Meskipun anak muda kian terliterasi dengan persoalan finansial, nyatanya banyak dari mereka yang masih kelimpungan mengatur keuangannya. Lina (22), pekerja media asal Jakarta, misalnya.
Perempuan yang baru setahun bekerja di salah satu perusahaan media di Jakarta Selatan ini mendapatkan gaji sedikit di atas upah minimum regional (UMR), tidak sampai Rp 7 juta. Ia masih melajang dan tinggal bersama kedua orangtuanya. Ia nyaris tidak memiliki tanggungan, seperti kewajiban membayar listrik atau air rumah. Hampir seluruh kebutuhan vital sudah terfasilitasi di rumahnya.
Gajinya boleh dikata hanya untuk menopang kebutuhan pribadinya sehari-hari, terutama biaya makan dan transportasi. Angkutan umum jadi andalannya, baik itu kereta, Transjakarta, maupun ojek daring. Agar bisa menghemat, ia mencari makanan pengisi perut yang tidak terlalu mahal, tidak lebih dari Rp 25.000 sekali makan.
Seharusnya, secara logika, Lina bisa menyisihkan sebagian gajinya untuk menabung atau investasi. Kenyataan tidak demikian. Ia merasa gajinya menguap entah ke mana.
Intuisi menjadi yang paling sering menggerakkan setiap keputusan belanja Lina. Kalau skincare-nya habis, ia langsung mengecek toko daring. Kalau ada barang lucu dan harganya murah, ia langsung beli. Masalahnya, pengeluaran kecil yang tampak kecil dan kurang berarti itu tidak pernah ia catat dengan baik.
Lina paham bahwa setiap pengeluaran harus dicatat. Ia juga tahu, gajinya harus disisihkan untuk menabung. Ia sudah mencoba untuk langsung menyisihkan uangnya ke rekening digital, terpisah dari dana untuk kebutuhan dasar. Namun, karena pengeluarannya tidak menentu, ia sering kendur menabung. Sebaliknya, simpanan yang tersisa malah menipis.
”Aku sadar harus bisa nabung. Aku juga pengin bisa nabung untuk beli gadget baru untuk dipakai kerja. Tapi, ya, lagi-lagi, pengeluaran sekarang nggak menentu. Tahu-tahu, tabungan udah menipis,” tuturnya kepada Kompas, Minggu (1/11/2026).
Cerita lain dituturkan Sylvia (23), yang telah berkecimpung di dunia administrasi dan keuangan selama lebih kurang empat tahun. Namun, kelihaiannya di bidang administrasi dan keuangan ternyata tidak serta-merta membuat pengelolaan penghasilannya tanpa aral. Ia tetap tertantang untuk mengatur gajinya.
Sebagai generasi Z, gaya hidup yang dinamis menjadi rintangan paling berat bagi Sylvia. Sama seperti Lina, pengeluaran mendadak yang tidak tertebak, ditambah pribadinya yang mudah tergiur hal-hal baru yang sedang tren, kerap membuat keuangannya terguncang. Belum lagi, ia masih memiliki beban cicilan ponsel yang harus dibayarkan setiap bulan.
Meski begitu, ia tetap berkomitmen menekan pengeluaran untuk kebutuhan yang tidak terlalu penting. Ia juga rutin menyisihkan gajinya di tabungan bank yang terpisah.
Berbeda dengan Lina dan Sylvia, Izzudin Hamid (23), atau yang akrab dipanggil Izza, mengalami dilema berbeda. Baru setahun lebih bekerja di salah satu media di Jakarta, ia masih memetakan labirin finansialnya dengan hati-hati.
Gajinya hanya sedikit di atas UMR, sekitar Rp 6 juta. Sebagian besar pendapatannya tersedot untuk membayar sewa kos bulanan di Jakarta yang tidak murah dan bahan bakar kendaraan pribadi yang harganya meroket.
Ia memilih cara yang paling sering disarankan perencana keuangan, yaitu memecah pendapatan ke dalam tiga rekening berbeda untuk menampung gaji sekaligus dana darurat, kebutuhan sehari-hari, dan tabungan yang terkunci. Selain itu, ia lebih banyak dikendalikan oleh insting agar tidak boros.
Izza hanya membiasakan diri menyisihkan sedikit uang untuk tabungan masa depannya. Meski disiplin, Izza masih merasa buta arah mengenai tujuan akhir tabungannya.
”Mungkin karena masih awal-awal bekerja juga, baru setahun lebih. Jadi, belum tahu juga sebenarnya tabungan mau dikelola untuk tujuan apa. Masih harus belajar kalau mau coba investasi,” ujarnya.
Lima tahun pertama kerja adalah fase krusial membangun karier dan kemampuan mengelola pendapatan. Namun, untuk menghadapi dinamika ekonomi saat ini, diperlukan juga taktik yang tepat untuk menjamin penghasilan tidak mudah lenyap begitu saja.
Apa yang menjadi permasalahan Lina, Sylvia, dan Izza tidak jauh dari realitas tekanan ekonomi pada masa kini. Menurut laporan Sun Life Indonesia tahun 2025 bertajuk ”Financial Resilience Index”, generasi Z menjadi generasi yang memiliki ketahanan finansial terendah dan paling rentan. Hanya 49 persen generasi Z yang merasa aman secara finansial, tertinggal jauh dibandingkan generasi baby boomer di angka 63 persen.
