Hari Guru dan Harapan Sederhana: Sekolah yang Lebih Manusiawi untuk Semua

kumparan.com • 13 jam yang lalu
Cover Berita

Setiap tahun, Hari Guru datang sebagai pengingat bahwa pendidikan tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan. Ada harapan, ada kegembiraan, tetapi juga ada kenyataan pahit yang sering tidak kita lihat. Guru tetap berdiri di kelas, mengajar dengan segala keterbatasan, meski dunia pendidikan berubah lebih cepat daripada kebijakan yang harus mereka jalankan.

Di banyak sekolah, guru tidak hanya mendidik, tetapi juga menjadi orang tua kedua, konselor, penjaga keamanan, bahkan kadang menjadi pihak yang harus menerima kemarahan orang tua. Ketika ada murid yang sulit diatur, gurulah yang dipersalahkan. Ketika nilai ujian turun, gurulah yang dituding kurang kompeten. Padahal tidak semua masalah bisa mereka kendalikan, terutama jika fasilitas minim dan tenaga pendamping kurang.

Isu guru yang dilaporkan ke polisi hanya karena menegur murid bukanlah cerita baru. Birokrasi sekolah yang semakin berat juga membuat guru lebih banyak di depan layar laptop daripada di depan murid. Ini membuat kita bertanya: apakah sekolah masih menjadi ruang aman bagi guru untuk mendidik?

Padahal, nilai “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dalam Pancasila mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses manusia mendidik manusia lain. Guru membutuhkan perlindungan moral dan struktural. Pasal 31 UUD 1945 menegaskan bahwa negara bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa — dan itu tidak mungkin terjadi jika guru tidak diberdayakan.

Di sisi lain, kita juga perlu jujur bahwa tidak semua guru mendapat kesempatan yang sama. Guru honorer masih banyak yang bekerja dengan gaji tidak layak. Ada yang mengajar bertahun-tahun tanpa kepastian status. Mereka tetap datang, tetap mengajar, meski pengakuan negeri ini tidak selalu selaras dengan pengorbanan mereka.

Namun meski begitu, banyak guru yang tetap bertahan. Ada yang menempuh perjalanan jauh melewati jembatan rapuh hanya untuk tiba tepat waktu. Ada yang membeli alat peraga dari uang sendiri agar murid-murid bisa belajar lebih baik. Ada yang tetap memberi motivasi meski dirinya sendiri sedang kelelahan. Kisah-kisah kecil ini nyaris tidak pernah masuk berita, tetapi justru di situlah letaknya kekuatan pendidikan Indonesia.

Perayaan Hari Guru seharusnya tidak berhenti pada upacara, unggahan media sosial, atau ucapan terima kasih. Yang lebih penting adalah memastikan sekolah menjadi tempat yang aman untuk berpikir, berdiskusi, dan berbeda pendapat — baik bagi guru maupun murid. Itu adalah inti dari semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menghargai keberagaman.

Jika kita ingin masa depan pendidikan lebih baik, maka pusatnya adalah guru yang dihargai dan diperlakukan dengan adil. Guru bukan hanya bagian dari sistem pendidikan — mereka adalah penopang utama. Tanpa mereka, gedung sekolah hanya menjadi bangunan kosong tanpa makna.

Hari Guru adalah pengingat bahwa meningkatkan kualitas pendidikan bukan hanya soal kurikulum atau teknologi. Ini tentang memperlakukan guru sebagai manusia, bukan mesin. Karena dari tangan merekalah masa depan bangsa ini dibentuk, perlahan namun pasti.

Dan mungkin, hadiah terbaik untuk Hari Guru bukanlah bunga atau kartu ucapan. Tetapi kebijakan yang lebih manusiawi, ruang kelas yang aman, dan masyarakat yang mau mendengar sebelum menghakimi. Jika itu terwujud, barulah penghormatan kepada guru terasa nyata, tidak hanya setahun sekali.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Baca juga:

thumb
thumb
thumb
thumb
thumb
Berhasil disimpan.