HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAROS– Maros Film Lab (MFL) kembali menghadirkan ruang diskusi seni dan budaya. Pada pertemuan kedua, Sabtu (7/11/2026), MFL mengangkat tema “Dialog Antargenerasi dalam Pewarisan Kearifan Pappaseng” untuk menggali peran nilai-nilai tradisi dalam membentuk karakter generasi muda.
Kegiatan yang diinisiasi Lembaga Latoa tersebut berlangsung di Caffe Baswara, Bontokapetta II, Kelurahan Allepolea, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, mulai pukul 19.30 hingga 23.30 WITA.
Diskusi menghadirkan Badaruddin Dg. Latte sebagai pemantik. Pembahasan berfokus pada pentingnya dialog antargenerasi dalam menjaga keberlangsungan Pappaseng, yakni warisan petuah, nasihat, dan pedoman hidup masyarakat Bugis-Makassar.
Dalam pemaparannya, Badaruddin menekankan bahwa kearifan lokal tidak semestinya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Nilai-nilai di dalamnya tetap relevan sebagai bekal kehidupan yang perlu dimaknai dan dikontekstualisasikan dalam menghadapi tantangan zaman.
“Pappaseng harus tetap hidup, bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga dalam tindakan dan karakter generasi penerus,” tuturnya.
Founder Maros Film Lab, Olank Sukardi, mengatakan pertemuan kedua tersebut berlangsung lancar dan menghasilkan sejumlah gagasan yang berpotensi dikembangkan menjadi karya kreatif lintas disiplin seni.
“Alhamdulillah, Maros Film Lab bulan ini berlangsung dengan lancar. Ada beberapa hal yang sangat menarik untuk kita angkat menjadi karya, baik di bidang seni audiovisual, teater, puisi maupun kesusastraan lainnya. Dalam pemaparan tadi, kami banyak mengenal mengenai peran Pappaseng bagi generasi muda agar tidak kehilangan jati dirinya,” ujar Olank.
Menurutnya, Maros Film Lab tidak hanya menjadi ruang diskusi tentang film, tetapi juga laboratorium gagasan yang mempertemukan pelaku seni, komunitas, generasi muda, dan masyarakat umum untuk mengembangkan ide menjadi karya nyata.
Dialog mengenai Pappaseng, lanjutnya, membuka peluang bagi para seniman dan pegiat budaya untuk menggali kembali nilai-nilai tradisi, kemudian menerjemahkannya ke dalam berbagai bentuk ekspresi kreatif yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Program ini juga dirancang melalui pendekatan kolaboratif dengan melibatkan sejumlah lembaga dan komunitas, yakni Lembaga Karuwisi, Sanggar Seni Asea, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Maros (DKKM), Ruang Rupa, IKA Unhas, serta mahasiswa KKN UNM. Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Melalui forum ini, MFL diharapkan mampu mempertemukan pengalaman dan pengetahuan generasi terdahulu dengan perspektif generasi muda. Pewarisan budaya pun tidak berhenti pada penyampaian lisan, tetapi berkembang melalui dokumentasi, proses kreatif, produksi karya, hingga pertunjukan seni.
Ke depan, gagasan yang lahir dari Maros Film Lab diharapkan dapat diwujudkan dalam berbagai karya, mulai dari film, teater, puisi hingga bentuk kesenian lainnya.
Pertemuan kedua ini sekaligus menegaskan komitmen Lembaga Latoa dalam membangun ruang kreatif yang terbuka dan berkelanjutan bagi perkembangan ekosistem seni dan budaya di Kabupaten Maros. (*)





