Jakarta, CNBC Indonesia - Dua komoditas andalan ekspor Indonesia, minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan batu bara, kompak mengalami tekanan hebat sepanjang perdagangan 2-6 November 2026. Keduanya mencatatkan penurunan tajam setelah gagal mempertahankan penguatan harga pada periode sebelumnya.
Harga CPO Malaysia anjlok 9,04% dalam sepekan, mencatatkan penurunan mingguan terdalam dalam hampir dua tahun. Sementara itu, harga batu bara Newcastle merosot 7,45% setelah mengalami penurunan selama lima hari perdagangan berturut-turut.
Berdasarkan data Refinitiv, harga kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Januari 2027 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup pada level 4.258 ringgit per ton pada Jumat (6/11/2026), turun 423 ringgit dibandingkan penutupan pekan sebelumnya sebesar 4.681 ringgit per ton.
Sementara itu, harga batu bara Newcastle pada kontrak acuan yang tercatat di Refinitiv berakhir di US$141,10 per ton, melemah US$11,35 dibandingkan posisi Jumat (30/10/2026) sebesar US$152,45 per ton.
Penurunan kedua komoditas tersebut dipengaruhi oleh sejumlah sentimen berbeda. CPO tertekan akibat pelemahan harga minyak nabati pesaing serta minyak mentah dunia, sedangkan batu bara menghadapi kekhawatiran terhadap permintaan impor dan kondisi pasokan di pasar Asia.
Di tengah pelemahan harga tersebut, Indonesia juga mengumumkan perkembangan kebijakan ekspor komoditas strategis, termasuk CPO dan batu bara, melalui perubahan peran Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
CPO Anjlok Lima Hari Beruntun, Terparah dalam Hampir Dua Tahun
Harga CPO mengalami tekanan sepanjang pekan tanpa mencatatkan satu pun hari penguatan.
Pada Senin (2/11/2026), harga CPO turun 0,68% menjadi 4.649 ringgit per ton, kemudian melemah 2,11% ke 4.551 ringgit pada Selasa.
Penurunan berlanjut sebesar 1,21% menjadi 4.496 ringgit pada Rabu dan 2,65% menjadi 4.377 ringgit pada Kamis. Tekanan semakin dalam pada Jumat ketika harga anjlok 2,72% ke 4.258 ringgit per ton, penutupan terendah sejak 5 Maret 2026.
Menurut Reuters, pelemahan 9,04% sepanjang pekan menjadi penurunan mingguan terdalam sejak pertengahan Desember 2024. CPO juga mencatatkan penurunan selama dua pekan berturut-turut.
Tekanan utama berasal dari pelemahan minyak kedelai (soybean oil) global. David Ng, pedagang di Iceberg X Sdn Bhd, menyebut penurunan harga minyak kedelai sebagai faktor yang membebani pasar CPO.
Pada Jumat, kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian China turun 1,41%, sedangkan minyak sawit Dalian melemah 2,41%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga terkoreksi 0,53%.
Pelemahan minyak nabati pesaing turut menekan CPO karena komoditas tersebut saling bersaing dalam memenuhi permintaan pasar global.
Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia akibat harapan deeskalasi konflik AS-Iran setelah pemilu sela AS membuat CPO kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di sisi mata uang, ringgit Malaysia melemah 0,3% terhadap dolar AS pada Jumat. Meski membuat CPO lebih murah bagi pembeli asing, pelemahan tersebut belum mampu menahan tekanan jual.
Batu Bara Newcastle Ikut Terpukul, Turun 7,45%
Harga batu bara Newcastle juga mengalami penurunan selama lima hari perdagangan berturut-turut.
Pada Senin (2/11/2026), harga melemah 0,72% menjadi US$151,35 per ton, kemudian merosot 2,54% ke US$147,50 pada Selasa.
Penurunan berlanjut sebesar 1,02% menjadi US$146,00 pada Rabu dan 0,72% ke US$144,95 pada Kamis. Pada Jumat, harga kembali anjlok 2,66% menjadi US$141,10 per ton, sekaligus menjadi penutupan terendah sepanjang pekan.
Koreksi tersebut terjadi setelah harga batu bara sempat mencapai US$156,05 per ton pada 19 Oktober 2026. Dibandingkan posisi tersebut, harga telah turun sekitar 9,58%.
Tekanan berlangsung di tengah kondisi permintaan Asia yang belum sepenuhnya solid, terutama dari China sebagai salah satu konsumen dan importir batu bara terbesar dunia.
