Zelenskyy Ditekan AS untuk Segera Sepakati Perdamaian dengan Rusia di Tengah Krisis Internal Ukraina

pantau.com • 13 jam yang lalu
Cover Berita

Pantau - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menghadapi tekanan baru dari Amerika Serikat untuk segera menyepakati perjanjian damai dengan Rusia, di tengah intensitas serangan militer Moskow, krisis politik domestik, dan skandal korupsi di dalam pemerintahan Ukraina.

Tekanan ini muncul setelah adanya perundingan antara delegasi Ukraina dan Amerika Serikat yang berlangsung di tengah upaya penyelesaian konflik berkepanjangan.

Menurut laporan Washington Post, tekanan dari AS terhadap Zelenskyy diperkirakan akan meningkat dalam waktu dekat untuk mempercepat proses perdamaian.

Delegasi Ukraina dan Krisis Kepercayaan Pemerintahan

Presiden Zelenskyy pada Jumat mengumumkan bahwa perwakilan Ukraina dalam perundingan meliputi Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina Andrii Hnatov, Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional (NSDC) Rustem Umerov, serta sejumlah pejabat dari Kementerian Luar Negeri dan badan intelijen.

Namun, skandal korupsi di internal pemerintahan Ukraina telah memperburuk kepercayaan publik dan membuka tekanan dari dalam negeri.

Para pemimpin oposisi mulai menyerukan perombakan total kabinet, sementara parlemen Ukraina menyoroti kurangnya reformasi signifikan.

Anggota parlemen Ukraina, Volodymyr Ariev, mengkritik langkah Zelenskyy yang dianggap tidak menyentuh akar permasalahan.

"Alih-alih melakukan perubahan nyata dalam pemerintahan, Zelensky justru hanya mengganti figur yang terlibat skandal korupsi (mantan kepala kantor kepresidenan, Andriy Yermak) dan menunjuk figur bermasalah lainnya (Rustam Umerov) sebagai kepala tim negosiasi," ungkap Ariev.

Rencana Perdamaian Baru dan Respons Rusia

AS diketahui telah mengajukan rencana perdamaian baru untuk Ukraina, dengan draf awal berisi 28 poin yang kemudian direvisi menjadi 19 poin setelah pertemuan antara pejabat Amerika Serikat, Ukraina, dan Eropa di Jenewa pada 23 November.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin pada 21 November menyatakan bahwa rencana perdamaian baru dari Presiden AS Donald Trump dapat dijadikan dasar dalam penyelesaian akhir konflik di Ukraina.

Dari pihak Rusia, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa keputusan untuk memulai negosiasi harus datang dari Kiev.

Ia juga menyebut bahwa kemampuan Ukraina dalam membuat keputusan secara bebas semakin berkurang akibat tekanan militer yang terus dilancarkan Rusia di medan perang.

Rusia masih melanjutkan operasi militernya, menjadikan situasi politik di Kiev semakin kompleks dan berisiko bagi stabilitas regional maupun domestik Ukraina.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Baca juga:

thumb
thumb
thumb
thumb
thumb
Berhasil disimpan.