Lewat Cerita, Anak-anak SD Suarakan Pesan Toleransi dan Kemanusiaan

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Pengalaman menghadapi perbedaan di lingkungan sehari-hari menjadi inspirasi bagi sejumlah siswa sekolah dasar (SD) untuk menyampaikan pesan toleransi melalui cerita.

Beragam pengalaman tentang perbedaan dituangkan siswa SD dalam karya storytelling. Mulai dari budaya Sound Horeg di Kabupaten Malang hingga kisah diskriminasi karena latar belakang keluarga, cerita mereka mewarnai ajang Youth Storytelling Competition for International School Students 2026.

Kompetisi yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) itu mengusung tema “Stories for the World: Tolerance, Humanity, and Peace”. Melalui beragam karya, para peserta diajak menyampaikan pesan toleransi, kemanusiaan, dan perdamaian dengan pendekatan kreatif.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, kompetisi tersebut menjadi salah satu upaya untuk menghidupkan kembali tradisi bercerita di tengah generasi muda.

“Nah, salah satu elemen yang ingin kita kedepankan sekarang ini adalah tradisi bertutur, tradisi bercerita, storytelling, yang juga merupakan budaya kita yang perlu kita rawat, kita lindungi, dan kita kembangkan, bahkan kita hidupkan, kita manfaatkan,” terang Fadli dalam agenda Closing of Youth Storytelling Competition for International School Students 2026 di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Minggu (8/11).

Menurut dia, cerita rakyat dan tradisi bertutur Indonesia perlu terus diperkenalkan kepada anak-anak.

“Ini merupakan salah satu budaya yang sebenarnya hidup dari turun-temurun, cerita-cerita, dongeng yang sudah ada, mungkin banyak sekali tantangan-tantangannya sekarang,” ujarnya.

Fadli menilai, tradisi mendongeng yang dahulu banyak dilakukan orang tua kepada anak-anak kini semakin berkurang. Karena itu, ia berharap kompetisi storytelling dapat menjadi salah satu platform untuk memperkenalkan cerita Indonesia kepada generasi muda, termasuk siswa sekolah internasional dan bilingual.

“Di sinilah saya kira kita butuh satu platform, salah satunya adalah kegiatan dari Youth Storytelling Competition ini for International School Students, ya termasuk yang mempunyai bilingual, dan dilaksanakan dalam bahasa Inggris,” ucap Fadli.

“Kita berharap, ini merupakan bagian yang sangat penting sesuai dengan misi dari Kementerian Kebudayaan, untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia,” sambungnya.

Kompetisi tahun ini diikuti 765 peserta dari 25 provinsi. Fadli pun berharap para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut dapat menjadi duta budaya Indonesia dan membawa cerita-cerita lokal ke dunia melalui kemampuan berbahasa mereka.

“Melalui kegiatan ini mereka yang berpartisipasi menjadi pemenang, bisa menjadi duta-duta budaya kita, dan dalam hal ini kita majukan tradisi atau budaya bercerita, bertutur, dan membawa cerita-cerita kita ini ke dunia,” tandasnya.

Sound Horeg dan Perbedaan Budaya

Salah satu cerita yang mengangkat perbedaan budaya datang dari Adiradya Renata (9), siswi SD Cikal Surabaya.

Ia meraih juara harapan III kategori Written Narrative tingkat SD melalui cerita yang terinspirasi dari Sound Horeg, budaya yang sedang populer di Kabupaten Malang.

Dalam ceritanya, Dira menghadirkan dua tokoh utama, yakni seorang anak Indonesia dan anak Korea. Konflik muncul ketika tokoh Indonesia memaksakan temannya yang berasal dari Korea untuk menyukai sound horeg, meski suara musik yang keras membuatnya tidak nyaman.

“Teman yang orang Indonesia ini memaksakan ada orang Korea ini untuk suka juga dengan sound horeg, tapi budaya di Korea bukan seperti itu karena suaranya terlalu nyaring dan itu membuat tidak nyaman, sehingga terjadilah perdebatan atau konflik di sana,” kata ibu Dira, Yunita, saat ditemui kumparan, Minggu (8/11).

Perbedaan pendapat tersebut kemudian berujung pada rekonsiliasi. Kedua tokoh belajar menerima bahwa setiap orang memiliki pandangan dan kenyamanan yang berbeda.

