Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Rupiah terparkir Rp18.159 per dolar AS, atau melemah 7 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.152.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan dari eksternal, perhatian pasar tertuju pada perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran. Laporan mengenai serangan AS terhadap Pulau Qeshm di Iran kembali meningkatkan ketidakpastian geopolitik, meskipun Washington menyebut serangan tersebut bersifat defensif.
Di sisi lain, peluang tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara masih terbuka. Komunikasi diplomatik AS dan Iran terus berlangsung, sementara Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Teheran.
Pasar juga mencermati perkembangan perang Rusia dan Ukraina serta agenda ekonomi AS. Sejumlah data ketenagakerjaan dan aktivitas sektor jasa akan menjadi perhatian investor untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).
Dari dalam negeri, tekanan inflasi pangan menjadi salah satu perhatian. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok akibat gangguan pasokan yang dipengaruhi fenomena El Niño berpotensi menekan daya beli masyarakat dan menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Baca Juga: Tak Lagi Transit ke Singapura, Nyali Bahlil Benahi Alur Ekspor SDA Disebut Untungkan Triliunan Rupiah
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp18.145, Ditopang Surpur Neraca Perdagangan
Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan neraca perdagangan Indonesia. Meski mencatat surplus US$3,36 miliar pada September 2026, pertumbuhan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor berpotensi mempersempit surplus perdagangan apabila berlanjut.
"Untuk perdagangan sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar AS," kata Ibrahim.





