Penjualan mobil LCGC atau Low Cost Green Car mengalami penurunan di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih mendapat tekanan. Astra melihat kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan pilihan konsumen, yang kini cenderung mempertimbangkan mobil dengan harga lebih terjangkau.
Chief Marketing Auto2000, Yagimin, mengatakan pasar otomotif Indonesia sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan sepanjang 2026. Namun, terdapat pergeseran dari sisi pilihan kendaraan yang dibeli masyarakat.
“Kalau kita melihat dari market otomotif di tahun 2026 ini, itu justru mengalami peningkatan. Cuma memang ada pergeseran,” ujar Yagimin dalam konferensi pers Astra Auto Fest 2026 di Jakarta, Rabu (4/11).
Ia menjelaskan, konsumen yang sebelumnya mempertimbangkan mobil di segmen menengah ke atas kini mulai menahan pembelian. Sebagian dari mereka beralih mempertimbangkan kendaraan dengan harga sesuai kemampuan finansial.
“Customer yang sebelumnya cenderung mencoba untuk membeli mobil yang medium-up, itu mungkin cenderung mulai menahan dan sekarang mulai mempertimbangkan mobil dengan harga yang lebih terjangkau,” katanya.
Menurut Yagimin, pertimbangan konsumen saat membeli mobil juga semakin berkaitan dengan total biaya kepemilikan. Selain harga kendaraan, calon pembeli turut memperhitungkan biaya lain yang harus dikeluarkan selama menggunakan mobil.
“Sekarang yang menjadi pertimbangan bagi customer adalah bagaimana melihat secara total ownership cost. Itu yang menjadi pertimbangan,” ujarnya.
Yagimin menambahkan, sejumlah faktor lain seperti isu perpajakan dan regulasi juga dapat memengaruhi keputusan masyarakat untuk membeli kendaraan. Meski demikian, Astra melihat tren penjualan mobil mulai membaik pada kuartal III dan IV 2026.
Di tengah perubahan tersebut, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperlihatkan penjualan LCGC memang terus menyusut setelah mencapai puncaknya pada 2023. Saat itu, wholesales LCGC tercatat sebanyak 204.705 unit atau berkontribusi 20 persen terhadap total distribusi mobil nasional.
Angka tersebut turun menjadi 176.766 unit pada 2024, meski kontribusinya masih bertahan di level 20 persen. Penurunan semakin terasa pada 2025 ketika distribusi LCGC hanya mencapai 122.686 unit dengan pangsa pasar 15 persen.
Adapun sepanjang Januari-September 2026, wholesales LCGC tercatat sebanyak 83.997 unit. Kontribusinya terhadap total pasar mobil nasional pun semakin mengecil menjadi 12 persen.
Sementara itu, Chief Marketing and Sales Office Astra Credit Companies (ACC), Tan Chian Hok, menilai penurunan penjualan LCGC bukan disebabkan oleh perubahan kebijakan pembiayaan. Ia menyebut kemungkinan adanya pergeseran konsumen ke segmen kendaraan lain.
“Kalau kita melihat penjualan LCGC anjlok 7-11 persen, ini sebenarnya bukan karena pembiayaan mestinya, karena mungkin shifting dari market otomotif. Jadi mungkin ada peralihan, mungkin ada perpindahan dari unit-unit LCGC, naik kelas mungkin bisa saja,” kata Tan.
Ia menegaskan, perusahaan pembiayaan Astra masih mempertahankan kebijakan penyaluran kredit untuk segmen LCGC.
“Pada prinsipnya, kita ini tidak mengubah underwriting kita untuk LCGC. Jadi LCGC itu kita enggak ubah underwriting-nya, tetap sama, baik saya di ACC maupun Toyota Astra Finance,” ujarnya.





