Washington: Presiden AS Donald Trump pada mengisyaratkan adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran guna menghindari kembalinya perang. Pihak Teheran menyatakan diskusi "intensif" sedang berlangsung, seraya menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat-syarat ketat.
“Kesepakatan dengan Teheran "bisa saja terjadi",” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, sehari sebelum pemilihan paruh waktu (midterm election) AS yang krusial. Ia menambahkan bahwa Iran menginginkan penyelesaian, sesegera mungkin.
Baca Juga :
Dampak Perang AS-Iran Harus Diatasi dengan Kebijakan yang TepatWakil Presiden JD Vance secara terpisah mengatakan ia dan Trump optimistis dapat mencapai kesepakatan.
"Kami tentu telah membuat kemajuan. Kita lihat saja apakah kami bisa mencapai kemajuan lebih lanjut," ujar Vance dikutip dari CNA.
Sinyal diplomatik baru ini muncul menjelang pemilihan paruh waktu hari Selasa, di mana Partai Republik yang mengusung Trump berupaya mempertahankan kendali atas Kongres, meskipun terdapat ketidakpuasan pemilih terkait perang dan kenaikan harga bahan bakar.
Partai Demokrat berharap dapat memenangkan setidaknya sebagian kendali atas Kongres dan memberikan batasan politik terhadap Trump untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada hari Senin bahwa pembicaraan tidak langsung dengan Washington sedang berlangsung melalui pihak penengah.
"Mengingat sensitivitas dan gawatnya situasi saat ini, konsultasi dan pembahasan yang dilakukan sangat intensif," ujar Araghchi dalam sebuah wawancara video dengan kantor berita resmi IRNA. Qatar dan Pakistan memainkan peran mediasi yang sangat aktif dalam negosiasi ini.
Tiongkok juga mendesak agar negosiasi dilanjutkan kembali, sementara kepala keamanan Iran mendiskusikan konflik tersebut dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Sebelumnya, media Axios melaporkan bahwa Vance telah mengirimkan surat kepada kepala keamanan nasional Iran, Mohsen Rezaei, mengenai kemungkinan pembicaraan baru, sebuah langkah tingkat tinggi yang pertama dalam beberapa bulan terakhir.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menyatakan bahwa pesan-pesan yang diterima dari AS merupakan "pengakuan atas kemenangan kami".
Namun, sebelumnya Trump terus melontarkan ancaman terhadap Iran. Dalam sebuah kampanye, ia menyatakan bahwa pada "suatu saat nanti, kita harus memberikan pukulan telak kepada mereka."
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera yang dirilis pada hari Minggu, Araghchi menyatakan Washington harus menerima rute baru, yang telah disepakati antara Iran dan Oman, untuk melintasi selat tersebut.
Ia menambahkan AS juga harus mencabut sanksi-sanksi yang baru saja diberlakukan serta mengurangi jumlah pasukan Amerika di kawasan tersebut. Pada hari Sabtu, Trump mengatakan bahwa ia masih harus "menangani" satu atau dua target, termasuk Gunung Pickaxe di Iran bagian tengah, sebuah lokasi yang dicurigai sebagai fasilitas nuklir, meskipun Teheran membantah bahwa tempat tersebut merupakan fasilitas semacam itu.
Harga minyak, yang sempat melonjak akibat blokade Iran terhadap koridor energi Selat Hormuz, anjlok lebih dari 7 persen pada hari Senin di tengah optimisme akan berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan tersebut. Trump juga menyoroti penurunan harga minyak dalam unggahannya di media sosial.
- URL Berhasil di Salin AS Mengisyaratkan Kemajuan Pembicaraan dengan Iran Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/global/ybDypoZk-as-mengisyaratkan-kemajuan-pembicaraan-dengan-iran





