Chicago: Harga emas melemah dalam sesi perdagangan yang fluktuatif pada Selasa, 3 November 2026, di tengah dolar AS yang lebih kuat dan harga minyak yang cenderung stagnan. Para pelaku pasar logam mulia juga mencermati hasil pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS yang krusial.
Dikutip dari Investing, Rabu, 4 November 2026, harga emas spot turun 0,4 persen ke level USD3.930,21 per ons, sementara harga emas berjangka turun 0,7 persen ke level USD3.940,15 per ons.
"Emas terus bergerak di kisaran USD3.900 setelah kembali menguji level dukungan (support) di dekat titik terendah yang terakhir terlihat pada Oktober tahun lalu. Hal ini tentu tidak memberikan banyak keyakinan bagi pihak yang mengharapkan kenaikan harga (bulls), mengingat betapa mudahnya emas menembus ke bawah level dukungan yang telah terbentuk sepanjang musim panas," ujar analis pasar senior di Trade Nation David Morrison Para pedagang mencermati data AS yang kuat dan hasil jajak pendapat Harga emas berada di bawah tekanan dalam beberapa sesi terakhir seiring dengan meredanya tren perdagangan terkait kecerdasan buatan (AI) di Wall Street. Kondisi ini mendorong investor untuk menarik dana dari pasar saham, dolar AS, dan logam mulia, lalu mengalihkannya ke aset-aset aman (safe-haven) seperti obligasi pemerintah AS (Treasury) dan yen Jepang.
Bagi para pengamat kebijakan moneter, kalender ekonomi menunjukkan pasar tenaga kerja AS yang sehat serta pertumbuhan sektor manufaktur yang tangguh.
Berdasarkan laporan Job Openings and Labor Turnover Summary (JOLTS) terbaru, jumlah lowongan pekerjaan pada September tercatat sebanyak 7,523 juta, angka tertinggi sejak bulan Mei. Data ini mengindikasikan kekuatan pasar tenaga kerja menjelang laporan nonfarm payrolls yang sangat dinantikan pada Jumat.
Secara terpisah, Biro Sensus AS melaporkan bahwa pesanan baru untuk barang-barang manufaktur pada September, yang mencatatkan kenaikan selama tiga bulan berturut-turut, meningkat 1,8 persen menjadi USD677,2 miliar. Angka ini melampaui estimasi konsensus yang memperkirakan kenaikan sebesar 1,2 persen.
Baca Juga :
Harga Minyak Stagnan, Brent Masih USD104 per Barel(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Fokus lain pada hari Selasa tertuju pada pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS, di mana jutaan pemilih akan memberikan penilaian terhadap dua tahun pertama masa jabatan Presiden Donald Trump.
Dengan diperebutkannya seluruh 435 kursi di DPR (House of Representatives) dan 35 kursi di Senat, berbagai prakiraan nonpartisan serta pasar prediksi terus mengunggulkan Partai Demokrat untuk kembali menguasai DPR, sementara persaingan di Senat tetap berlangsung sangat ketat.
Kemenangan telak Partai Demokrat atau pemerintahan yang terpecah (divided government) berpotensi menimbulkan kebuntuan legislatif, yang akan meredam ekspektasi akan stimulus fiskal tambahan, sekaligus memicu perdebatan berkepanjangan mengenai batas pengeluaran federal dan plafon utang pada 2027.
Sebaliknya, jika Partai Republik secara tak terduga berhasil mempertahankan kendali atas Kongres, maka jalan bagi penerapan tarif perdagangan yang agresif serta mempertahankan kebijakan pajak korporasi akan tetap terbuka. Harga minyak cenderung stagnan Beralih ke aspek geopolitik, harga minyak cenderung tidak banyak bergerak pada Selasa. Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi acuan global, turun 0,4 persen dan ditutup pada harga USD104,38 per barel.
Kondisi pasar yang lesu ini terjadi setelah Trump menyatakan akan menghentikan bantuan sebesar USD4 miliar kepada Israel pada akhir tahun ini. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebutkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyetujui penghentian bantuan tersebut. Trump juga berpendapat Israel tidak lagi memerlukan pendanaan itu karena telah menjadi negara yang sangat sukses.
Penurunan harga minyak juga terjadi di tengah harapan akan adanya kemajuan diplomatik antara AS dan Iran, meskipun sempat mengalami beberapa hambatan. Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, pada Selasa mengatakan tanggapan Amerika Serikat terhadap usulan Iran untuk mengakhiri konflik tidak meyakinkan.
"Mereka harus menanggapi tujuh syarat Iran secara penuh dan eksplisit serta melaksanakannya. Hanya dengan cara itulah Selat Hormuz akan dibuka kembali," tambah Rezaei.
Syarat-syarat tersebut mencakup tuntutan seperti penghentian permusuhan di semua lini dan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan.
The Wall Street Journal juga melaporkan, dengan mengutip pejabat AS, bahwa Amerika Serikat telah menyerang Pulau Qeshm milik Iran pada hari Senin. Laporan tersebut menyebutkan bahwa serangan itu merupakan bagian dari serangkaian serangan terbatas AS terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir, Washington berupaya menghindari kesan akan kembali melancarkan kampanye militer yang lebih luas. Pulau Qeshm terletak di Selat Hormuz.
Namun, pasar energi tetap merasa optimis menyusul perkembangan pada hari Senin yang dilaporkan oleh media pemerintah Iran, yang menyatakan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei telah memberikan wewenang tertentu untuk menjajaki dialog dengan AS, sebagaimana disampaikan oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.




