HARIAN.FAJAR.CO.ID, SORONG – Limbah pertanian dan peternakan yang selama ini belum dimanfaatkan di Kampung Walal, Distrik Salawati, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, mulai dipetakan untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Melalui Program Kosabangsa 2026, petani dan peternak setempat didorong mengembangkan pengolahan limbah sebagai solusi ketahanan pakan ternak sekaligus mendukung ekonomi hijau berkelanjutan.
Upaya tersebut diawali melalui kegiatan sosialisasi dan pengumpulan data dasar (baseline) yang melibatkan 30 anggota Kelompok Tani Sido Makmur dan Kelompok Ternak Walal Jaya pada 19 Agustus 2026 di Gedung Pertemuan Balai Kampung Walal.
Kegiatan yang dilaksanakan tim dari Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong itu menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi potensi sumber daya lokal sekaligus memetakan persoalan yang dihadapi masyarakat dalam pengelolaan limbah pertanian dan peternakan.
Ketua Tim Pengusul, Aci Aprianto, mengatakan Program Kosabangsa tidak hanya berorientasi pada penerapan teknologi, tetapi juga membangun perubahan pola pikir dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi yang tersedia di lingkungan mereka.
Menurutnya, limbah pertanian dan peternakan memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bermanfaat, mulai dari bahan pakan ternak hingga pupuk organik.
” Limbah pertanian dan peternakan perlu dipandang sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan melalui inovasi dan teknologi tepat guna. Potensi ini dapat mendukung ketersediaan pakan ternak, pengolahan pupuk organik, serta penguatan ekonomi masyarakat kampung,” jelasnya.
Anggota tim pelaksana, Susilawati dan Anggita Ekaningtyas Hermawan, turut terlibat dalam sosialisasi, identifikasi persoalan, dan pendampingan kepada kelompok mitra.
Tim menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan agar teknologi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di Kampung Walal.
*Limbah Melimpah, Belum Termanfaatkan
Hasil pendataan awal menunjukkan limbah pertanian maupun peternakan di Kampung Walal tersedia dalam jumlah cukup besar. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok tani dan peternak.
Keterbatasan peralatan serta minimnya pengetahuan mengenai teknik pengolahan menjadi kendala utama yang dihadapi masyarakat.
Padahal, limbah tersebut berpeluang menjadi bahan baku produk bernilai guna. Pemanfaatannya juga dapat membantu menjawab kebutuhan kelompok terhadap ketersediaan pakan dan pupuk.
Ketua Kelompok Ternak Walal Jaya, Tono, mengungkapkan bahwa peternak masih menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak.
Karena itu, dia berharap program tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan teknologi dan pelatihan yang dapat diterapkan secara mandiri oleh kelompoknya.
“Kami butuh teknologi alat kompos dan pelatihan agar kami lebih paham,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, Sukamto, mengaku baru memahami potensi pengolahan limbah pertanian setelah mengikuti sosialisasi tersebut.
“Kami kelompok tani tidak mengetahui ternyata limbah padi dan jagung dapat dibuat menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat,” katanya.
Dukungan terhadap pelaksanaan program juga disampaikan Pemerintah Kampung Walal. Sekretaris Kampung Walal, Rina Nurwati, yang mewakili kepala kampung, menilai kegiatan tersebut relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam mengoptimalkan potensi lokal.
Pemerintah kampung, kata dia, siap memfasilitasi pelaksanaan tahapan program selanjutnya agar pendampingan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Terima kasih sudah memilih Kampung Walal sebagai tempat kegiatan, dan kami sangat berharap ada kegiatan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Hasil pemetaan dan pendataan awal tersebut selanjutnya menjadi dasar bagi tim pelaksana untuk merancang pelatihan serta penerapan teknologi tepat guna sesuai kebutuhan kedua kelompok mitra.
Program ini diharapkan mampu mendorong masyarakat mengembangkan sistem pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan secara terpadu. Dengan demikian, persoalan limbah dapat diubah menjadi peluang ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pakan dan produktivitas peternakan.
Program Kosabangsa 2026 tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Pelaksanaannya melibatkan perguruan tinggi, kelompok masyarakat, dan pemerintah kampung dalam pengembangan inovasi berbasis potensi lokal.(ams)





