JAKARTA -- Ada pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya dipelajari dari buku atau ruang kelas. Salah satunya adalah melihat anak-anak tetap bersemangat menempuh pendidikan di tengah keterbatasan fasilitas. Pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita yang dibawa mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) setelah mengikuti BSI Explore 2026.
Kisah itu mengemuka dalam sesi talkshow mahasiswa pada Awarding Ceremony BSI Explore 2026 di Auditorium UBSI kampus Kramat 98, Jakarta, Rabu (4/11/2026). Empat perwakilan mahasiswa, yakni Jeselyn Christina dari kelompok Tunggaljaya, Regina Pracilla Syifa dari Barugbug, Ineza Citra Aulia dari Kampung Sawah, dan Irvan Syahputra Agustama dari Pantai Bakti, berbagi pengalaman selama menjalankan pengabdian di desa.
- Dukung Potensi Pelajar, BSI Flash Sport Competition Jakarta Jadi Panggung Pembuktian Atlet Pelajar
- Integrasi AI dan E-Commerce, UBSI Perkuat Daya Saing UMKM Global
- Prodi Ilmu Komunikasi UBSI Jalani Asesmen LAMSPAK, Targetkan Akreditasi Unggul
Bagi mereka, BSI Explore bukan hanya kesempatan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Program tersebut juga menjadi ruang untuk memahami kehidupan masyarakat secara lebih dekat, termasuk tantangan pendidikan, kebersihan lingkungan, dan pengembangan ekonomi lokal.
Semangat Belajar Anak Desa Meninggalkan Kesan Mendalam
.rec-desc {padding: 7px !important;}Regina Pracilla Syifa, mahasiswa dari kelompok Barugbug, mengaku pengalaman paling berkesan selama pengabdian justru datang dari anak-anak di desa tempat mereka bertugas.
Regina menceritakan bagaimana keterbatasan ekonomi dan fasilitas pendidikan menjadi bagian dari keseharian yang mereka temui. Bahkan, ada anak-anak yang harus duduk berdekatan karena tidak mendapatkan kursi yang cukup.
“Yang bikin kita terenyuh, anak-anak di sana dengan segala keterbatasannya tetap berjuang menempuh pendidikan dengan serius. Walaupun fasilitas sekolahnya kurang memadai, bahkan ada yang duduknya mepet karena tidak kebagian kursi, semangat belajar mereka luar biasa tinggi,” ungkap Regina, Rabu.
Menurutnya, semangat anak-anak tersebut menjadi pengingat bagi mahasiswa UBSI tentang arti kesempatan dan perjuangan dalam memperoleh pendidikan. Mereka bahkan sempat mengingatkan mahasiswa ketika masa penugasan terasa berjalan terlalu cepat.
Pengalaman itu menjadi salah satu pelajaran berharga bagi Regina dan rekan-rekannya. Di tengah keterbatasan, semangat belajar anak-anak justru menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa yang datang untuk berbagi.
Dari Literasi hingga Digitalisasi UMKM
Pengalaman pengabdian juga diwujudkan melalui program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing desa.
Ineza Citra Aulia dari kelompok Kampung Sawah menjelaskan bahwa timnya berfokus pada literasi dan pembentukan karakter anak. Salah satu program yang dijalankan adalah perpustakaan keliling melalui kerja sama dengan Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang.
Selain itu, mahasiswa turut memberikan edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta membiasakan nilai-nilai positif seperti mengucapkan salam dan terima kasih.
“Di Desa Kampung Sawah, fokus kami ada di bidang literasi dan akhlak. Kami menginisiasi program perpustakaan keliling bekerja sama dengan Perpusda Kabupaten Karawang,” tutur Ineza, Rabu (4/11).
Sementara itu, Irvan Syahputra Agustama dari kelompok Pantai Bakti membawa pengalaman pengabdian yang berfokus pada pemberdayaan UMKM. Timnya membantu pelaku usaha lokal mengenal digitalisasi transaksi melalui penerapan QRIS serta memberikan pelatihan dan pendampingan agar produk lokal memiliki peluang berkembang di era digital.
Irvan mengaku sambutan hangat anak-anak dan warga menjadi pengalaman yang berkesan dalam penugasan pertamanya mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat.
“Pengalaman pertama saya KKM di Desa Pantai Bakti sangat luar biasa. Sambutan anak-anak dan warga sangat hangat dan penuh ceria,” ujar Irvan.
Di kelompok Tunggaljaya, Jeselyn Christina bersama tim menjalankan program pendidikan anak melalui kelas tambahan dan pengenalan literasi. Mereka juga membantu digitalisasi profil sekolah serta mendorong pengenalan potensi desa agar informasi dan kegiatan setempat dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Pengabdian Menjadi Ruang Belajar Tentang Kehidupan
Berbagai cerita yang dibagikan dalam talkshow memperlihatkan bahwa pengabdian masyarakat menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya menjalankan program, tetapi juga berhadapan langsung dengan kebutuhan dan kondisi warga.
Dari kegiatan literasi hingga digitalisasi UMKM, setiap kelompok berupaya menghadirkan kontribusi sesuai potensi dan persoalan di desa masing-masing.
BSI Explore 2026 menjadi pengingat ilmu pengetahuan memperoleh makna lebih luas ketika diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Bagi mahasiswa UBSI, pengalaman tersebut juga membuka perspektif baru tentang kepedulian, tanggung jawab sosial, dan arti menjadi bagian dari perubahan. Hal ini juga mempertegas UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, yang selalu menghadirkan inovasi-inovasi kreatif bagi mahasiswa.
Pengabdian mungkin memiliki batas waktu, tetapi pengalaman yang diperoleh mahasiswa dan hubungan yang terbangun bersama masyarakat diharapkan dapat menjadi bekal untuk terus berkarya setelah kembali ke kampus.



