-
-
-
-
-
Nama Raffi Ahmad saat ini menjadi perbincangan di tengah gelombang kritik dan seruan boikot yang ditujukan kepadanya. Meski telah menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf, namun hal ini nampaknya tidak cukup meredam kritikan dari warganet.
Di tengah kondisi namanya yang sedang panen kritik, unggahan Raffi Ahmad di Instagram Story turut menjadi sorotan. Terlihat suami Nagita Slavina itu membagikan ulang sejumlah unggahan Instagram Story yang menyinggung soal pertemanan dan pentingnya berhati-hati dalam memilih sahabat.
Salah satu unggahan yang direpost Raffi Ahmad membahas sosok teman yang dinilai tidak selalu memberikan dukungan, terutama ketika seseorang sedang menghadapi masalah.
"Dari Raffi Ahmad kita belajar bahwa sahabat tidak selamanya tulus dan selalu memberikan dukungan. Kadang, orang yang kita anggap teman justru menjadi duri dalam daging yang siap menghakimi tanpa ampun," demikian tulisan dalam unggahan tersebut.
Postingan itu juga seolah menyinggung sikap orang-orang yang dianggap terburu-buru memberikan penilaian tanpa mencari tahu persoalan secara menyeluruh. Di akhir tulisan tersebut, terdapat dukungan untuk artis berusia 39 tahun tersebut.
"Tanpa mau mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya, mereka begitu cepat menilai sepihak. Itulah ciri nyata dari orang-orang yang munafik. Keep strong @raffinagita1717," bunyi unggahan tersebut.
Bukan hanya itu, Raffi juga terlihat membagikan ulang unggahan serupa. Kali ini, pesan yang disampaikan dalam unggahan tersebut terlihat secara khusus menyoroti teman-teman yang disebut menjauh ketika seseorang sedang berada dalam masa sulit.
"Dari RAFFI AHMAD kita belajar' bnyak banget teman" yg meninggalkan dia saat dia terpuruk, di saat lagi senang, minta bantuan ada maunya pada mendekat semua. Kasih tau a Raffi buat lebih berhati" lagi pilih kawan, walau niat Raffi baik berkawan dengan mereka, tapi tidak dengan mereka," tulis akun tersebut.
Sebagai informasi, Raffi Ahmad menuai kritikan usai diketahui sempat mengikuti aksi deklarasi sumpah pemuda yang digelar pada 29 Oktober lalu di Bundaran HI, Jakarta. Acara ini dianggap sebagai bentuk pembungkaman lantaran digelar sehari setelah aksi demonstrasi mahasiswa murni di lokasi yang sama namun dilarang oleh aparat kepolisian.





