mengoperasikan empat Rumah Singgah dengan total 111 kamar pribadi gratis di Jakarta dan Denpasar. Yayasan juga menyediakan dua fasilitas Family Room di RSCM Jakarta dan RSUP Prof. Ngoerah Denpasar yang telah dimanfaatkan 19.589 keluarga.

Ke depan, yayasan berencana memperluas layanan melalui pembangunan Rumah Singgah kelima berkapasitas 33 kamar di RS Kemenkes Surabaya serta fasilitas Family Room di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, Lampung.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Muhammadiyah dukung Polri berantas vape narkoba
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
DTIIF 2026 Resmi Ditutup, Danantara Indonesia Hasilkan Kemitraan Strategis untuk Industri Nasional
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kondisi Demo Mahasiswa Bandung di DPRD Jabar, Tuntut Perbaikan Ekonomi | KOMPAS PETANG
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
PAM Jaya Ungkap Penurunan Muka Tanah di Jakarta Melambat, Ini Datanya
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Kinerja Makin Menguat, Telkom Raup Pendapatan Rp113,5 Triliun melalui Pertumbuhan Empat Segmen Bisnis Utama
• 10 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.