HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sejarah maritim Makassar diangkat menjadi sumber inspirasi penciptaan seni kontemporer melalui Sea of Becoming Maritime Arts Festival 2026.
Festival yang digagas Makassar Art Forum (MAF) bersama Dinas Pariwisata Kota Makassar ini akan berlangsung pada 27–29 November 2026 di Pelataran Menara Phinisi, Universitas Negeri Makassar (UNM).
Mengusung tema Makassar: Kota yang Terus Menjadi, festival ini mengajak masyarakat melihat kembali sejarah maritim Makassar melalui berbagai pendekatan seni.
Laut tidak hanya dipandang sebagai batas geografis, tetapi juga ruang perjumpaan, perjalanan manusia, pertukaran pengetahuan, dan pembentukan identitas budaya.
Festival ini melibatkan tujuh seniman rupa, tiga cabang seni pertunjukan, yakni musik, tari, dan teater, serta sinematografi. Beragam karya yang ditampilkan diharapkan menghadirkan perspektif baru tentang hubungan Makassar dengan sejarah pelayaran dan kebudayaan dunia.
Direktur Makassar Art Forum, Andre Prakarsa, mengatakan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kerja-kerja kebudayaan dan kesenian yang pernah dilakukan melalui Makassar Arts Forum pada 1999. Kali ini, penyelenggaraannya diperkuat melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kota Makassar, khususnya Dinas Pariwisata.
Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan seni dan budaya sehingga memberikan dampak terhadap perkembangan Kota Makassar. Termasuk memperkuat posisi Makassar sebagai ikon penyelenggaraan event berskala lokal, nasional, hingga internasional.
Kurator Pertunjukan, Ramli Prapanca, menjelaskan, laut menjadi titik awal dalam membaca kembali sejarah dan perjalanan kebudayaan Makassar. Jejak maritim kota ini memiliki jangkauan luas, mulai dari hubungan antarpulau di Nusantara hingga koneksi dengan wilayah lain seperti Cape Town dan Australia.
Pengalaman sejarah tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam karya-karya seni kontemporer. Seniman diberi ruang untuk menafsirkan perjalanan, perjumpaan, dan pertukaran budaya sesuai pendekatan artistik masing-masing.
Salah satu karya yang dihadirkan berupa ikon interaktif berjudul Arus yang Menghubungkan, dengan keterlibatan Faisal Syarif, Jenri Pasassang, dan Komet.
Ketua Dewan Kesenian Sulsel, Arifin Manggau, mengapresiasi penyelenggaraan festival tersebut. Dia menilai, kegiatan seni semacam ini penting untuk memperkaya pilihan pertunjukan dalam agenda pariwisata Kota Makassar yang selama ini dinilai cenderung menghadirkan penampilan serupa.
“Setiap kegiatan seremonial, penarinya selalu sama. Sehingga ini bisa menimbulkan kejenuhan. Padahal, berdasarkan data BKK, Kota Makassar memiliki 442 sanggar kesenian,” ujarnya.
Dia berharap, kehadiran festival ini dapat membuka ruang lebih luas bagi seniman dan komunitas seni untuk menampilkan karya. Dukungan pemerintah, khususnya dari sisi pembiayaan dan penganggaran, juga diharapkan dapat ditingkatkan agar kegiatan serupa berlangsung secara berkelanjutan dan berkembang menjadi event internasional.
Direktur MAF, Wildan Nomeiru mengatakan dari sisi konsep, Sea of Becoming dibangun melalui empat perspektif kuratorial, yakni Jejak Laut, Arus, Pertemuan, dan Menjadi.
Keempatnya menjadi landasan pengembangan program yang mencakup pameran, pertunjukan, serta forum dialog. Festival ini juga menjadi edisi perdana atau tahap percontohan dari peta jalan pengembangan Makassar Art Forum periode 2026–2030.
“Ke depan, MAF menargetkan Sea of Becoming berkembang menjadi platform kebudayaan maritim yang mempertemukan riset, penciptaan seni, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi lintas budaya,” tuturnya.
Kata dia, berlandaskan nilai sipakatau, festival ini juga diharapkan menjadi ruang untuk merawat penghormatan terhadap martabat manusia, keberagaman, dan hubungan antarkebudayaan. (wis)