“Nah akhirnya mereka bisa melakukan rekonsiliasi, saling berdamai begitu dan menerima pendapat satu sama lain,” ujarnya.

Sang ibu mengatakan, Dira menyusun cerita tersebut melalui proses diskusi, membaca sejumlah contoh cerita, hingga membuat kerangka tulisan. Prosesnya pun berlangsung kurang dari tiga hari.

“Setelah kami berdiskusi tentang tema cerita, apa yang diminta oleh panitia penyelenggara, Dira kemudian brainstorming dengan membaca beberapa contoh cerita, terus dia kemudian melakukan drafting cerita,” sebut Yunita.

“Drafting cerita dulu, bikin kerangka karangannya, terus menentukan tokoh utamanya, konflik yang mau diangkat seperti apa yang mau dikembangkan, jadi sebuah paragraf. Terus paragraf selanjutnya seperti itu,” jelas sang ibu.

Lomba ini menjadi pengalaman pertama bagi Dira dalam bidang literasi. Menurut Yunita, selama ini Dira lebih sering mengikuti kompetisi matematika.

Ketika ditanya mana yang lebih menyenangkan, Dira mengaku lebih menyukai lomba storytelling.

“Lebih seru storytelling. Soalnya kalau matematika, soalnya lebih sulit. Storytelling bisa mengarang cerita,” ungkap Dira.

Mengangkat Kerukunan melalui Gambar

Pesan toleransi juga disampaikan Nawacita Hanan (10), siswi SD Mutiara Harapan International School, Riau.

Dia meraih juara harapan III kategori Visual Narrative tingkat SD melalui karya yang mengangkat tema berbagi bekal. Cerita Nawacita menyiratkan pesan kemanusiaan dan kerukunan antaragama.

“Jadi dia mau mengangkat tentang tema kemanusiaan dan toleransi. Mungkin di dalam ceritanya bisa dilihat ada kerukunan antar agama. Tersirat,” jelas sang ibu, Fitria.

Menurut Fitria, karya visual tersebut dibuat dalam waktu sekitar dua hari tanpa latihan khusus.

“Sama sekali tidak ada latihan. Sangat dalam waktu yang sangat singkat. Sebenarnya sih, to be honest, ini dikerjakan dalam waktu 2 hari saja,” ungkapnya

Nawacita mengikuti kompetisi setelah mendapat kesempatan dari sekolah. Karena tertarik menggambar, ia pun memilih kategori Visual Narrative.

“Sekolah dapat undangan bahwa ada lomba dari kementerian. Jadi dia diambil untuk kategori Visual Narrative. Dan dia tertarik karena suka menggambar,” tutur Fitria.

Sama seperti Dira, Nawacita sebelumnya lebih sering mengikuti lomba matematika, sains, dan bahasa Inggris.

Kendati baru pertama kali mengikuti kompetisi seni visual, Nawacita mengaku ingin terus mengembangkan kemampuan menggambar sekaligus mempertahankan minatnya di bidang akademik.

“Dua-duanya,” jawab Nawacita.

Pengalaman Diskriminasi Menjadi Cerita

Sementara itu, Ramy Ismail (11), siswa Al-Jabr Islamic School, Jakarta Selatan, meraih juara harapan III kategori Oral Narrative tingkat SD. Dalam kompetisi tersebut, ia mengangkat pengalaman diskriminasi yang dialami kakaknya sebagai inspirasi cerita.

Cerita berbahasa Inggris tersebut merupakan karya orisinal yang didasarkan pada pengalaman nyata keluarga Ramy. Ia mengangkat pengalaman kakaknya yang kerap dipanggil “Arab” karena memiliki keturunan Arab, meski lahir dan besar di Indonesia.

“Nah, selama itu tu ada ngalamin ya, dipanggil-panggil Arab gitu, abis itu padahal kita kan pure Indonesia asli Indonesia, lahir di sini juga gitu,” kata ibu Ramy, Nisrin.

Pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi cerita yang menyampaikan pesan tentang penerimaan terhadap perbedaan latar belakang.

Ramy bercerita, ia mengenakan kostum sepak bola saat tampil karena cerita yang dibawakannya berlatar di lapangan bola, tempat kakaknya mengalami kejadian tersebut.