Menurut laporan pasar batu bara Sxcoal pada awal November, pembeli China masih berhati-hati meningkatkan pembelian meskipun terdapat kebutuhan pengisian persediaan menjelang musim dingin.
Pemulihan produksi domestik China juga berpotensi membatasi tambahan impor, sehingga menyulitkan harga batu bara internasional mempertahankan penguatan.
Meski demikian, pasokan sejumlah jenis batu bara berkalori tinggi masih relatif ketat. Kebutuhan persediaan musim dingin juga berpotensi memberikan dukungan terhadap harga.
Dengan demikian, pelemahan Newcastle mencerminkan ketidakpastian permintaan dan pasokan, meskipun kondisi pasar batu bara Asia tidak seluruhnya menunjukkan tekanan yang sama.
Aturan Ekspor CPO dan Batu Bara Indonesia Berubah
Di tengah pelemahan harga, pemerintah Indonesia mengumumkan perubahan rencana pengaturan ekspor komoditas strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Menurut Reuters pada Jumat (6/11/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah akan merevisi aturan yang sebelumnya mewajibkan ekspor komoditas strategis melalui perusahaan negara yang ditunjuk setelah 31 Desember 2026.
Melalui perubahan tersebut, DSI akan berperan sebagai badan pemantau ekspor, bukan eksportir tunggal. Komoditas yang tercakup meliputi minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy.
Revisi regulasi ditargetkan selesai pada pertengahan November. Aturan Kementerian Perdagangan juga akan disesuaikan agar eksportir tetap dapat menjalankan aktivitas perdagangan setelah pergantian tahun.
DSI dijadwalkan meluncurkan portal pemantauan ekspor pada 1 Januari 2027, dengan pendaftaran mulai Desember 2026. Eksportir akan menyerahkan dokumen komersial untuk pemeriksaan dan analisis.
Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan transparansi perdagangan sekaligus mengurangi risiko under-invoicing dan transfer pricing.
Namun, biaya verifikasi masih menjadi perhatian. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengingatkan agar biaya DSI tidak terlalu tinggi karena dapat membebani industri dan petani.
Bagi pasar, perubahan ini memberikan kejelasan mengenai kelanjutan ekspor CPO dan batu bara Indonesia. Meski demikian, dampaknya terhadap harga global masih bergantung pada implementasi aturan dan kondisi permintaan internasional.
Prospek Pekan Depan: Tekanan Belum Sepenuhnya Reda
Memasuki perdagangan 9-13 November 2026, CPO dan batu bara masih menghadapi risiko pelemahan setelah mencatatkan koreksi tajam sepanjang pekan.
Secara teknikal, harga CPO di 4.258 ringgit berada di bawah rata-rata lima hari sebesar 4.466 ringgit, rata-rata 10 hari sebesar 4.580 ringgit, dan rata-rata 20 hari sebesar 4.659 ringgit.
Kondisi ini menunjukkan tekanan jual masih dominan. Jika pelemahan berlanjut, harga berpotensi menguji area psikologis 4.200 ringgit.
Sebaliknya, pemulihan akan menghadapi resistance awal di 4.377 ringgit, kemudian 4.496 ringgit. Harga perlu melewati kedua level tersebut untuk menunjukkan perbaikan momentum.
Perdagangan CPO Malaysia juga akan berlangsung lebih singkat karena pasar tutup pada Senin (9/11/2026) untuk hari libur dan kembali dibuka Selasa (10/11/2026).
Sementara itu, harga batu bara Newcastle di US$141,10 berada di bawah rata-rata lima hari sebesar US$146,18, rata-rata 10 hari US$149,04, dan rata-rata 20 hari US$151,29.
Area US$140 menjadi support psikologis terdekat. Jika harga menembus level tersebut, risiko koreksi lanjutan dapat meningkat.
Apabila terjadi rebound, resistance awal berada di US$144,95, kemudian US$147,50. Harga perlu kembali menuju US$150 untuk memperbaiki tren jangka pendek.
Dari sisi fundamental, pasar batu bara akan mencermati kebutuhan impor China menjelang musim dingin, persediaan pembangkit listrik, serta perkembangan produksi domestik.
Secara keseluruhan, kedua komoditas masih menunjukkan kecenderungan bearish. Peluang rebound teknikal tetap terbuka, tetapi pemulihan berkelanjutan membutuhkan perbaikan permintaan dan sentimen global.
(slm/wur)




