Zainal Arifin Mochtar Ajak Mahasiswa UC Surabaya Perkuat Nalar Kritis Melawan Korupsi

beritajatim.com
1 jam lalu
Cover Berita

 

Surabaya (beritajatim.com) – Pakar hukum tata negara Prof Zainal Arifin Mochtar mengajak mahasiswa memperkuat nalar kritis dalam menghadapi persoalan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketimpangan sosial di Indonesia. Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah umum bertajuk “Merdeka tapi Korupsi” di Dian Auditorium, Lantai 7 UC Main Building, Universitas Ciputra (UC) Surabaya.

Kegiatan yang digelar tersebut diikuti ratusan mahasiswa lintas kampus, termasuk Universitas Ciputra dan Universitas Airlangga. Diskusi menghadirkan Prof Zainal sebagai pembicara dengan dipandu Kandi Aryani Suwito, akademisi FISIP UNAIR sekaligus dosen luar biasa UC Surabaya.

Dalam paparannya, Prof Zainal mengkritik anggapan yang menyebut korupsi sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Menurut dia, pandangan tersebut berpotensi mengaburkan batas antara nilai kebudayaan dan tindakan kejahatan.

“Jika korupsi dianggap sebagai budaya, maka seorang koruptor secara keliru dapat disetarakan dengan seorang budayawan,” tegas dia.

Dia menjelaskan kebudayaan merupakan sistem nilai luhur yang diwariskan antargenerasi, sedangkan korupsi merupakan kejahatan struktural yang berkaitan dengan lemahnya pengawasan, hilangnya etika pejabat, dan penyalahgunaan kekuasaan. Pembiaran terhadap praktik tersebut dapat memperburuk kondisi sosial, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan.

Prof Zainal juga menguraikan ketimpangan distribusi kekayaan di Indonesia. Dia menyampaikan data bahwa kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan sekitar 55 juta penduduk.

Menurutnya, konsentrasi kekayaan pada kelompok elite dapat memperlebar kesenjangan dan membatasi akses masyarakat terhadap kesejahteraan. Kondisi tersebut membutuhkan koreksi melalui pengawasan kekuasaan dan keberanian publik dalam memperjuangkan keadilan sosial.

Dalam pembahasan lain, Prof Zainal mengajak mahasiswa menjadikan Pancasila sebagai landasan kritis untuk mengevaluasi penyelenggaraan negara. Lima sila Pancasila, menurut dia, harus tercermin dalam kebebasan beragama, penghormatan terhadap martabat manusia, mekanisme checks and balances, transparansi, serta keadilan sosial.

Menutup paparannya, dia meminta generasi muda mengambil peran dalam menentukan arah masa depan bangsa. Mahasiswa diharapkan tidak menjadi penonton ketika korupsi dan ketidakadilan terus terjadi.

“Anak muda adalah pemilik masa depan. Karena Anda adalah pemilik masa depan, maka Anda harus memimpin di masa mendatang. Itu harga mati!” pungkasnya.[asg/aje]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Korlantas Polri Pastikan Isu SIM Seumur Hidup Hoaks
• 6 menit lalujpnn.com
thumb
Pertamina Tingkatkan Pasokan BBM Lembata Jadi 35 Ribu Liter per Hari, SPBU Baru Mulai Beroperasi
• 41 menit lalupantau.com
thumb
5 Manfaat Menggunakan Eye Mask saat Tidur
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
6 Perilaku Orang Sombong yang Dibenci Semua Orang Menurut Ilmu Psikologi
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Mantan Ketua MK: Penyadapan terhadap presiden bisa mengarah ke makar
• 10 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.