“Karena itu tempatnya di lapangan bola, abis itu kakaknya aku dipanggil Arabnya itu pas lagi story-nya di lapangan bola juga,” kata Ramy.

Dalam prosesnya, Ramy harus menghafal seluruh cerita dalam bahasa Inggris karena video kompetisi tidak boleh dipotong atau diedit. Jika lupa, ia harus melakukan improvisasi agar cerita tetap berjalan.

“Mungkin yang paling sulit di sini tuh harus hafal ya. Kan tidak boleh di-cut ya, waktu divideoin itu kan gak boleh cut off kan. Jadi dia harus hafal every words terus kalau misalnya dia lupa dia harus improvisasi,” terang sang ibunda.

Berangkat dari pengalaman perdananya di kompetisi ini, Ramy mengatakan tertarik mencoba kategori lain pada kesempatan berikutnya.

“Pengen ikut film naratif,” ucap Ramy.

Mengajak Teman Menerima Perbedaan

Cerita tentang penerimaan terhadap perbedaan juga menjadi tema karya Aileen Jesse Hendrata (9), siswi Sekolah Santa Laurensia Alam Sutera yang meraih juara kedua kategori Visual Narrative tingkat SD.

Aileen mengisahkan seorang anak yang berbeda dari teman-temannya. Setiap hari, anak tersebut duduk di kursi yang selalu kosong di sebelahnya.

Suatu hari, seorang anak terpeleset saat hujan. Ia kemudian dibantu oleh anak yang selama ini berbeda dari teman-temannya, sementara anak-anak lain hanya melihat kejadian tersebut.

Keesokan harinya, tokoh utama dalam cerita Aileen menarik kursi kosong di sebelah anak tersebut. Perlahan, teman-teman lainnya ikut melakukan hal yang sama.

“Hari esoknya saya melihatnya dan akhirnya menarik kursi yang selama itu kosong. Satu per satu anak-anak yang lain saling mengikuti,” kata Aileen saat menceritakan karyanya.

Aileen mengatakan, ia menyelesaikan karya tersebut dalam waktu sekitar dua hari. Namun, jadwal les yang padat membuatnya sedikit kesulitan mengatur waktu selama proses pengerjaan.

“Ada sih. Jadi saya aslinya punya les setiap hari. Jadi untuk ngatur jadwal agak kesulitan,” ungkap dia.

Aileen kembali mengikuti kompetisi ini setelah tahun sebelumnya juga berpartisipasi dalam kategori Visual Narrative.

“Jadi awalnya dari sekolah sih pengumuman, ada memang storytelling, lomba storytelling dan kebetulan tahun lalu Aileen sudah pernah ikut sih Visual Narrative juga di kompetisi yang sama. Storytelling dari kementerian juga,” tutur Sagita, ibu Aileen.

Sagita mengatakan, Aileen memutuskan untuk kembali mencoba setelah mendapat pengumuman mengenai kompetisi tahun ini.

“Dan kebetulan tahun lalu dia first aspiring winner, dan tahun ini ketika ada lagi pengumuman perlombaan dia bilang, ‘Mama, I want to try again,’ katanya. Coba lagi, dan akhirnya kebetulan dia agak padat kan acara, jadi dia tuh udah agak mepet tuh sebenarnya, udah ragu-ragu ikut nggak, tapi yaudahlah kita coba,” lanjut Sagita.

Menurut Sagita, Aileen memang cukup menyukai kompetisi dan menggambar. Ia juga menilai sang anak memiliki ide-ide yang kreatif.

“Iya, kebetulan emang anaknya cukup kompetitif ya, jadi emang suka yang berhubungan dengan lomba. Dan emang suka gambar juga, kebetulan ide-idenya cukup out of the box kadang-kadang, jadi, ‘Mama, ayolah cobain’,” kata Sagita.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenhub Siapkan Program Mudik Gratis Nataru 2026/2027, Simak Cara Daftarnya
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pasar Motor Indonesia Kembali Loyo
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Promo Superindo Hari Ini Terbaru 8 November 2026, Diskon Mama Lemon Rp16.900
• 21 jam laludisway.id
thumb
Empat Mahasiswa Tertimpa Pohon Tumbang di Curug Lawe Kendal, Seorang Tewas
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hutchinson balas kekalahan dari Buatsi untuk rebut sabuk WBC
• 18 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.