Jakarta, tvOnenews.com - TNI Angkatan Darat melalui Kodim 0102/Pidie bersama unsur terkait melakukan penertiban dan penurunan Bendera Bulan Bintang yang dikibarkan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Meunasah Desa Pulo Keunari, Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, Rabu (4/11).
Peristiwa ini berujung ricuh dan satu orang meninggal dunia.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI Donny Pramono mengatakan, korban meninggal dunia telah dimakamkan pada Kamis (5/11).
“Korban meninggal dunia diketahui bernama Abzalul Riza, warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Jenazah telah dimakamkan pukul 01.00 WIB di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie,” kata Donny, kepada wartawan, Kamis (5/11).
Lebih lanjut, Donny menjelaskan, dalam peristiwa ini total korban tercatat 14 orang, yakni satu meninggal dunia dan 13 lainnya mengalami luka-luka.
“Selain itu, enam personel TNI juga mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis sesuai kondisi masing-masing,” jelasnya.
Adapun Donny menerangkan, sebelum penertiban dilakukan, aparat TNI dan Polri telah mengedepankan langkah persuasif melalui komunikasi dan mediasi dengan panitia penyelenggara agar bendera tersebut tidak dikibarkan.
“Namun, upaya tersebut belum mencapai kesepakatan karena panitia tetap bersikeras mempertahankannya,” terangnya.
Kemudian, TNI AD juga telah melakukan langkah antisipasi terhadap rencana kegiatan Syiar Aceh Merdeka di wilayah Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.
Personel Kodim 0102/Pidie bersama personel Bawah Kendali Operasi (BKO) melaksanakan patroli dan komunikasi sosial dengan masyarakat.
“Kegiatan yang semula direncanakan di Desa Udeung Poroh akhirnya dipindahkan ke Makam Abdullah Syafi’i, Desa Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya,” ucap Donny.
Selanjutnya, dalam proses penertiban yang terjadi di Desa Pulo Keunari tersebut, situasi meningkat dan terjadi aksi pelemparan batu serta kayu ke arah personel TNI.
“Sejumlah orang juga terlihat membawa senjata tajam. Personel telah berupaya menenangkan dan membubarkan massa menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara. Namun, karena massa terus melakukan tindakan anarkis dan keselamatan personel terancam, dilakukan tindakan pengamanan secara bertahap dengan mengeluarkan tembakan peringatan menggunakan munisi hampa, kemudian munisi karet,” jelas Donny.