Dalam laporan yang sama, ditemukan juga 55 persen responden belum merencanakan keuangan dalam rentang satu tahun dan hanya 9 persen yang memiliki strategi hingga satu dekade ke depan. Data ini menunjukkan minimnya perencanaan jangka panjang yang dibutuhkan untuk mencapai ketahanan finansial berkelanjutan.
Perencana keuangan tersertifikasi Ike Noorhayati Hamdan membenarkan, tantangan pekerja muda saat ini jauh lebih berat karena menghadapi beberapa tekanan ekonomi. Salah satu yang paling menghambat adalah inflasi yang sulit diprediksi sehingga membuat banyak harga barang dan jasa melonjak tinggi.
Dengan ketidakpastian tersebut, Ike menilai, hampir sulit untuk mengelola keuangan berdasarkan rumus populer seperti metode pembagian penghasilan 40-30-20-10 atau 50-30-20. Selain itu, konsep dana darurat yang disetel sekian waktu juga perlu ditinjau ulang.
”Dalam kondisi sekarang mungkin harus dicek lagi apakah itu (rumus pengelolaan keuangan) masih relevan jika diterapkan secara plek. Rasanya mungkin sudah tidak realistis,” ucapnya saat dihubungi Kompas.
Maka dari itu, Ike menyarankan agar jurus-jurus perencanaan finansial yang banyak beredar di internet tidak hanya dijadikan sebagai acuan semata, tetapi harus ditopang oleh reality check. Seseorang harus mampu menavigasi apakah ekspektasinya dapat berjalan sesuai dengan realitas atau tidak.
Untuk memudahkan anak muda menavigasi target-target arus pengeluaran mereka, Ike merekomendasikan tiga hal. Pertama, fondasi kebutuhan sehari-hari harus diamankan tanpa terkecuali. Proteksi dasar seperti asuransi kesehatan, baik itu BPJS Ketenagakerjaan maupun BPJS Kesehatan, juga harus aktif.
Kedua, dana darurat dan tabungan yang harus selalu dipersiapkan. Alih-alih mengejar jumlah nominal simpanan yang terlalu tinggi atau mencapai target periode tertentu, kunci utama yang harus dipertahankan saat ini adalah konsistensi kebiasaan menyisihkan uang.
Ketiga, investasi dalam bentuk apa pun. Menurut Ike, investasi tidak harus bermain reksa dana ataupun saham. Investasi juga dapat berupa peningkatan skill ataupun pengetahuan. Investasi otak ini dinilai lebih baik dibandingkan bermain saham yang wajib ditopang ”uang dingin”.
”Justru investasi yang saya sarankan adalah investasi leher ke atas, mumpung masih muda, otak masih bisa diajak kencang,” katanya.
Jika memang ingin berinvestasi, ia merekomendasikan dana yang ada untuk dialokasikan ke dalam dompet digital valas. Cara ini relatif stabil dan sudah banyak difasilitasi oleh bank-bank di Indonesia. Jika dirutinkan, langkah sederhana ini dapat menjaga nilai aset yang dimiliki tidak anjlok.
Di sisi lain, analis pasar senior Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta, mengatakan, tidak ada salahnya berinvestasi sejak dini. Sebab, berinvestasi lebih berfokus pada durasi waktu di pasar (time in the market) daripada mencari momen yang paling tepat (timing the market).
Agar konsistensi menabung dan berinvestasi tetap terjaga di tengah keterbatasan penghasilan dan kenaikan biaya hidup, Nafan menyarankan anak muda memanfaatkan fitur otodebet ke rekening investasi tepat pada hari gajian. Tujuannya, agar dana investasi diperlakukan sebagai tagihan wajib yang tidak bisa diganggu gugat.
Menavigasi kemandirian finansial pada usia dua puluhan bukan sekadar perkara menyisihkan gaji, melainkan seni bertahan hidup dan meredam ego.
Ika menyebutnya ”barikade psikologis”, saat pekerja muda perlu menciptakan batas yang membuat mereka berpikir ulang sebelum menggunakan dana di luar kebutuhan.
Jika pekerja muda memiliki kecenderungan untuk terus mengakses dan mengeluarkan uang, penting membuat batasan diri untuk cash out suatu transaksi. Jika sulit membangun batasan diri, ada baiknya mengakalinya dengan teknologi.
”Sering kali kemudahan teknologi itu mendisrupsi kendali kita. Ketika mau ngeluarin duit, bikin itu jadi repot sehingga kita mikir beberapa kali,” kata Ike.
Nafan juga menegaskan pentingnya kendali gaya hidup dalam kondisi ekonomi saat ini. Setiap pendapatan berlebih sebisa mungkin dialokasikan langsung ke dalam tabungan dan investasi. Evaluasi anggaran secara berkala perlu dilakukan untuk memangkas pengeluaran impulsif atau langganan digital yang tidak lagi efektif.
Kemampuan mengenali prioritas, mengendalikan keinginan, dan menyesuaikan perencanaan dengan kondisi ekonomi menjadi bekal penting untuk melewati masa awal karier. Ketahanan finansial tidak bisa hanya berhenti pada teori, tetapi juga praktik yang sesuai agar ruang bagi masa depan dapat terjamin.





