TPS Ditutup di Pemilu Sela AS, Demokrat Harap Rebut Parlemen dari Republik

detik.com
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Tempat pemungutan suara (TPS) mulai ditutup pada hari Selasa (3/11) waktu setempat dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS). Partai Demokrat diprediksi berpeluang besar merebut kendali di parlemen dan Senat.

Dilansir AFP Rabu, (4/11/2026), jutaan warga Amerika memberikan suara untuk menentukan apakah kendali Kongres akan direbut dari Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump. Pemilu sela ini diprediksi dapat mematahkan cengkeraman Trump di Washington dan membatasi kekuasaan di sisa masa jabatannya.

Jika Partai Republik kehilangan kendali atas DPR, Partai Demokrat akan memiliki wewenang untuk menghambat agenda legislatif Trump dan meluncurkan penyelidikan menyeluruh terhadap pemerintahannya. Kekalahan di Senat juga akan mengancam kemampuannya dalam menunjuk hakim Mahkamah Agung serta pejabat-pejabat tinggi pemerintahan.

Pemilihan ini menjadi penilaian nasional terhadap Trump, di tengah sentimen publik yang berbalik tajam melawan Partai Republik akibat melonjaknya biaya hidup dan perang melawan Iran.

Baca juga: Pemilu Sela AS Berpotensi Guncang Kepemimpinan Trump

Sebanyak 435 kursi di DPR dan 35 dari 100 kursi di Senat diperebutkan, bersama dengan jabatan gubernur di 36 negara bagian. Partai Demokrat hanya membutuhkan tambahan tiga kursi di DPR dan empat kursi bersih di Senat untuk mengambil alih kedua majelis tersebut dari tangan Partai Republik.

Saat TPS pertama mulai ditutup di Kentucky dan Indiana, pemimpin minoritas Partai Demokrat di DPR, Hakeem Jeffries, mengatakan negara tersebut "berada di ambang perubahan arah yang dramatis."

"Kita berada di ambang momen di mana Partai Demokrat akan kembali menguasai DPR," prediksinya.

Diketahui, Trump kembali menjabat tahun lalu dengan janji untuk menurunkan harga-harga. Namun, inflasi, tarif, dan biaya bahan bakar yang diperparah oleh konflik di Timur Tengah yang ia mulai telah memberikan tekanan berat bagi rakyat Amerika.

Tingkat kepuasan publik terhadap presiden berusia 80 tahun ini tercatat rendah, yakni di kisaran 30 persen, menjadikannya salah satu presiden yang paling tidak populer dalam sejarah.

Baca juga: Pemilu Sela, Akankah Warga AS Persulit Sisa Masa Jabatan Trump?

Taylor Cook, seorang pemilih di Los Angeles, mengatakan keterjangkauan harga dan upaya untuk mengendalikan pemerintahan Trump merupakan dua isu terbesar dalam pemilihan ini.

"Biaya sewa, bahan pangan, tagihan utilitas, dan pajak properti terus naik. Saya menginginkan orang-orang di Kongres yang benar-benar akan melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah biaya ini," ujar pemilih berusia 24 tahun tersebut.

Ketidakpuasan ekonomi

Dalam upaya terakhirnya menjangkau pemilih melalui sambungan telepon di televisi pada hari Selasa, Trump membela kinerjanya. Ia mengeklaim telah membangun kembali negara ini melalui kebijakan imigrasi yang lebih ketat, sikap keras terhadap Iran, serta penerapan tarif.

"Kita harus menjaga Amerika tetap hebat. Saat ini kita hebat. Dua tahun lalu kondisi kita sangat buruk," ujar Trump dalam acara "Fox & Friends."




(yld/maa)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tanggapi Polemik Beeru Stevia, BPOM Segera Panggil Doktif dan Cek Data
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Pengerahan Prajurit Besar-besaran ke Jakarta, TNI: Tak Perlu Dikaitkan Isu Apapun
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Program Bakti untuk Negeri Salurkan Bantuan Sarana Sekolah
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hadapi Libur Natal dan Tahun Baru 2027, Kemenhub Siapkan Penambahan Kapal Penyeberangan
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
LSP jadi Tersangka Penyadapan Prabowo, Menko Yusril Sebut Tidak Terkait Makar
• 15 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.