Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis ekonomi yang membuat kehidupan masyarakat semakin sulit justru melahirkan fenomena tak terduga di Amerika Serikat (AS) pada dekade 1930-an. Di tengah gelombang pengangguran dan sulitnya mengumpulkan kekayaan, banyak orang mencari hiburan dengan berpura-pura menjadi orang kaya lewat permainan yang kini disebut Monopoli.
Tahun 1932, ketika Depresi Besar masih menghantam perekonomian AS, seorang pengusaha asal Philadelphia bernama Charles Todd bersama istrinya, Olive, memperkenalkan permainan papan bertema properti kepada Charles Darrow dan istrinya, Esther.
Permainan tersebut mengharuskan pemain melempar dadu untuk menggerakkan bidak di atas papan. Setiap kali berhenti di suatu petak, pemain berkesempatan membeli properti atau harus membayar biaya tertentu kepada pemiliknya. Persaingan terus berlangsung hingga ada pemain yang berhasil mengumpulkan kekayaan, sementara lawannya bisa kehabisan uang.
Mengutip The Guardian, keluarga Darrow ternyata sangat menyukai permainan tersebut. Melihat antusiasme itu, Todd bahkan membuatkan satu set permainan khusus untuk mereka dan mengajarkan sejumlah aturan tambahan agar permainan semakin menarik.
Dari sini, permainan tanpa nama itu tersebar secara informal dari lingkaran pertemanan mereka. Namun, karena para pemain berlomba menguasai properti dan mengumpulkan kekayaan, permainan tersebut kemudian dikenal sebagai Monopoli.
Seiring penyebarannya, Monopoli semakin diminati masyarakat. Permainan ini menawarkan pengalaman yang sulit diperoleh dalam kehidupan nyata saat krisis ekonomi berlangsung. Pemain bisa memiliki banyak properti, membangun kekayaan, hingga mengalahkan lawan dalam persaingan bisnis tanpa harus mempertaruhkan kondisi keuangan mereka sendiri.
Selain itu, Monopoli menjadi cara untuk mengisi waktu di tengah ketidakpastian ekonomi. Satu sesi permainan bisa berlangsung selama berjam-jam sehingga keluarga memiliki kegiatan bersama sekaligus kesempatan melupakan persoalan hidup untuk sementara.
Mengutip situs History, popularitas meningkat karena permainan ini memberikan semacam kepuasan psikologis melalui kesempatan mengumpulkan kekayaan dan memenangkan persaingan. Lewat Monopoli pemain bisa berkompetisi dan mengalahkan orang lain tanpa harus menghadapi konsekuensi serius seperti dalam kehidupan nyata.
"Namun, hal yang membuatnya terus diminati adalah peluang untuk meraih keuntungan pribadi. Permainan ini menyasar sifat kompetitif manusia. Seorang pemain bisa saja berkata pada dirinya sendiri, 'Saya akan mengalahkan orang lain.' Selain itu, orang bisa bermain Monopoly tanpa harus menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat krusial-semacam sarana untuk melepas ketegangan hidup sehari-hari," tulis sejarawan Mary Pilon, dikutip dari situs History.
(mfa)




