DUNIA rupanya sedang tidak baik-baik saja. Para pemimpinnya gemar bersitegang. Mereka juga gemar panik. Rakyat mereka pun kini dianjurkan bersiap menghadapi keadaan terburuk. Kali ini, bukan anjuran membeli senjata atau membangun bungker. Agak laen, memang. Anjuran penting itu ialah menyetok beras, air minum, obat-obatan, senter, dan baterai.
Inggris, Jepang, Jerman, Taiwan, hingga Amerika Serikat meminta warga mereka memiliki persediaan kebutuhan pokok untuk menghadapi keadaan darurat. Ada yang menganjurkan tiga hari, tujuh hari, bahkan 10 hari.
Bayangkan, negara-negara yang selama ini kita anggap maju, tertib, dan serbatersedia kini mengingatkan rakyat mereka agar jangan terlalu percaya bahwa keran air akan selalu mengalir, listrik senantiasa menyala, dan supermarket pasti buka.
Ada apa gerangan? Apakah kiamat sudah mengirimkan undangan? Tentu tidak. Setidaknya, belum ada yang bisa memastikan. Yang terjadi ialah dunia semakin sadar bahwa kehidupan modern ternyata rapuh. Satu badai besar bisa melumpuhkan kota. Satu serangan siber dapat mengacaukan jaringan listrik. Satu konflik bersenjata sanggup memutus rantai pasokan pangan dan energi.
Di Jepang, kesiapsiagaan sudah menjadi bagian dari kebudayaan menghadapi gempa dan tsunami. Di Taiwan, ancaman bencana bertemu ketegangan geopolitik. Di Eropa, kekhawatiran terhadap konflik, cuaca ekstrem, dan gangguan infrastruktur membuat pemerintah mendorong ketahanan rumah tangga. Pesannya sederhana, yaitu jangan menunggu pertolongan datang untuk sekadar bisa minum.
Lantas, bagaimana Indonesia? Perlukah kita ikut-ikutan menyimpan makanan dan air selama berhari-hari? Menurut saya, perlu. Namun, jangan ikut-ikutan panik.
Kalau urusan panik, bangsa kita sesungguhnya sudah punya pengalaman cukup panjang. Begitu terdengar kabar minyak goreng langka, orang berbondong-bondong memborongnya. Begitu beras dikabarkan naik, sebagian orang mendadak merasa harus memiliki cadangan seperti hendak membuka penggilingan.
Akibatnya, barang yang semula cukup malah menjadi langka. Kepanikan menciptakan kelangkaan, kelangkaan melahirkan kepanikan berikutnya. Sebuah situasi lingkaran setan yang bahkan setannya mungkin ikut kebingungan.
Padahal, Indonesia justru mempunyai alasan lebih kuat untuk membangun budaya kesiapsiagaan. Kita hidup di kawasan cincin api Pasifik. Gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, longsor, hingga kebakaran hutan bukan cerita asing.
Belum lagi ancaman global. Indonesia boleh jadi tidak ikut berperang, tetapi gangguan pelayaran internasional, lonjakan harga energi, atau tersendatnya perdagangan pangan tetap bisa menghantam dapur rakyat.
Karena itu, menyediakan cadangan kebutuhan pokok untuk tiga hari bukanlah tindakan berlebihan. Itu bentuk kewaspadaan rasional. Pemerintah semestinya mulai mengedukasi masyarakat tentang persediaan darurat, jalur evakuasi, komunikasi alternatif, dan pertolongan pertama.
Namun, ada persoalan yang tidak boleh diabaikan. Bagaimana meminta rakyat menyetok makanan untuk tiga hari ketika sebagian bahkan masih kesulitan memastikan makan besok pagi?
Serangan di Iran, 31 Maret 2026. (X/Vahid Online)
Baca Juga :
Iran Sebut Perang Bisa Lebih Meluas di Kawasan jika AS Luncurkan Serangan Baru
Di sinilah kesiapsiagaan tidak boleh berhenti sebagai urusan individu. Negara mesti hadir memperkuat cadangan pangan, logistik kebencanaan, perlindungan sosial, serta distribusi kebutuhan pokok hingga wilayah terpencil.
Jangan sampai pemerintah sekadar menyuruh rakyat bersiap, lalu merasa tugas mereka selesai. Itu sama saja seperti nakhoda membagikan pelampung sambil membiarkan kapalnya bocor.
Ketahanan nasional sesungguhnya dimulai dari ketahanan keluarga, tetapi ketahanan keluarga membutuhkan negara yang bekerja. Dunia boleh dilanda kepanikan. Indonesia tidak perlu tertular ketakutannya, tetapi wajib memetik pelajarannya.
Bersiap menghadapi kemungkinan buruk bukan berarti kehilangan optimisme. Justru orang yang sungguh optimistis tahu bahwa harapan mesti ditemani persiapan.
Kita tidak perlu membangun bungker di halaman rumah. Cukuplah membangun kesadaran, memperkuat solidaritas, dan memastikan negara tidak gagap ketika keadaan darurat datang.
Jangan menunggu bencana mengetuk pintu baru kita sibuk mencari kunci. Apalagi kalau kuncinya ternyata ikut hanyut terbawa oleh banjir.




